Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Agama (Kemenag) mengembangkan kosakata isyarat untuk istilah keislaman serta menyiapkan pelatihan bagi petugas layanan keagamaan guna mempermudah akses teman Tuli terhadap pembelajaran agama dan pendampingan keluarga.
Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan Kosa Isyarat Keislaman Indonesia (KOSMIN) dan program Ruang Inklusif dan Setara (RISE).
“Kami sudah launching KOSMIN, Kosakata Isyarat Keislaman, yang sedang kita susun untuk membantu teman-teman kita yang istimewa itu bisa memahami agama Islam, agama yang mereka anut itu, dengan cara yang lebih baik,” ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad dikutip dari laman Kemenag, Selasa (27/10/2026).
Baca juga: Kemenag Siapkan 15 Program Kerukunan, dari Nikah Akbar hingga Masjid Ramah Pemudik
Abu mengatakan, perluasan akses keagamaan juga perlu diikuti peningkatan kemampuan petugas agar dapat berkomunikasi dan memberikan pelayanan secara lebih inklusif.
Menurut Abu, sejumlah istilah dalam ajaran Islam, seperti iman, akhirat, dan fikih, membutuhkan padanan isyarat yang disepakati bersama oleh komunitas Tuli.
Pengembangan KOSMIN diharapkan dapat membantu mengurangi hambatan komunikasi dalam pembelajaran dan pembinaan keagamaan.
“Dengan adanya ini, akan ada kesepakatan di antara mereka isyarat apa yang paling tepat untuk bisa mendapatkan pengganti kosakata-kosakata keislaman,” jelasnya.
Selain mengembangkan kosakata isyarat, Kemenag telah menghadirkan eksibisi cabang bagi peserta Tuli dalam penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas partisipasi penyandang disabilitas dalam kegiatan keagamaan.
Baca juga: Kemenag Siapkan Masjid Ramah Pemudik untuk Libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027
Untuk memperkuat layanan keagamaan yang aksesibel, Ditjen Bimas Islam menyiapkan program RISE dalam rangkaian The Wonder of Harmony 2026.
Program ini berfokus pada peningkatan kapasitas pendakwah, penyuluh agama, dan konselor keluarga dalam memberikan pelayanan kepada penyandang disabilitas.
Pelaksanaannya berkolaborasi dengan Asosiasi Tuli Muslim Indonesia (ATMI), dengan melibatkan penyandang disabilitas sebagai penggerak sekaligus sumber pengetahuan mengenai kebutuhan komunitasnya.
Peserta akan dibekali keterampilan komunikasi yang aksesibel, pemahaman mengenai kebutuhan keluarga penyandang disabilitas, serta pendekatan pendampingan yang empatik dan setara.
Penguatan kapasitas tersebut dibagi menjadi dua kegiatan, yakni Pendakwah Inklusif bagi penyuluh agama dan penggerak dakwah, serta Konselor Keluarga Inklusif bagi tenaga konseling keluarga.
“Nah, yang terkait dengan RISE ini memang kita berharap ada cukup banyak orang yang bisa menggunakan bahasa isyarat, terutama dari kalangan para penyuluh agama dan penghulu,” ungkap Abu.
Kemampuan tersebut diharapkan membantu petugas memberikan pelayanan langsung kepada teman Tuli, mulai dari pembelajaran agama, pembinaan keluarga, hingga kegiatan di lingkungan masjid.
Abu mengakui, jumlah penyuluh agama dan penghulu yang menguasai bahasa isyarat masih terbatas.
Meski demikian, sejumlah daerah mulai mengembangkan kerja sama dengan komunitas setempat, termasuk di Kota Malang. Kolaborasi dengan perguruan tinggi yang memiliki pusat kajian terkait disabilitas juga mulai dilakukan, antara lain di Surabaya.
Kemenag berharap inisiatif tersebut dapat berkembang agar layanan keagamaan yang aksesibel semakin menjangkau masyarakat di berbagai daerah.
“Secara bertahap kami berharap makin banyak teman-teman Tuli yang mendapatkan manfaat dari ini. Terutama kita mendorong agar para penyuluh agama dan juga para penghulu makin banyak yang menguasai bahasa isyarat ini,” katanya.
Abu juga berencana mendorong lebih banyak petugas layanan keagamaan mengikuti pelatihan atau kursus bahasa isyarat.
Dengan demikian, peningkatan kemampuan komunikasi dapat menjadi bagian dari penguatan kapasitas petugas secara berkelanjutan.
“Saya kira ini inisiatif kecil yang saya berharap bisa memberikan dampak yang nyata bagi kawan-kawan kita. Tentu dengan segala keterbatasan kami akan terus mendorongnya sebesar-besarnya,” ujarnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.