Editor
KOMPAS.com — Asap pembakaran sampah yang masuk ke rumah tetangga bukan sekadar persoalan kenyamanan.
Gangguan tersebut juga berkaitan dengan kewajiban menjaga hubungan baik dan tidak menyakiti orang lain.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, M Ishom el Saha, mengangkat persoalan itu melalui kisah Abdullah bin Salam, yang dalam tulisannya, disebut terganggu asap pembakaran sampah di pekarangan tetangganya.
“Semoga kisah Abdullah bin Salam ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua di tengah kabut asap yang melanda langit Indonesia,” tulis Ishom dikutip dari laman Kemenag, Sabtu (17/10/2026).
Baca juga: MUI Minta Pelaku Karhutla Ditindak, Ingatkan Fatwa Haram Pembakaran yang Merusak
Dengan merujuk kitab Hayat al-Shahabat, jilid III halaman 232, Ishom menuturkan bahwa asap tersebut mengganggu Abdullah bin Salam dan keluarganya hingga ia mengadukan perlakuan tetangganya kepada Rasulullah SAW.
Dalam kisah yang disampaikan Ishom, Abdullah bin Salam datang kepada Rasulullah SAW dan mengeluhkan tetangga yang menyakitinya.
Rasulullah kemudian memintanya bersabar. Namun, gangguan itu masih berlangsung sehingga ia kembali menyampaikan keluhan.
Setelah pengaduan berulang, Rasulullah memintanya mengeluarkan barang-barang rumah ke jalan. Ketika orang yang lewat bertanya, ia diminta menjelaskan bahwa dirinya mendapat gangguan dari tetangga.
Abdullah bin Salam kemudian menjalankan arahan tersebut. Barang-barang yang dikeluarkan dari rumah menarik perhatian orang-orang yang melintas.
Menurut penuturan Ishom, tetangga tersebut akhirnya mendengar keluhannya dan menghentikan kebiasaan membakar sampah yang menimbulkan gangguan.
Ishom menghubungkan kisah tersebut dengan ajaran Rasulullah SAW mengenai pentingnya berbuat baik kepada tetangga, menghormati tamu, serta menjaga ucapan.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa aktivitas di pekarangan sendiri tetap perlu memperhatikan dampaknya terhadap orang lain.
Melalui kisah tersebut, Ishom mengajak masyarakat mengambil pelajaran tentang kepedulian kepada sesama, terutama ketika asap pembakaran mengganggu lingkungan tempat tinggal.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.