Editor
KOMPAS.com - Dalam Islam, balasan atas dosa tidak hanya berkaitan dengan kehidupan akhirat, sebab ada perbuatan yang dapat mendatangkan siksaan di dunia sebelum seseorang menerima balasannya kelak.
Karena itu, umat Islam perlu memahami dosa-dosa yang patut diwaspadai agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang mengundang azab Allah SWT.
Baca juga: 3 Macam Perilaku Zalim dalam Islam dan Dampaknya
Hal tersebut disampaikan KH Muhyiddin Junaidi, Dewan Pakar Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dalam Khutbah Jumat (2/10/2026) di Masjid At-Tanwir Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta Pusat.
“Para pendosa tersebut akan diturunkan siksaan di dunia sebelum di akhirat. Jadi, ada down payment siksaan, tidak harus menunggu sampai tibanya kiamat,” ujar Muhyiddin.
Setidaknya, ada empat dosa yang menurut Muhyiddin perlu diwaspadai karena dapat menjadi sebab disegerakannya siksaan di dunia sebelum balasan di akhirat, berikut penjelasannya:
Baca juga: 5 Akibat Perbuatan Zalim dalam Islam, Ada Azab hingga Datangnya Bencana
Muhyiddin mengingatkan bahwa kezaliman merupakan salah satu perbuatan yang dapat mengundang datangnya siksaan Allah SWT.
Perbuatan ini tidak hanya dilakukan oleh orang yang kurang memahami agama, tetapi juga dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki pendidikan, kedudukan, dan kekuasaan.
Salah satu bentuk kezaliman yang perlu diwaspadai adalah penyalahgunaan amanah dan jabatan. Kekuasaan yang semestinya digunakan untuk menjalankan tanggung jawab justru dapat disalahgunakan demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Menurut Muhyiddin, persoalan tersebut menjadi semakin serius ketika dilakukan oleh orang-orang berpendidikan dan memiliki kedudukan. Kezaliman pun tidak hanya menjadi persoalan individu, tetapi juga dapat menimbulkan dampak luas bagi kehidupan masyarakat.
Allah SWT mengingatkan bahwa suatu kaum dapat mengalami kehancuran akibat kezaliman. Dalam QS Al-Kahfi ayat 59 disebutkan bahwa negeri-negeri yang telah berbuat zalim dapat dibinasakan dan kehancuran mereka telah ditentukan waktunya.
Muhyiddin menegaskan, umat Islam tidak boleh berdiam diri ketika menyaksikan kezaliman. Setiap orang memiliki kewajiban moral untuk menyuarakan kebenaran dan melawan kezaliman sesuai dengan kemampuannya.
“Kalau kezaliman dibiarkan, kita punya kewajiban moral individu untuk menyuarakan kebenaran, melawan kezaliman dalam bentuk apa pun juga. Baik itu melalui tulisan, melalui lisan, ceramah-ceramah, dan lain sebagainya,” tuturnya.
Dosa kedua yang perlu diwaspadai adalah memutus silaturahim. Menurut Muhyiddin, menjaga hubungan baik tidak hanya berlaku kepada sesama Muslim, tetapi juga kepada orang lain yang memiliki latar belakang berbeda.
Berbagai faktor dapat membuat seseorang menjauh dari orang lain, mulai dari persoalan sosial, perbedaan kondisi ekonomi dan pendidikan, hingga perbedaan pilihan politik. Namun, perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk memutus hubungan persaudaraan.
Muhyiddin menyoroti risiko polarisasi di tengah masyarakat, terutama ketika memasuki momentum politik. Perbedaan pilihan politik seharusnya tidak merusak hubungan antarsesama maupun menghilangkan semangat persaudaraan.
“Perbedaan pilihan politik justru jangan sampai membuat kita menjadi jauh. Allah mengingatkan kita agar tetap menjaga silaturahim, walaupun berbeda pilihan partai politik,” jelasnya.
Karena itu, umat Islam perlu tetap menjaga silaturahim dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara meskipun memiliki pilihan politik serta pandangan yang berbeda.
Durhaka kepada kedua orang tua menjadi dosa ketiga yang disampaikan Muhyiddin. Dalam Islam, berbakti kepada orang tua merupakan bentuk ketaatan yang sangat penting sehingga setiap Muslim perlu menjaga ucapan, sikap, dan perlakuannya kepada ayah dan ibu.
Perbuatan durhaka dapat berupa perkataan atau tindakan yang menyakiti, merendahkan, maupun menghilangkan penghormatan kepada kedua orang tua. Oleh sebab itu, seorang Muslim perlu menjaga hubungan dengan keduanya melalui sikap hormat dan kasih sayang.
Menjaga hubungan baik dengan orang tua tidak cukup hanya melalui pengakuan, tetapi juga perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Setiap perkataan dan tindakan perlu mempertimbangkan perasaan serta penghormatan kepada mereka.
Sumpah palsu merupakan dosa keempat yang perlu diwaspadai. Sumpah tidak boleh digunakan untuk membenarkan sesuatu yang tidak benar, menutupi kebohongan, atau memperoleh keuntungan tertentu.
Muhyiddin juga mengaitkan sumpah dengan amanah, terutama ketika seseorang mengucapkannya dalam rangka menerima jabatan. Sumpah jabatan bukan sekadar bagian dari prosesi formal, melainkan pernyataan kesanggupan untuk menjalankan amanah dan tanggung jawab dengan benar.
Ketika seseorang menggunakan sumpah untuk membenarkan kebohongan atau menyalahgunakan amanah yang telah disumpahkan, persoalannya tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran tanggung jawab jabatan. Perbuatan tersebut juga menyangkut pertanggungjawaban seseorang di hadapan Allah SWT.
Muhyiddin mengingatkan bahwa keempat dosa tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk orang yang mengaku sebagai Muslim.
Identitas agama dan latar belakang keluarga Muslim tidak dengan sendirinya membebaskan seseorang dari perbuatan dosa yang dapat mendatangkan azab.
Karena itu, keimanan tidak cukup ditunjukkan melalui identitas keagamaan, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Hal tersebut antara lain diwujudkan dengan menjaga amanah, memelihara hubungan dengan sesama, menghormati kedua orang tua, dan berkata jujur.
Muhyiddin kembali menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh membiarkan kezaliman karena dampaknya dapat meluas ke kehidupan bersama.
Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk mencegah kemungkaran dan menyuarakan kebenaran sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Karena kalau kita biarkan, kita termasuk orang-orang yang melakukan kezaliman,” pungkasnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.