Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Hanya Debus, Naskah Kuno Tarekat Rifa’iyyah Nusantara Disorot di Turki

Kompas.com, 19 September 2026, 15:15 WIB
Reni Susanti

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com — Kekayaan manuskrip tarekat Rifa’iyyah dari Nusantara menjadi perhatian akademisi dunia dalam International Joint Seminar di Istanbul, Turki.

Naskah-naskah kuno tersebut dinilai dapat menjadi jembatan yang menghubungkan peradaban Islam Indonesia dengan Turki.

Hal itu disampaikan Guru Besar Filologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Oman Fathurahman, saat menjadi pembicara dalam seminar yang diselenggarakan Institute for Sufi Studies Üsküdar University.

“Saya tidak pernah menyangka kalau manuskrip-manuskrip tentang tarekat Rifa’iyyah di Nusantara dapat menjadi jembatan terhubungkannya peradaban Islam antara Muslim Indonesia dengan Muslim di Turki,” ujar Oman dalam keterangannya, Minggu (13/9/2026).

Baca juga: Rais Aam PBNU Resmikan Markaz Turats Ulama Kudus, Tersimpan Naskah Berusia 275 Tahun

Seminar internasional tersebut mengangkat tema “Bridging Mystical Philosophy and Arts in Sufism: Poetry, Music, and Rituals”.

Dalam paparannya, Oman mengungkapkan, tradisi Rifa’iyyah di Nusantara tidak hanya berkaitan dengan seni pertunjukan atau praktik lokal seperti debus di Banten dan rapai di Aceh.

Jejak tarekat tersebut juga tercatat dalam beragam manuskrip berbahasa Arab, Melayu, dan Jawa-Pegon. Isinya mencakup silsilah, ajaran, zikir, hingga ratib.

“Selama ini pengkaji Islam Indonesia belum banyak menyadari bahwa kekayaan manuskrip Rifa’iyyah bernaskah Arab, Melayu, hingga Jawa-Pegon sangat melimpah,” katanya.

Menurut Oman, salinan manuskrip tersebut tersebar di Perpustakaan Universitas Leiden, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, serta sejumlah koleksi pribadi dan keluarga.

Tarekat Rifa’iyyah merupakan salah satu tarekat tertua yang dinisbatkan kepada Syekh Ahmad al-Rifa’i al-Kabir, seorang sufi asal Irak yang wafat pada 1182 Masehi.

Meski bukan tarekat utama yang berkembang di Indonesia, Oman mengatakan, manuskrip mengenai ajaran Rifa’iyyah di Nusantara ternyata cukup melimpah.

Baca juga: Masjid Berusia 1.300 Tahun Ditemukan di Arab Saudi, Simpan Prasasti Al-Quran

Tradisi Rifa’iyyah di Istanbul

Sementara itu, tradisi Rifa’iyyah di Istanbul tetap bertahan di tengah kehidupan modern melalui peran Kenan Rifai (1867–1950), salah satu figur penting pada masa akhir Kesultanan Turki Utsmani.

Kenan Rifai dinilai berjasa menjaga agar nilai-nilai tasawuf tetap dikenal pada masa Republik Turki modern. Pemikirannya juga berkembang melampaui batas negara dan agama.

Oman mencontohkan pendirian Kenan Rifai Center for Sufi Studies di Kyoto University, Jepang, atas inisiatif Prof Yasushi Tonaga yang berkolaborasi dengan Direktur Institute for Sufi Studies Prof Elif Erhan.

Keduanya mengundang Oman dalam simposium yang digelar untuk memperingati 10 tahun berdirinya lembaga riset tersebut.

Menurut Oman, simposium selama dua hari di Istanbul itu mempertemukan pembicara dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari kajian Islam, filologi, antropologi, hingga musikologi.

Para akademisi yang hadir berasal dari Turki, Mesir, Jepang, Perancis, Indonesia, Jerman, dan Korea Selatan.

“Ini adalah contoh yang baik sebuah integrasi ilmu. Zikir tarekat tidak semata dipahami melalui teks, tetapi juga diresapi melalui ritual, alat musik, serta tinggi rendahnya tangga nada,” tuturnya.

Oman memandang forum tersebut sebagai peluang sekaligus tantangan untuk memperkuat kolaborasi akademik antara perguruan tinggi di Indonesia dan Turki.

Menurut dia, dosen dan peneliti di lingkungan UIN maupun IAIN perlu menjadi duta yang memperkenalkan peradaban Islam Indonesia di tingkat dunia.

“Muslim Indonesia harus percaya diri memiliki budaya tulisan tangan atau manuskrip yang menggambarkan adanya penerjemahan Islam, khususnya ajaran tarekat Rifa’iyyah, ke dalam bahasa dan konteks budaya lokal di Nusantara,” tandasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar