Editor
KOMPAS.com - Tajdid dalam Muhammadiyah tidak berarti mengubah seluruh ajaran Islam mengikuti perkembangan zaman.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI Yogyakarta Ridwan Furqoni menjelaskan, ada ajaran yang bersifat tetap dan ada wilayah agama yang dapat dikembangkan sesuai perubahan zaman.
Baca juga: Visit My Mosque 2026, Muhammadiyah Kenalkan Islam Indonesia di London
Hal itu disampaikan Ridwan dalam kajian di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (19/9/2026).
Dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, Ridwan menjelaskan bahwa dalam perspektif Muhammadiyah, ajaran Islam dapat disistematisasi ke dalam empat dimensi, yakni akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah duniawiyah.
“Empat macam ini bukan hadits. Itu sistematisasi yang disusun berdasarkan pendalaman terhadap berbagai macam ajaran kita,” ujarnya.
Baca juga: Muhammadiyah Ikut Mazhab Apa? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Terkait Mazhab Fikih yang Dianut
Ridwan menjelaskan, tajdid memiliki dua makna, yaitu pemurnian dan pembaruan.
Pemurnian dilakukan ketika suatu ajaran perlu dikembalikan kepada sumber dan ketentuan aslinya. Sementara itu, pembaruan dilakukan pada wilayah yang memang terbuka untuk pengembangan.
“Jadi yang pertama dimurnikan, yang kedua diinovasi,” katanya.
Menurut Ridwan, pemahaman terhadap dua makna tersebut penting agar umat dapat melakukan tajdid secara tepat tanpa mengubah prinsip agama yang telah memiliki ketentuan jelas.
Dalam pembagian yang dijelaskan Ridwan, akidah merupakan wilayah ajaran Islam yang bersifat tetap.
Akidah berkaitan dengan berbagai konsep keyakinan, seperti iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, takdir, alam kubur, dan perkara gaib lainnya.
Ridwan menjelaskan bahwa perkara gaib tidak dapat ditentukan berdasarkan imajinasi atau penalaran manusia semata. Informasi mengenai perkara tersebut bersumber dari wahyu.
“Satu-satunya sumber informasi tentang yang gaib-gaib itu hanya wahyu,” tegasnya.
Karena itu, umat tidak dapat membuat keyakinan mengenai pahala, keutamaan amal, atau perkara gaib tertentu tanpa dasar dari Al-Qur’an dan Sunah.
“Bab keyakinan, pahala, keutamaan tentang amal tertentu yang tahu hanya Allah dan disampaikan ke kita. Nek Allah enggak nyampaikan, enggak bisa,” tuturnya.
Selain akidah, ibadah mahdah juga termasuk wilayah yang bersifat tetap.
Ridwan menjelaskan, ibadah mahdah merupakan tata cara berinteraksi dengan Allah yang telah dijelaskan secara rinci dalam wahyu, seperti salat.
Karena ketentuannya telah ditetapkan, umat tidak dibenarkan membuat ritual baru atau mengubah tata cara ibadah mahdah berdasarkan keinginan sendiri.
“Jadi yang tetap apa? Yang tetap akidah dan ibadah mahdah. Kita tidak boleh kreatif, tidak boleh inovatif. Manut saklek kalih wahyu,” jelasnya.
Berbeda dengan ibadah mahdah, ibadah ghairu mahdah memiliki ruang yang lebih luas untuk kreativitas.
Ridwan menjelaskan, aktivitas sehari-hari dapat bernilai ibadah ketika dilakukan dengan niat karena Allah dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Ia mencontohkan bekerja, mengikuti pengajian, hingga melakukan perjalanan untuk tadabur alam.
“Piknik mawon saget dados ibadah. Bismillah, piknik diniat ibadah, tadabur alam, ndelok kekuasane Gusti Allah,” katanya.
Ruang perubahan menjadi lebih luas pada dimensi akhlak. Ridwan menerangkan bahwa akhlak mencakup hubungan manusia dengan sesama makhluk, termasuk manusia, hewan, dan lingkungan.
Menurutnya, nilai kebaikan dalam akhlak dapat bersifat universal, tetapi bentuk penerapannya dapat menyesuaikan budaya setempat.
Ridwan membedakan khair dan makruf. Khair merujuk pada kebaikan yang bersifat universal, sedangkan makruf berkaitan dengan kebaikan yang dekat dengan budaya dan kebiasaan masyarakat.
Karena itu, bentuk pakaian dalam salat, misalnya, dapat berbeda menurut budaya selama tetap memenuhi ketentuan agama.
“Akhlak itu ada yang khair, ada yang makruf. Dua-duanya itu baik. Yang penting tidak melanggar agama,” ungkapnya.
Menurut Ridwan, akhlak tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarmanusia, tetapi juga dengan lingkungan dan hewan.
Membuang sampah sembarangan, merusak hutan hingga menyebabkan banjir, atau memperlakukan hewan secara buruk termasuk persoalan akhlak.
“Dengan lingkungan, Pak, buang sampah sembarangan itu melanggar akhlak yang baik pada lingkungan. Maka agama juga mengajarkan untuk mengelola sampah dengan baik. Karena itu akhlak terhadap lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, wilayah muamalah duniawiyah memberikan ruang luas bagi kreativitas dan inovasi.
Ridwan menjelaskan, muamalah duniawiyah mencakup berbagai urusan kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan pendidikan.
“Dalam hal muamalah duniawiah itu kita harus malah harus, Pak, harus kreatif,” katanya.
Ia mencontohkan pengelolaan masjid. Takmir dapat mencari berbagai cara untuk menarik sekaligus mempertahankan jamaah selama cara tersebut tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Kreativitas tersebut, menurut Ridwan, merupakan bagian dari tajdid dalam wilayah muamalah duniawiyah.
“Ujung sana akidah kudu saklek, tidak berubah. Ujung sana muamalah malah harus kreatif,” ujarnya.
Ridwan menggunakan perubahan teknologi dan dunia usaha sebagai contoh pentingnya tajdid dalam muamalah duniawiyah.
Ia mencontohkan Nokia dan Odol yang pernah sangat dikenal, tetapi kemudian kehilangan pasar karena tidak mampu mengikuti perubahan.
Sebaliknya, persaingan produk kendaraan bermotor menunjukkan bagaimana inovasi dapat membuat sebuah produk tetap bertahan.
Menurutnya, prinsip yang sama dapat diterapkan dalam berbagai urusan kehidupan. Masyarakat perlu terus belajar dan mengembangkan cara baru selama inovasi tersebut tidak bertentangan dengan prinsip agama.
“Muamalah duniawiyah. Nah, panjenengan di dalam ngelola urusan keduniaan mungkin enten sing dadi Pak Dukuh, Pak RT, Pak Lurah harus kreatif. Belajarnya enggak boleh berhenti,” katanya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.