Editor
KOMPAS.com - Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu malam paling istimewa dalam bulan Ramadhan yang dinantikan umat Islam.
Malam ini diyakini sebagai waktu penuh keberkahan, ampunan, dan rahmat dari Allah SWT.
Karena kemuliaannya, banyak umat Islam berusaha meraih keberkahan malam Lailatul Qadar dengan memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Meski waktu pastinya tidak diketahui, sejumlah tanda diyakini dapat menjadi petunjuk datangnya malam Lailatul Qadar.
Baca juga: Malam Lailatul Qadar 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa? Ini Jadwalnya
Dilansir dari laman MUI, KH. Abdul Muiz Ali, menjelaskan bahwa ada beberapa ciri yang dapat dirasakan oleh umat Islam.
Menurut KH. Abdul Muiz Ali, salah satu tanda datangnya malam Lailatul Qadar adalah suasana malam yang terasa tenang dan nyaman untuk beribadah.
"Ada tanda-tandanya. Salah satunya, tidak dalam keadaan hujan. Tidak dalam keadaan hujan, dan ia merasakan tenang untuk ibadah itu. Tidak hujan dan tidak panas," ungkapnya dalam wawancaranya dengan MUIDigital pada Sabtu (15/3/2025).
Beliau juga merujuk pada sejumlah hadis yang menjelaskan tanda datangnya malam Lailatul Qadar. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab.
هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.
“Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam kedua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru” (HR. Muslim no. 762, dari Ubay bin Ka’ab).
Hadis tersebut menjelaskan bahwa salah satu tanda Lailatul Qadar dapat terlihat pada pagi harinya, ketika matahari terbit dengan warna putih dan tidak memancarkan sinar yang kuat.
Tanda lain yang juga disebutkan dalam hadis adalah kondisi matahari pada pagi hari setelah malam Lailatul Qadar.
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء
"Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin. Pada pagi hari, matahari bersinar tidak begitu cerah dan tampak kemerah-merahan." (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361).
Hadis tersebut menggambarkan bahwa malam Lailatul Qadar berlangsung dengan suasana yang damai dan sejuk. Pada pagi harinya, matahari tampak kemerah-merahan dengan cahaya yang tidak terlalu menyilaukan.
Beliau juga menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar diyakini terjadi pada salah satu malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Beberapa malam yang sering disebut memiliki potensi terjadinya Lailatul Qadar adalah malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, dan ke-29 Ramadhan.
"Kalau malam Ramadan-nya hari ini, maka Lailatul Qadar-nya malam kesekian."
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan malam Lailatul Qadar dapat diperkirakan berdasarkan perhitungan hari pertama puasa yang dijalankan.
Meski terdapat sejumlah tanda yang disebutkan dalam hadis, KH. Abdul Muiz Ali mengingatkan agar umat Islam tidak hanya terpaku pada pencarian tanda-tanda tersebut.
"Yang seharusnya dilakukan adalah menghidupkan malam itu dengan ibadah, bukan mencari tanda-tandanya," tambahnya.
Ia menegaskan bahwa yang lebih penting adalah memaksimalkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan amal kebaikan.
Dengan demikian, umat Islam diharapkan dapat meraih keberkahan malam Lailatul Qadar tanpa harus terlalu fokus pada tanda-tandanya, melainkan dengan meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang