KOMPAS.com - Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang paling banyak beribadah, tetapi beliau juga memperbanyak istighfar. Dalam hadis, Nabi disebut memohon ampun kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari, bahkan dalam riwayat lain 100 kali.
Kebiasaan tersebut menimbulkan pertanyaan: jika Nabi Muhammad SAW merupakan utusan Allah dan mendapat penjagaan dari dosa, mengapa masih memperbanyak istighfar? Jawabannya tidak semata-mata karena dosa, tetapi juga berkaitan dengan ketundukan, tobat, dan kesadaran seorang hamba terhadap Allah.
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Wallahi inni la’astaghfirullaha wa atubu ilaihi fil-yaumi aktsara min sab’ina marratan.
Artinya: “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (Sahih al-Bukhari 6307).
Baca juga: Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dan Senin Kamis?
Hadis ini menunjukkan bahwa istighfar dan tobat merupakan amalan yang terus dilakukan Nabi. Angka lebih dari 70 menunjukkan banyaknya frekuensi istighfar yang beliau lakukan dalam keseharian, bukan batas maksimal seseorang dalam beristighfar.
Riwayat lain datang dari Al-Agharr Al-Muzani RA dalam Sahih Muslim. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
Innahu layughanu ‘ala qalbi wa inni la’astaghfirullaha fil-yaumi mi’ata marratin.
Artinya: “Sesungguhnya kadang-kadang ada sesuatu yang menutupi hatiku, dan sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah seratus kali dalam sehari.” (Sahih Muslim 2702a).
Baca juga: Mengapa Rasulullah Melarang Tidur Tengkurap? Ini Hadis dan Hikmahnya
Riwayat ini menjadi dasar bahwa angka 70 dan 100 sama-sama terdapat dalam hadis. Karena itu, penyebutan “70–100 kali” merujuk pada dua riwayat berbeda, bukan pertentangan mengenai jumlah istighfar Nabi.
Istighfar sering dipahami sebagai permohonan ampun setelah melakukan dosa. Namun, penjelasan NU Online menekankan bahwa beristighfar tidak hanya diperuntukkan bagi orang yang berbuat dosa. Manusia tetap dianjurkan memperbanyak istighfar karena memiliki potensi salah dan lalai.
Penjelasan tersebut juga mengaitkan kebiasaan Nabi memperbanyak istighfar dengan teladan bagi umat. Artinya, istighfar tidak harus menunggu seseorang merasa melakukan kesalahan besar. Ia dapat menjadi bagian dari kebiasaan ibadah sehari-hari sebagai bentuk kerendahan hati di hadapan Allah.
Baca juga: Menag Lantik 5 Pejabat Ditjen Pesantren, Ingatkan Nasib Santri di 42.000 Pondok
Anjuran memohon ampun juga terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Nuh ayat 10, Nabi Nuh AS berkata kepada kaumnya:
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًۭا
Faqultus-tagfiru rabbakum innahu kana ghaffara.
Artinya: “maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun.’” (QS Nuh: 10).
Ayat tersebut menunjukkan hubungan istighfar dengan pengakuan bahwa Allah Maha Pengampun. Dalam kehidupan sehari-hari, istighfar dapat menjadi bentuk kesadaran untuk kembali kepada Allah setelah menyadari kekurangan atau kesalahan.
Baca juga: Terkena Percikan Air Kloset, Apakah Badan dan Handuk Jadi Najis?
Teladan Nabi memperlihatkan bahwa istighfar bukan sekadar ucapan yang dibaca setelah seseorang melakukan dosa. Ia merupakan bentuk penghambaan yang membuat seorang Muslim terus mengingat keterbatasan dirinya dan kebesaran Allah.
Kebiasaan memperbanyak istighfar juga mengajarkan agar seseorang tidak merasa telah cukup baik hanya karena menjalankan banyak amal. Sebaliknya, ia tetap membuka ruang untuk mengakui kekurangan, memperbaiki diri, dan memohon pertolongan Allah.
Dengan demikian, seseorang tidak perlu menunggu melakukan kesalahan untuk membaca istighfar. Istighfar dapat diamalkan ketika menyadari kekurangan diri atau dijadikan bagian dari zikir harian.
Baca juga: Prabowo Minta Biaya Haji Tak Memberatkan, Keuangan Haji Bakal Diaudit Forensik
Contoh Nabi juga menunjukkan bahwa memperbanyak istighfar tidak tepat dipahami sebagai tanda seseorang terus-menerus melakukan dosa. Justru, amalan tersebut menunjukkan ketundukan dan kesungguhan untuk selalu kembali kepada Allah. Penjelasan NU Online juga menempatkan istighfar sebagai amalan yang relevan bagi setiap orang, bukan hanya bagi mereka yang sedang merasa berdosa.
Nabi Muhammad SAW beristighfar lebih dari 70 kali dan dalam riwayat lain 100 kali sehari sebagai teladan bagi umat untuk terus memohon ampun dan bertobat kepada Allah. Hadis tersebut menunjukkan bahwa istighfar merupakan amalan yang terus menyertai kehidupan seorang Muslim.
Bagi umat Islam, kebiasaan ini dapat diterapkan dengan menjadikan istighfar sebagai bagian dari ibadah harian. Bukan hanya mengucapkannya sebanyak-banyaknya, tetapi juga disertai kesadaran untuk memperbaiki kesalahan, meninggalkan perbuatan yang keliru, dan kembali menaati Allah.
Baca juga: Pagar Nusa NU Perluas Kaderisasi di Taiwan
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.