Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Muhammadiyah Gelar Tanwir dan Milad ke-114 di Palu, Usung Tema Bersama Satukan Bangsa

Kompas.com, 12 September 2026, 19:07 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah akan menggelar Tanwir dan Milad ke-114 di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada November 2026.

Mengusung tema "Bersama Satukan Bangsa", agenda tersebut menjadi momentum Muhammadiyah untuk merespons dinamika sosial dan politik dengan menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan persatuan.

Baca juga: Ketua PP Muhammadiyah: Jadi Apa Saja, Kenali Islam Jadi Lebih Baik

Muhammadiyah Dorong Persatuan di Tengah Perbedaan

Dilansir dari Antara, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, tema "Bersama Satukan Bangsa" berangkat dari pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia.

Menurut Haedar, semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu merupakan modal penting dalam menjaga persatuan bangsa.

Prinsip tersebut dinilai relevan untuk menghadapi dinamika kehidupan berbangsa, termasuk perbedaan pandangan dalam persoalan sosial dan politik.

Baca juga: Dari Yogyakarta Menjangkau Dunia, Jejak Panjang Persebaran Muhammadiyah sejak 1912

"Secara normatif dan realitas kita memang punya modal besar untuk terus bersatu dalam keragaman dan Bhinneka Tunggal Ika," katanya.

Ia mengatakan perbedaan pendapat yang muncul dalam kehidupan berbangsa seharusnya disikapi melalui dialog dan upaya mencari titik temu.

"Perbedaan pendapat yang tajam mestinya kita bisa berdialog, kita bisa mencari titik temu, mencari moderasi," ujarnya.

Tanwir Muhammadiyah Bahas Program 25 Tahun ke Depan

Haedar menjelaskan, sidang Tanwir Muhammadiyah di Kota Palu direncanakan berlangsung sekitar November. Salah satu agenda utama dalam sidang tersebut adalah merumuskan program strategis Muhammadiyah untuk 25 tahun mendatang.

Menurut dia, Muhammadiyah sebelumnya telah memiliki program strategis dengan rentang waktu lima hingga 25 tahun sejak 2000. Karena periode program tersebut telah berakhir, organisasi perlu menyusun kembali arah program strategis untuk periode berikutnya.

"Muhammadiyah ini sejak tahun 2000 itu punya program strategis lima tahun sampai 25 tahunan dan sekarang periodenya sudah habis, maka perlu dirumuskan," katanya.

Logo Tanwir dan Milad ke-114 Angkat Filosofi Daun Kelor

Selain mempersiapkan agenda Tanwir, Muhammadiyah juga resmi meluncurkan logo Tanwir dan Milad ke-114. Logo tersebut mengusung corak postmodern yang dipadukan dengan simbol daun kelor.

Logo Tanwir dan Milad ke-114 tidak hanya berfungsi sebagai identitas visual, tetapi juga memuat nilai dan gagasan yang menggambarkan karakter serta perjalanan gerakan Muhammadiyah.

"Estetika dalam sebuah simbol tidak dapat dipisahkan dari nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Logo ini juga dipandang sebagai medium untuk memahami gagasan yang lebih luas," katanya.

Haedar mengatakan dirinya turut terlibat dalam proses pembuatan logo tersebut. Ia memilih daun kelor sebagai salah satu unsur utama karena tanaman tersebut dapat tumbuh subur di berbagai wilayah Indonesia.

"Daun kelor sebagai miracle tree atau pohon ajaib yang bermakna kesederhanaan dan ketangguhan sesuai dengan gerakan Muhammadiyah," ujarnya.

Daun Kelor Jadi Simbol Kesederhanaan dan Kemakmuran

Menurut Haedar, karakter daun kelor yang sederhana tetapi mampu tumbuh di berbagai kondisi menjadi gambaran yang selaras dengan gerakan Muhammadiyah.

Tanaman tersebut dapat bertahan hidup di berbagai tempat tanpa membutuhkan perawatan yang rumit. Nilai itu dinilai mencerminkan semangat Muhammadiyah untuk membangun kesederhanaan tanpa meninggalkan nilai dan orientasi gerakan.

"Dalam konteks pergerakan kita maupun di Tanwir dan Milad ini harus mampu menjadi momentum kita memperkuat kesederhanaan yang punya value, punya tema. Bukan kesederhanaan sebagai populisme," katanya.

Selain melambangkan kesederhanaan dan ketangguhan, daun kelor juga dimaknai sebagai simbol kemakmuran. Haedar menilai tanaman tersebut memiliki manfaat nyata bagi kehidupan karena dapat diolah menjadi makanan.

"Pohon kelor adalah pohon keajaiban karena dia adalah lambang kesejahteraan dan memakmurkan," ujarnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Rabiul Akhir dalam Kalender Hijriah: Sejarah dan Peristiwa Pentingnya
Rabiul Akhir dalam Kalender Hijriah: Sejarah dan Peristiwa Pentingnya
Aktual
Berdoa dengan Bahasa Arab, Apakah Benar Lebih Utama? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Berdoa dengan Bahasa Arab, Apakah Benar Lebih Utama? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Bolehkah Memegang Al-Qur’an Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Bolehkah Memegang Al-Qur’an Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Malam Ini, 198.000 Warga Akan Nyanyikan Mars MTQ untuk Pecahkan Rekor MURI
Malam Ini, 198.000 Warga Akan Nyanyikan Mars MTQ untuk Pecahkan Rekor MURI
Aktual
Muhammadiyah Gelar Tanwir dan Milad ke-114 di Palu, Usung Tema Bersama Satukan Bangsa
Muhammadiyah Gelar Tanwir dan Milad ke-114 di Palu, Usung Tema Bersama Satukan Bangsa
Aktual
Sejak 1968, MTQ di Indonesia Digelar Berjenjang hingga Tingkat Nasional
Sejak 1968, MTQ di Indonesia Digelar Berjenjang hingga Tingkat Nasional
Aktual
Link Live Streaming Pembukaan MTQ Nasional XXXI, Sabtu 12 September 2026
Link Live Streaming Pembukaan MTQ Nasional XXXI, Sabtu 12 September 2026
Aktual
Tangis Haru dan Bangga Warga Semarang Saksikan Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI
Tangis Haru dan Bangga Warga Semarang Saksikan Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI
Aktual
 Sejarah Al-Qur’an, dari Turunnya Wahyu Pertama hingga Menjadi Pedoman Hidup
Sejarah Al-Qur’an, dari Turunnya Wahyu Pertama hingga Menjadi Pedoman Hidup
Aktual
Nasaruddin Umar: Al-Qur’an Jadi Sumber Inspirasi Pengembangan Ilmu Kedokteran
Nasaruddin Umar: Al-Qur’an Jadi Sumber Inspirasi Pengembangan Ilmu Kedokteran
Aktual
Menag Ungkap Rencana MTQ Nasional Digelar Setiap Tahun, Ini Alasannya
Menag Ungkap Rencana MTQ Nasional Digelar Setiap Tahun, Ini Alasannya
Aktual
Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI Semarakkan Kota Semarang
Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI Semarakkan Kota Semarang
Aktual
Jelang Pembukaan MTQ Nasional XXXI, Simpang Lima Semarang Dilengkapi Tempat Wudhu hingga Air Minum Gratis
Jelang Pembukaan MTQ Nasional XXXI, Simpang Lima Semarang Dilengkapi Tempat Wudhu hingga Air Minum Gratis
Aktual
Sejarah MTQ di Indonesia, dari Lomba Tilawah hingga Ajang Nasional
Sejarah MTQ di Indonesia, dari Lomba Tilawah hingga Ajang Nasional
Aktual
Dubes Arab Saudi Doakan Lima Wartawan Hilang Kontak di Selat Sunda
Dubes Arab Saudi Doakan Lima Wartawan Hilang Kontak di Selat Sunda
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar