Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Membaca Al-Qur’an merupakan bagian dari ibadah. Namun, pesan di dalamnya perlu dipahami dan diamalkan agar bacaan tersebut menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta Nur Ahmad Ghozali mencontohkan, Surah Al-Ma’un sebagai hubungan antara ibadah kepada Allah dan kepedulian terhadap sesama.
Menurut Nur Ahmad, semangat Surah Al-Ma’un telah diwujudkan Muhammadiyah sejak masa KH Ahmad Dahlan melalui pendidikan, panti asuhan, dan layanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Wujud konkret dari gerakan Al-Ma’un ini kita ketahui adanya beberapa lembaga-lembaga yang kemudian menaungi anak-anak mustadh’afin, anak-anak dhuafa melalui panti asuhan Muhammadiyah, melalui rumah sakit-rumah sakit Islam yang didirikan PKU, kemudian juga melalui lembaga-lembaga pendidikan untuk kemudian anak-anak dididik,” tuturnya.
Baca juga: Surat Al Maun: Karakteristik Para Pendusta Agama
Nur Ahmad menjelaskan, al-ma’un berkaitan dengan sesuatu yang berguna atau bermanfaat. Maknanya mencakup bantuan kepada sesama, termasuk pertolongan dalam hal-hal kecil yang dibutuhkan sehari-hari.
“Perbuatan kebaikan berupa pemberian bantuan kepada sesama manusia dalam hal-hal kecil,” ujarnya dikutip dari laman Muhammadiyah, Rabu (16/9/2026).
Surah Al-Ma’un, lanjutnya, mengingatkan bahwa ibadah tidak semestinya terpisah dari kepedulian sosial.
Surah tersebut menyinggung perilaku mengabaikan anak yatim dan orang miskin, lalai serta riya dalam salat, dan enggan memberikan bantuan.
“Kesadaran bahwa tidak ada artinya ibadah kita itu kalau kemudian tidak ada kesadaran kemanusiaannya kepada orang lain seperti sifat menolong, sifat kemudian membangun, sifat mengembangkan,” katanya.
Baca juga: Muhammadiyah: Tafsir Al-Maun Menolak Korupsi yang Dirancang Sistem
Nur Ahmad memaparkan lima langkah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an yang ia kaitkan dengan cara KH Ahmad Dahlan memahami Surah Al-Ma’un.
Pertama, mengenali arti ayat yang dibaca. Membaca perlu disertai usaha mengetahui artinya dan, bila memungkinkan, mempelajari tafsirnya.
“Kita mengenal artinya. Mengenal ketika memahami ayat juga kita tidak hanya membaca ayat itu, tapi kemudian mengenal artinya. Syukur kemudian tafsirnya,” ujarnya.
Kedua, memahami maksud ayat, termasuk pesan yang terkandung dalam ayat yang telah dihafal. Dengan demikian, hafalan tidak berhenti pada kemampuan mengucapkannya.
Ketiga, memeriksa apakah larangan dalam ayat sudah ditinggalkan. Keempat, memeriksa apakah perintahnya sudah dijalankan. Dua langkah ini mengajak pembaca menilai perilakunya sendiri, bukan hanya mengetahui isi ayat.
Kelima, mengamalkan pesan ayat yang sudah dipahami. Nur Ahmad menekankan pentingnya menjalankan perintah dan meninggalkan larangan sebelum sekadar beralih ke bacaan berikutnya.
“Maka jangan membaca ayat yang lain sebelum kemudian melaksanakan apa yang perintah yang harus dikerjakan, larangan yang harus ditinggalkan betul-betul ditinggalkan,” tegasnya.
Bagi Nur Ahmad, Surah Al-Ma’un menunjukkan bagaimana pemahaman ayat dapat menjadi tindakan nyata. Ia menunjuk pendidikan bagi anak-anak dhuafa, panti asuhan, dan layanan kesehatan sebagai contoh upaya membantu mereka yang membutuhkan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.