KOMPAS.com - Hati yang gelisah merupakan pengalaman yang dapat dirasakan setiap orang, baik karena persoalan keluarga, pekerjaan, maupun ujian kehidupan.
Dalam Islam, ketenangan hati tidak hanya dicari melalui istirahat fisik, tetapi juga dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai amalan yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan sunnah.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketenteraman sejati lahir dari hubungan yang kuat dengan Allah.
Karena itu, ketika hati mulai dipenuhi kecemasan, Rasulullah SAW mencontohkan sejumlah ibadah yang dapat menjadi penenang sekaligus penguat iman.
Amalan pertama yang paling sering disebut Al-Qur’an adalah zikir. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Alā bidzikrillāhi taṭma’innul-qulūb.
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan bukan semata-mata berasal dari hilangnya masalah, melainkan dari hadirnya zikir yang menghubungkan hati dengan Allah SWT.
Baca juga: Jadi Dirjen Pesantren Pertama, Basnang Said Diberi Target 100 Hari
Shalat menjadi tempat seorang Muslim mengadu dan memohon pertolongan. Allah SWT berfirman:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Wa aqimiṣ-ṣalāta lidzikrī.
Artinya: “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS Taha: 14)
Ketika hati sedang resah, menjaga shalat tepat waktu dapat membantu menghadirkan ketenangan karena seorang hamba kembali menyandarkan seluruh urusannya kepada Allah.
Baca juga: Kemenag: Nikah di KUA Gratis, di Luar KUA Rp600.000
Al-Qur’an tidak hanya menjadi petunjuk hidup, tetapi juga rahmat dan penawar bagi hati orang beriman. Allah SWT berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
Wa nunazzilu minal-Qur’āni mā huwa syifā’un wa raḥmatul lil-mu’minīn.
Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-Isra: 82)
Membaca beberapa ayat setiap hari dapat menjadi kebiasaan sederhana yang membantu menenangkan pikiran sekaligus memperkuat keimanan.
Baca juga: Ayyamul Bidh September 2027: Jadwal, Niat, dan Keutamaannya
Rasulullah SAW memberikan teladan dengan memperbanyak istighfar meskipun beliau telah diampuni dosanya.
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Wallāhi innī la astaghfirullāha wa atūbu ilaihi fil-yaumi aktsara min sab‘īna marrah.
Artinya: “Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR Sahih al-Bukhari No. 6307)
Istighfar mengajarkan kerendahan hati dan menjadi jalan untuk membersihkan hati dari beban dosa maupun penyesalan.
Ketika ditimpa kegelisahan, Rasulullah SAW mengajarkan doa yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
Allāhumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan.” (HR Sahih al-Bukhari No. 2893)
Doa ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk mengakui rasa sedih, lalu menyerahkannya kepada Allah melalui permohonan yang tulus.
Baca juga: Ketika Hadrah Menyatukan Muhammadiyah dan Nahdliyin di Pekalongan
Sedekah bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga membersihkan jiwa pemberinya. Allah SWT berfirman:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
Khudz min amwālihim ṣadaqatan tuṭahhiruhum wa tuzakkīhim bihā.
Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS At-Taubah: 103)
Meski ayat ini berbicara tentang zakat, para ulama menjelaskan bahwa sedekah juga menjadi sarana penyucian hati serta menumbuhkan rasa syukur dalam kehidupan.
Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha dan tawakal. Setelah melakukan ikhtiar terbaik, seorang Muslim diperintahkan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Fa idzā ‘azamta fatawakkal ‘alallāh, innallāha yuḥibbul mutawakkilīn.
Artinya: “Apabila engkau telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS Ali ‘Imran: 159)
Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan meyakini bahwa keputusan terbaik berada di tangan Allah setelah ikhtiar dilakukan secara maksimal.
Ketujuh amalan tersebut dapat diamalkan secara bertahap dalam kehidupan sehari-hari.
Zikir, shalat, membaca Al-Qur’an, istighfar, doa, sedekah, dan tawakal bukan hanya ibadah yang berpahala, tetapi juga menjadi jalan yang diajarkan Islam untuk menghadirkan ketenangan hati di tengah berbagai ujian kehidupan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.