Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Duduk Tenang Sebelum Shalat Termasuk Sunnah? Ini Penjelasannya

Kompas.com, 25 September 2026, 11:03 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Banyak orang datang ke masjid beberapa detik sebelum iqamah, lalu langsung berdiri mengikuti shalat berjamaah.

Padahal, para ulama menjelaskan bahwa duduk dengan tenang sebelum shalat merupakan adab yang dianjurkan karena membantu menghadirkan kekhusyukan sejak awal ibadah.

Dalam Islam, persiapan shalat tidak dimulai ketika takbiratul ihram, melainkan sejak seseorang melangkahkan kaki menuju masjid, berwudhu, menunggu waktu shalat, hingga duduk dengan penuh ketenangan.

Sunnah ini mengajarkan bahwa shalat bukan sekadar rangkaian gerakan, tetapi perjumpaan seorang hamba dengan Allah SWT.

Khusyuk Dimulai Sebelum Takbir

Al-Qur'an menyebut salah satu ciri orang beriman adalah khusyuk dalam shalat. Kekhusyukan itu lahir dari hati yang tenang dan fokus kepada Allah, bukan tergesa-gesa karena baru datang atau masih sibuk dengan urusan dunia.

Allah berfirman dalam QS Al-Mu’minun Ayat 1–2

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Qad aflaḥal-mu’minūn. Allażīna hum fī ṣalātihim khāsyi‘ūn.

Baca juga: Manfaat Baca Shalawat Hari Jumat, Benarkah Dilipatgandakan 10 Kali?

Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.”

Para mufasir menjelaskan bahwa khusyuk mencakup ketenangan lahir dan batin. Karena itu, duduk sejenak sebelum shalat menjadi salah satu cara menyiapkan hati agar lebih mudah menghadirkan kekhusyukan ketika imam memulai shalat.

Rasulullah Melarang Datang Tergesa-gesa

Salah satu hadis paling penting tentang adab menuju shalat diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW melarang umatnya berlari atau tergesa-gesa ketika iqamah telah dikumandangkan.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَمْشُونَ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ

Iżā uqīmatiṣ-ṣalātu falā ta’tūhā wa antum tas‘auna, wa’tūhā wa antum tamsyūna wa ‘alaikumus-sakīnah.

Baca juga: Khutbah Jumat 25 September 2026: Menjaga Profesionalisme dan Integritas Saat Bekerja

Artinya: “Apabila shalat telah didirikan, janganlah kalian mendatanginya dengan tergesa-gesa. Datangilah dengan berjalan dan tetap bersikap tenang.” (HR Sahih al-Bukhari No. 636; Sahih Muslim No. 602). 

Hadis ini menjadi landasan bahwa ketenangan (sakinah) adalah adab yang didahulukan daripada mengejar rakaat dengan tergesa. Apa yang didapati bersama imam dikerjakan, sedangkan yang tertinggal disempurnakan setelah salam.

Mengapa Duduk Menunggu Shalat Dianjurkan?

Dikutip dari Sunnah.com, dalam fikih, seseorang yang telah berwudhu lalu duduk menunggu shalat di masjid berada dalam keadaan ibadah.

Malaikat mendoakan orang yang tetap berada di tempat shalat selama ia menjaga kesuciannya dan tidak mengganggu orang lain.

Baca juga: Khutbah Jumat 25 September 2026: Pemimpin Harus Dahulukan Kepentingan Rakyat

Karena itu, duduk tenang bukan berarti menghabiskan waktu tanpa manfaat. Seorang Muslim dapat memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an, beristighfar, atau sekadar menenangkan pikiran sambil menanti iqamah. Kebiasaan ini membuat hati lebih siap memasuki shalat dengan penuh kesadaran.

Adab Duduk Sebelum Shalat

Para ulama menyebut beberapa adab yang baik dilakukan ketika menunggu shalat.

Di antaranya adalah mematikan atau menonaktifkan suara ponsel, tidak berbicara keras, menjaga pandangan, serta menghindari kesibukan yang menghilangkan kekhusyukan.

Jika baru memasuki masjid dan waktu shalat belum dimulai, seseorang juga disunnahkan melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid dua rakaat.

Setelah itu, ia dapat duduk menghadap kiblat sambil memperbanyak doa dan dzikir hingga iqamah dikumandangkan.

Hikmah Menenangkan Hati Sebelum Beribadah

Kehidupan modern membuat banyak orang terbiasa berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa jeda.

Akibatnya, seseorang bisa datang ke masjid dengan pikiran yang masih dipenuhi pekerjaan, media sosial, atau berbagai urusan dunia.

Baca juga: Kemarau Panjang, Kapan Shalat Istisqa Disunnahkan?

Sunnah duduk tenang mengajarkan pentingnya memberi ruang bagi hati untuk beralih menuju ibadah.

Beberapa menit sebelum shalat sering kali menjadi waktu terbaik untuk mengingat Allah, menyadari kelemahan diri, dan menghadirkan niat yang ikhlas.

Dengan demikian, duduk tenang sebelum shalat bukan sekadar kebiasaan orang yang datang lebih awal, melainkan bagian dari adab yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Ketenangan sebelum takbir membantu melahirkan shalat yang lebih khusyuk, sehingga ibadah tidak hanya sah secara fikih, tetapi juga hidup dalam hati seorang mukmin.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar