Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Keinginan Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra untuk membangun masjid sebagai penghormatan kepada ibunya, Fatmawati, belum terwujud hingga ia meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026).
Keinginan itu diungkap oleh Muhadjir Effendy saat dihubungi Kompas.com, Selasa (29/9/2026). Menurut Muhadjir, Guruh berencana memberi nama masjid tersebut Masjid Hj Fatmawati.
“Ada satu keinginan mulia almarhum yang belum terlaksana, yaitu membangun sebuah masjid untuk mengenang ibunda tercinta. Niatan itu disampaikan almarhum sekitar 4 tahun lalu,” ujar Muhadjir.
Masjid itu rencananya berdiri di tanah milik Guruh di kawasan kampus Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan, Jalan Ir H Juanda, Cirendeu, Ciputat.
Muhadjir mengenal Guruh melalui karya-karyanya. Pertemuan mereka pernah terjalin, salah satunya pada 2019, ketika ia menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Saat itu, keduanya membicarakan gagasan pembangunan Monumen Fatmawati di Bengkulu di kediaman Guruh di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Monumen yang menggambarkan Fatmawati menjahit bendera Merah Putih itu kemudian diresmikan Presiden Joko Widodo pada 5 Februari 2020.
Bagi Muhadjir, rencana membangun masjid menunjukkan keinginan Guruh untuk kembali mengenang sosok ibunya melalui sebuah karya.
“Mas Guruh sosok seniman idealis sekaligus Nasionalis,” tutur Muhadjir.
Baca juga: Visit My Mosque 2026, Muhammadiyah Kenalkan Islam Indonesia di London
Kedua karakter tersebut mewarnai sebagian besar karya Guruh, baik sebagai musisi maupun koreografer, melalui kelompok yang dipeloporinya yakni Guruh Gipsy dan Swara Mahardhika.
Menurut Muhadjir, terkadang idealisme dan nasionalisme almarhum disertai dengan nada risau dan gelisah seperti lagu “Kembalikan Baliku”.
Lagu yang populer di tahun 80-an dinyayikan oleh Jopie Latul. Risau dan gelisah terhadap keadaan Bali yang terancam keasliannya karena budaya dan gaya hidup yang dibawa pengunjung mancanegara.
“Selamat jalan Mas Guruh. Nama dan karyamu akan melegenda. Akan tercatat bukan hanya karena Anda seorang putra proklamator, namun karena karya-karyamu, karena jejak-jejak kebaikan yang telah Anda tinggalkan,” tulis Muhadhir di akun Facebooknya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.