Editor
KOMPAS.com - Berdoa dengan bahasa Arab tidak selalu menjadi satu-satunya cara untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT.
Dalam Islam, hukum penggunaan bahasa Arab dalam doa bergantung pada konteksnya, terutama apakah doa tersebut dibaca di dalam atau di luar shalat.
Baca juga: Jangan Hanya Berdoa, Ini 3 Cara Menjemput Rezeki
Apabila doa dibaca di dalam shalat, bacaan tersebut wajib menggunakan bahasa Arab sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Ketentuan ini berlaku untuk bacaan al-Qur’an, dzikir, maupun doa ma’tsur yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
Baca juga: 4 Adab Utama saat Berdoa, Apakah Mengusap Wajah Setelah Selesai Wajib Dilakukan?
Shalat merupakan ibadah yang tata caranya bersifat tawqīfī, yakni tidak boleh diubah kecuali berdasarkan dalil. Rasulullah SAW bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. al-Bukhari, no. 443).
Hadis tersebut menegaskan bahwa gerakan dan bacaan dalam shalat mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
Karena itu, penggunaan bahasa Arab dalam doa di dalam Shalat bukan sekadar persoalan kebiasaan, melainkan bagian dari ketaatan terhadap sunnah Nabi SAW.
Ketentuan berbeda berlaku untuk doa yang dipanjatkan di luar Shalat. Dalam konteks ini, seorang Muslim memiliki ruang yang lebih luas untuk menggunakan bahasa yang dipahaminya ketika menyampaikan permohonan kepada Allah SWT.
Doa ma’tsur yang menggunakan bahasa Arab tetap lebih utama (afdhal) karena bersumber dari al-Qur’an dan hadis.
Selain memiliki susunan dan makna yang bersumber dari wahyu, membaca lafaz tersebut juga memiliki nilai ibadah.
Nabi SAW bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: آلم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan ‘Alif Lām Mīm’ itu satu huruf, tetapi ‘Alif’ satu huruf, ‘Lām’ satu huruf, dan ‘Mīm’ satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2910).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa lafaz yang bersumber dari wahyu memiliki nilai spiritual. Karena itu, membaca doa dengan bahasa Arab tetap memiliki keutamaan meskipun seseorang belum sepenuhnya memahami maknanya.
Berdoa di luar shalat dengan bahasa selain Arab tetap diperbolehkan, terutama bagi seseorang yang belum mampu melafalkan doa dalam bahasa Arab.
Allah SWT mengetahui isi hati hamba-Nya sehingga doa tidak harus disampaikan dalam bahasa tertentu agar dapat diketahui-Nya.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (Q.S. Luqman [31]: 23).
Dengan demikian, seseorang dapat berdoa menggunakan bahasa yang dipahaminya, termasuk bahasa Sunda, Jawa, atau bahasa lainnya. Ketulusan dan kekhusyukan dalam memanjatkan doa menjadi hal penting dalam hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Dalam berdoa, seorang Muslim tidak hanya dianjurkan melafalkan rangkaian kata, tetapi juga menghadirkan hati dan memahami makna yang disampaikan.
Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya keyakinan serta kesadaran ketika memanjatkan doa. Beliau bersabda:
اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. at-Tirmidzi, no. 3479).
Hadis tersebut menekankan pentingnya menghadirkan kesadaran spiritual ketika berdoa. Karena itu, memahami arti doa dapat membantu seorang Muslim menghayati setiap permohonan yang disampaikan kepada Allah SWT.
Doa juga tidak berdiri sendiri tanpa usaha. Selain memanjatkan permohonan kepada Allah, seorang Muslim perlu melakukan ikhtiar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. ar-Ra‘d [13]: 11)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa doa dan usaha merupakan dua hal yang saling berkaitan.
Kesungguhan dalam berdoa perlu disertai ikhtiar, sehingga seorang Muslim tetap berusaha sekaligus berserah diri kepada Allah SWT.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.