Editor
KOMPAS.com - Doa meminta hujan dibaca ketika masyarakat menghadapi kekeringan dan membutuhkan turunnya hujan.
Dalam tuntunan Tarjih Muhammadiyah, terdapat sejumlah doa yang bersumber dari riwayat Rasulullah SAW untuk memohon hujan yang membawa manfaat dan rahmat.
Dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, doa ini juga tercantum dalam Salinan Keputusan Muktamar Tarjih XX di Garut tahun 1976, Berita Resmi Muhammadiyah No. 76 Tahun 1977, serta pembahasan “Khutbah Istisqa’” dalam Suara Muhammadiyah No. 5 Tahun ke-84/1999.
Baca juga: Masjid Agung Al Azhar Gelar Shalat Istisqa untuk Meminta Hujan di Tengah Musibah Kekeringan
Salah satu doa meminta hujan yang dicantumkan dalam Putusan Tarjih Muktamar XX di Garut tahun 1976 adalah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا طَبَقًا مَرِيعًا غَدَقًا عَاجِلًا غَيْرَ رَائِثٍ
“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang memberikan pertolongan, yang menyegarkan, yang merata, yang menyuburkan, yang lebat, segera dan tidak terlambat.”
Doa tersebut tidak hanya memohon air turun dari langit, tetapi juga meminta hujan yang memberikan pertolongan, menyegarkan, merata, menyuburkan, lebat, serta datang tanpa terlambat.
Dalam tuntunan Tarjih Muhammadiyah, istisqa juga tidak hanya berkaitan dengan permintaan agar hujan turun. Ketika hujan sudah turun terlalu deras dan berpotensi membahayakan, terdapat doa agar hujan dialihkan ke tempat yang memberikan manfaat.
Apa doa meminta hujan lainnya?
Selain doa tersebut, pembahasan khutbah istisqa juga mencantumkan doa lain yang lebih panjang. Doa ini memohon hujan untuk manusia, hewan, dan negeri yang mengalami kekeringan.
اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ، اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
“Ya Allah, berilah minum hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang telah mati. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang memberikan pertolongan, yang menyegarkan, yang menyuburkan, yang bermanfaat dan tidak membahayakan, yang segera dan tidak tertunda.”
Isi doa tersebut menunjukkan bahwa permohonan hujan mencakup kebutuhan manusia, hewan, dan wilayah yang mengalami kekeringan. Hujan juga dimohonkan sebagai rahmat yang memberikan manfaat serta tidak menimbulkan bahaya.
Terdapat hadis panjang dari ‘Aisyah yang menggambarkan peristiwa ketika masyarakat mengadukan kekeringan kepada Rasulullah SAW. Beliau kemudian keluar menuju tempat shalat dan memanjatkan doa berikut:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang menguasai hari pembalasan. Tiada Tuhan selain Allah, yang melaksanakan apa yang Dia kehendaki. Ya Allah, Engkaulah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Kaya, sementara kami adalah miskin. Turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan itu kekuatan dan bekal bagi kami untuk waktu yang lama.”
Doa tersebut diawali dengan pujian kepada Allah, dilanjutkan dengan pengakuan tauhid dan pengakuan bahwa manusia berada dalam keadaan membutuhkan. Setelah itu, permohonan agar hujan diturunkan disampaikan.
Salah satu bagian doa yang secara langsung berisi permohonan hujan adalah:
اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ
“Ya Allah, Engkaulah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Kaya, sementara kami adalah miskin.”
Kemudian dilanjutkan dengan permohonan:
أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ
“Turunkanlah hujan kepada kami.”
Susunan tersebut menunjukkan bahwa doa istisqa tidak hanya berisi permintaan, tetapi juga pengakuan terhadap Allah dan keadaan manusia sebagai pihak yang membutuhkan.
Ketika hujan sudah turun tetapi terlalu deras, tuntunan Rasulullah SAW juga memuat doa agar hujan dialihkan dari tempat yang membahayakan.
Putusan Tarjih mencantumkan doa berikut:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan jangan Engkau turunkan atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas bukit-bukit, dataran tinggi, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.”
Doa ini menunjukkan bahwa permohonan hujan juga memperhatikan manfaat dan dampaknya. Hujan yang dimohon bukan sekadar hujan yang turun, melainkan hujan yang tepat, membawa manfaat, dan tidak menimbulkan kerusakan.
Doa meminta hujan tidak harus menunggu pelaksanaan shalat istisqa. Dalam tuntunan khutbah istisqa, doa menjadi bagian penting setelah khutbah, ketika imam memperbanyak istighfar dan doa.
Imam kemudian mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat dengan membelakangi jamaah. Permohonan hujan dalam tuntunan Tarjih juga dapat dilakukan secara perorangan maupun berkelompok.
Jika dilakukan bersama-sama, imam dapat berdoa di masjid, di luar masjid, atau dalam khutbah Jumat. Jamaah juga dapat mengangkat tangan dan mengikuti doa tersebut.
Dengan demikian, shalat istisqa merupakan salah satu bentuk permohonan hujan, tetapi umat tetap dapat memanjatkan doa meminta hujan tanpa melaksanakan shalat istisqa.
Berbagai doa tersebut memiliki pola yang sama, yakni tidak hanya meminta hujan turun, tetapi memohon hujan yang menjadi rahmat dan memberikan manfaat. Hujan diharapkan menyuburkan tanah, memberi minum manusia dan hewan, menghidupkan negeri yang kering, serta tidak membawa bahaya.
Salah satu doa yang ringkas untuk diingat adalah:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang memberikan pertolongan, yang menyegarkan, yang menyuburkan, yang bermanfaat dan tidak membahayakan, yang segera dan tidak tertunda.”
Doa tersebut dapat dibaca ketika masyarakat membutuhkan hujan. Sementara ketika hujan turun berlebihan, doa dapat diarahkan agar hujan berpindah dari tempat yang membahayakan menuju tempat yang memberikan manfaat.
Pada akhirnya, doa istisqa tidak sekadar menjadi permohonan agar air turun dari langit.
Doa-doa tersebut mengajarkan permohonan agar hujan menjadi rahmat yang menghidupkan dan membawa manfaat. Karena itu, yang dimohon bukan hanya turunnya hujan, tetapi juga kebaikan yang menyertainya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.