Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Musibah dan kehilangan dapat membuat seseorang merasa kehilangan harapan.
Namun, dalam pandangan Islam, keadaan yang menyakitkan dapat menjadi jalan kebaikan apabila dihadapi dengan kesabaran dan prasangka baik kepada Allah SWT.
“Bisa jadi apa yang tidak kita sukai sesungguhnya menyimpan banyak hikmah yang jauh lebih baik. Sebaliknya, bisa jadi sesuatu yang kita sukai justru mendatangkan banyak mudarat bagi kita,” ujar Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Niki Alma Febriana Fauzi dikutip dari laman Muhammadiyah, Selasa (20/10/2026).
Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Kaya Raya Namun Berdoa Minta Jadi Miskin
Ia mengajak jemaah mengambil pelajaran dari kisah Ummu Salamah dalam menghadapi kepergian suaminya, Abu Salamah.
Kisah tersebut menunjukkan pentingnya menjaga harapan kepada Allah di tengah kesedihan.
Niki mengisahkan, Abu Salamah dan Ummu Salamah merupakan pasangan sahabat Nabi Muhammad SAW yang saling mencintai dan taat kepada Allah.
Ketika Abu Salamah meninggal dunia, Ummu Salamah merasakan kesedihan mendalam. Dalam menghadapi musibah, Rasulullah SAW mengajarkan doa agar seseorang memohon pahala sekaligus pengganti yang lebih baik kepada Allah.
Doa tersebut berarti, “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”
Menurut Niki, doa itu mengajarkan kesadaran bahwa segala sesuatu merupakan milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Baca juga: 2 Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah: Bacaan, Arti, dan Keutamaannya untuk Berdoa
Kesadaran tersebut disertai permohonan agar Allah memberikan pahala atas musibah yang dihadapi serta menggantikan kehilangan dengan sesuatu yang lebih baik.
Ummu Salamah sempat bertanya dalam hati siapa yang dapat menjadi pengganti lebih baik daripada Abu Salamah. Ia merasa telah kehilangan sosok terbaik dalam hidupnya.
Namun, setelah masa idahnya berakhir, Ummu Salamah dilamar Rasulullah SAW dan kemudian menjadi istri beliau.
Niki menjelaskan, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa manusia belum tentu dapat melihat kebaikan di balik sebuah peristiwa ketika sedang mengalaminya.
Niki menghubungkan pelajaran dari kisah Ummu Salamah dengan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 216.
Artinya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 216).
Menurutnya, ayat tersebut mengingatkan manusia agar tidak terburu-buru menilai kehidupan hanya berdasarkan sesuatu yang terasa menyenangkan atau menyakitkan.
Pengetahuan manusia terbatas, sedangkan Allah mengetahui perkara yang belum dapat dipahami manusia.
Saat menghadapi musibah, seseorang mungkin merasa hidupnya hancur dan kesempatan untuk bahagia telah tertutup. Padahal, menurut Niki, masih ada kemungkinan kebaikan yang belum terlihat.
Sebaliknya, kenikmatan dapat membawa dampak buruk apabila membuat seseorang sombong dan semakin jauh dari Allah.
Karena itu, ia menekankan pentingnya husnuzan atau berprasangka baik kepada Allah.
Niki turut mengingatkan hadis qudsi tentang Allah yang sesuai dengan prasangka hamba-Nya kepada-Nya. Prasangka baik itu perlu diwujudkan dengan tetap mendekat kepada Allah ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.
Niki menjelaskan bahwa ujian kehidupan dapat berupa kesulitan maupun kenikmatan. Hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas amal dalam menghadapi keadaan tersebut.
Ia merujuk pada firman Allah dalam surah Al-Mulk ayat 2.
Artinya, “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk [67]: 2).
Menurut Niki, seseorang yang menghadapi kemiskinan atau penderitaan dapat memperoleh kebaikan apabila bersabar dan tetap mendekat kepada Allah.
Sementara itu, kekayaan, jabatan, dan kedudukan sosial dapat menjadi ujian apabila membuat seseorang sombong, mengabaikan agama, atau berselisih dengan sesama.
Dengan demikian, keadaan yang dialami seseorang perlu dilihat bersama cara ia menyikapinya.
Niki kemudian mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim tentang keadaan seorang mukmin.
Artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain orang mukmin.” (HR Muslim).
Ia menjelaskan, seorang mukmin memiliki kesempatan memperoleh kebaikan dalam berbagai keadaan melalui syukur dan sabar.
Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, menggunakan nikmat untuk beramal saleh, serta membantu orang lain. Ketika menghadapi kesulitan, ia bersabar dan tetap mendekat kepada Allah.
Niki mengajak jemaah menjadikan kisah Ummu Salamah sebagai pengingat untuk menjaga harapan saat menghadapi ujian. Meski tidak selalu dapat memilih keadaan yang datang, manusia tetap dapat menentukan sikap dan amal dalam menghadapinya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.