Editor
KOMPAS.com — Jumadal Ula merupakan bulan kelima dalam kalender Hijriah. Sejumlah peristiwa pada masa Rasulullah SAW tercatat berlangsung pada bulan ini, mulai dari ekspedisi militer hingga pengiriman utusan untuk mengajak masyarakat memeluk Islam.
Ustadz M Tatam Wijaya menjelaskan, salah satu peristiwa tersebut adalah perjalanan Rasulullah SAW menghadapi Bani Sulaim di Buhran.
“Sejumlah peristiwa penting yang terjadi di bulan Jumadal Ula, terutama pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya ialah beliau berperang melawan Bani Sulaim di Buhran,” tulis Tatam dalam artikel berjudul Bulan Kelima: Jumadil Awwal, Jumadil Ula, atau Jumadal Ula?, dikutip dari NU Online, Selasa (20/10/2026).
Baca juga: Julaibib, Sahabat yang Dihormati Rasulullah dan Sempat Ditolak Calon Mertua
Keterangan tersebut merujuk pada Kitab al-Maghazi lil Waqidi karya Syekh Muhammad bin Umar bin Waqid.
Selain peristiwa di Buhran, Tatam menyebut pengiriman pasukan ekspedisi yang dipimpin Zaid bin Haritsah ke wilayah al-Ish berlangsung pada Jumadal Ula tahun keenam Hijriah.
Dalam uraian yang merujuk pada Al-Waqidi itu, pertempuran Khaibar juga disebut berlangsung pada Jumadal Ula tahun ketujuh Hijriah.
Berikutnya, pada tahun kedelapan Hijriah, Rasulullah SAW mengirim pasukan ke Mu’tah. Peristiwa ini termasuk dalam rangkaian catatan sejarah yang dikaitkan dengan bulan Jumadal Ula.
Pada bulan yang sama, menurut keterangan tersebut, Rasulullah SAW juga mengutus Khalid bin Walid untuk mengajak Bani al-Harits di Najran memeluk Islam.
“Bahkan, menurut Muhammad ibn Ishaq, perang Dzat al-Riqa‘ juga terjadi pada bulan ini,” tulis Tatam.
Baca juga: Doa Meminta Hujan dari Rasulullah, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Selain memiliki sejumlah catatan peristiwa sejarah, nama Jumadal Ula berkaitan dengan kondisi musim ketika penamaan bulan tersebut dilakukan.
Tatam menjelaskan, sebagaimana keterangan Abu Sa’id, penamaan Jumadal Ula dilatarbelakangi oleh musim dingin atau syita.
“Jumada sendiri berasal dari kata jamada, yang berarti ‘beku’ sesuai dengan keadaan air yang beku di musim dingin,” tulisnya, mengutip Ibnu Manzhur dalam Lisanul ‘Arab dan Al-Harawi dalam Tahdzib al-Lughah.
Merujuk pada Ibnu Duraid, Tatam menyebut bulan Jumadal Ula memiliki beberapa nama lain pada zaman Jahiliah, yakni al-Hanin, Rubba, Syaiban, dan Kanun al-Awwal.
Sementara itu, Jumadal Akhirah dikenal pula dengan sebutan Milhan dan Kanun al-Akhir.
Sebutan Syaiban dan Milhan juga menggambarkan suasana musim dingin. Keduanya berkaitan dengan warna putih salju yang menyerupai uban atau garam.
“Kata syaiban dan milhan ini dapat ditelusuri dari kata syaib yang berarti ‘uban’, dan kata milh yang berarti ‘garam.’ Keduanya menggambarkan keadaan salju di musim dingin yang putih seperti uban atau garam dan terjadi di bulan Jumadal Ula dan Jumadal Akhirah,” tutur Tatam, mengutip Abu al-Hasan dalam al-Mukhashish.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.