Editor
KOMPAS.com — Al-Quran menyebut harta dan anak sebagai perhiasan kehidupan dunia.
Sebutan tersebut menjadi pengingat bahwa keduanya bersifat sementara, sekaligus mengajak orang tua memperhatikan pendidikan dan kebaikan yang ditanamkan kepada anak.
Alumnus Pondok Pesantren (PP) Nurul Cholil sekaligus Perumus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Nurul Cholil, Syifaul Qulub Amin, menjelaskan bahwa anak merupakan amanah Allah SWT yang perlu dididik dengan kasih sayang.
Baca juga: Cemburu Anak Lebih Dekat dengan Kakek-Nenek? Begini Menyikapinya dalam Islam
Menurut pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan, tersebut, tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada membesarkan dan memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga membimbing mereka menjadi pribadi yang saleh dan salehah.
“Anak merupakan amanah berharga yang dititipkan Allah SWT kepada orang tua,” tutur Syifauldi kutip dari NU Online, Kamis (29/10/2026).
Syifaul merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Kahf ayat 46:
اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا
Artinya, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS Al-Kahf [18]: 46).
Mengutip penjelasan Imam al-Baidhawi dalam Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta'wil, Syifaul menyampaikan bahwa harta dan anak menjadi perhiasan bagi manusia selama hidup di dunia.
Namun, keberadaan keduanya tidak kekal.
Baca juga: Doa Orangtua untuk Anak yang Menghadapi TKA, Beserta Artinya
Karena itu, kebahagiaan yang diperoleh melalui harta dan anak perlu disertai kesadaran bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.
Dalam ayat yang sama, Allah menyebut al-baqiyatus shalihat, yakni amal kebajikan yang kekal pahalanya, sebagai sesuatu yang lebih baik balasannya dan lebih layak menjadi harapan.
Syifaul mengutip Syekh Nawawi Banten dalam Marahul Labid yang menyebut sejumlah contoh amal tersebut, antara lain shalat lima waktu, ibadah haji, puasa Ramadhan, dan perkataan yang baik.
Merujuk pada tafsir Al-Bahrul Muhith karya Imam Abu Hayyan, Syifaul menjelaskan bahwa sifat sementara harta dan anak menjadi pengingat agar manusia tidak menjadikannya alasan untuk menyombongkan diri.
Penjelasan tersebut berkaitan dengan kritik terhadap orang-orang musyrik yang membanggakan banyaknya harta dan anak di hadapan kaum Mukmin yang miskin.
“Penjelasan Abu Hayyan ini mengingatkan bahwa harta dan anak bukanlah sesuatu yang layak dijadikan alasan untuk menyombongkan diri,” tulis Syifaul.
Menurutnya, pesan tersebut perlu dipahami sebagai ajakan untuk mengutamakan amal saleh, bukan mengabaikan tanggung jawab terhadap keluarga.
Harta dapat digunakan untuk bersedekah, membangun masjid, dan mendukung amal jariah lainnya. Sementara itu, orang tua dapat membimbing anak agar tumbuh dengan keimanan dan akhlak yang baik.
Syifaul juga merujuk penjelasan Imam al-Qurthubi bahwa keutamaan amal kebajikan dibandingkan harta dan anak berkaitan dengan harta dan anak yang tidak disertai amal kebaikan.
Dengan demikian, menurut Syifaul, anak tetap dapat menjadi jalan kebaikan bagi orang tua melalui pendidikan yang diberikan, doa, dan amal salehnya.
Ia menjelaskan, anak yang saleh dan salehah dapat terus mendoakan orang tua, termasuk setelah keduanya meninggal dunia.
“Dengan demikian, anak yang dididik dengan baik hingga menjadi saleh dan salehah tidak hanya menjadi kebahagiaan orang tua di dunia, tetapi juga dapat menjadi sumber pahala di akhirat melalui doa dan amal kebaikannya,” tulisnya.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya mendidik anak dengan sepenuh hati.
Pengasuhan perlu mencakup pemenuhan kebutuhan hidup sekaligus penanaman keimanan, pembiasaan ibadah, dan pembentukan akhlak.
Melalui pendidikan tersebut, orang tua diharapkan dapat menanamkan kebaikan yang manfaatnya terus berlanjut, melampaui kebahagiaan selama hidup di dunia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.