Editor
KOMPAS.com - Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo HR Muhammad Syafi’i mengajak para santri mewaspadai empat hal yang disebutnya sebagai ancaman bagi masa depan generasi muda dan keutuhan bangsa.
Ajakan tersebut disampaikan Wamenag saat membuka kegiatan Pramuka antar-pesantren se-Banten, Jawa Barat, dan Lampung, sekaligus memperingati Milad ke-30 Pondok Pesantren Manahijussadat, Kabupaten Lebak, Senin (2/11/2026).
"Jangan sampai anak muda kehilangan jati dirinya sebagai anak bangsa," kata Wamenag Romo M Syafi'i.
Baca juga: Wamenag Soroti Pembebasan Bersyarat Bechi, Singgung Perlindungan Korban dan Keamanan Santri
Wamenag menjelaskan, ancaman pertama adalah terorisme yang menggunakan hasutan untuk menumbuhkan kebencian terhadap negara sendiri dan memecah persatuan bangsa.
Kedua, peredaran narkoba yang menurutnya telah menjangkau hingga wilayah pedesaan. Ia menilai peredaran barang terlarang tersebut melibatkan pihak-pihak yang memiliki sasaran kalangan muda.
Baca juga: Wamenag Minta Jaksa Agung Beri Hukuman Maksimal bagi Pelaku Kekerasan di Pesantren
Ketiga, Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Wamenag menyebut fenomena tersebut sebagai bagian dari program internasional yang menurut pandangannya dapat merusak moral bangsa, terutama karena dinilai bertentangan dengan nilai agama dan kebangsaan.
Ia juga menilai LGBT berpotensi meruntuhkan moral masyarakat dan nilai-nilai kemanusiaan.
"Kami minta santri pramuka dengan tegas menolak terorisme, narkoba, dan LGBT," katanya.
Keempat, pengendalian melalui sistem digital, termasuk penggunaan telepon pintar atau smartphone. Menurut Wamenag, perangkat digital dapat digunakan untuk berbagai kepentingan sehingga perlu dimanfaatkan secara bijak.
Wamenag mengatakan, perkembangan era digital memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam berkomunikasi dan menjalin silaturahmi.
Handphone juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan positif selama digunakan sesuai kebutuhan.
Namun, ia mengingatkan para santri agar tidak terjerumus dalam penggunaan teknologi untuk hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama.
"Tetapi, jangan terjebak untuk hal- hal yang dilarang Allah," ucap Wamenag Romo M Syafi'i.
Selain menyampaikan pesan tentang ancaman terhadap generasi muda, Wamenag mengingatkan kembali kontribusi pesantren dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Ia mengatakan, para pejuang kemerdekaan Indonesia banyak berasal dari kalangan alumni pesantren.
Mereka turut berperan dalam Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BUPKI), yang kemudian menjadi tim perumus Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Menurut Wamenag, keterlibatan alumni pesantren dalam proses tersebut menunjukkan eratnya hubungan antara sejarah kemerdekaan Indonesia dan dunia pesantren.
Ia juga menyinggung Resolusi Jihad yang dideklarasikan para ulama dan kalangan pesantren di Jawa Timur.
Resolusi tersebut menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan.
"Mereka mempertahankan negara dengan meregang nyawa," kata Wamenag.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.