Editor
KOMPAS.com - Islam tidak melarang umatnya mencari rezeki dan mengumpulkan kekayaan, selama harta tersebut digunakan untuk kebaikan dan tidak melalaikan hubungan dengan Allah SWT.
Pemahaman ini berkaitan dengan konsep zuhud, yakni sikap tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.
Baca juga: Apa Itu Zuhud? Haedar Nashir: Bukan Hidup Serba Kekurangan
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menjelaskan hal tersebut saat memimpin pengajian rutin Sabtu Mujahadah yang mengkaji Kitab Mauidzotul Mu'minin di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (10/10/2026).
Dilansir dari laman MUI, Kiai Cholil menjelaskan, kecenderungan hati yang berlebihan kepada selain Allah SWT dapat menjadi tanda adanya penyakit hati.
Baca juga: Cari Rezeki dalam Islam, Tak Cukup Hanya yang Halal
Namun, keterikatan terhadap fasilitas dan kekayaan duniawi tidak serta-merta menunjukkan kondisi tersebut apabila seseorang memanfaatkannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah itu juga meluruskan pemahaman mengenai zuhud yang kerap dikaitkan dengan kehidupan sederhana atau menjauhi kekayaan.
Menurutnya, umat Islam tetap diperbolehkan mencari rezeki dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya selama niat serta penggunaannya diarahkan untuk kebaikan.
Harta, misalnya, dapat digunakan untuk membangun fasilitas pendidikan bagi santri, membimbing masyarakat kurang mampu, dan membantu sesama.
Dengan demikian, kekayaan tidak harus menjadi penghalang seseorang untuk menjalani kehidupan spiritual selama ia mampu menjaga niat dan memanfaatkan hartanya secara tepat.
Kiai Cholil juga menyoroti kebiasaan masyarakat modern yang kerap menjadikan penampilan luar dan gaya hidup sebagai ukuran dalam menjalani kehidupan.
Ia mengimbau umat Islam agar tidak mudah terpukau oleh fasilitas duniawi dan tetap menjaga fokus spiritual di tengah dinamika kehidupan.
Untuk menjelaskan hakikat tasawuf, Rais Syuriah PBNU tersebut mengisahkan keteladanan Syekh Masyis, seorang ulama sufi asal Maroko yang memiliki tempat tinggal megah, tetapi tetap menautkan hatinya kepada Allah SWT.
"Orang sufi itu keindahan-keindahan dunia tidak mewarnai apa-apa pada dirinya. Kenapa? Karena konsentrasinya tetap utuh hanya kepada Allah," kata ulama kelahiran Madura pada 1 Juni 1975 ini.
Kiai Cholil mengajak umat Islam untuk terus memperbaiki niat dalam mencari dan memanfaatkan karunia duniawi.
Dengan niat yang benar, harta dapat menjadi sarana untuk membantu sesama dan mendukung kegiatan yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, ukuran zuhud bukan semata-mata banyak atau sedikitnya kekayaan yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang menempatkan dunia dalam kehidupannya dan menjaga kecintaan kepada Allah SWT.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.