JEDDAH, KOMPAS.com- Chulaeli Ali (73), lansia asal Pidodowetan, Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah itu tampak tertegun sesaat di atas kursi rodanya.
Tangan keriputnya bergetar menerima amplop berisi uang dari petugas haji daerah kerja (Daker) Bandara.
"Ini buat Mbah ya, rezeki untuk keluarga Mbah Chulaeli di rumah," kata seorang petugas haji di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, Selasa (9/6/2026).
Sesaat kemudian tangis Chulaeli pecah. Tak banyak kata terucap, kecuali ucapan terima kasih.
"Maturnuwun (terima kasih)," ujar lansia yang pernah mengalami stroke tersebut lirih sembari mengusap air matanya.
Chulaeli adalah seorang petani asal Kendal, Jawa Tengah. Dia pernah bekerja sebagai penarik becak motor dan membuka tempat tambal ban yang dikelola oleh sang istri.
Namun beberapa tahun lalu, Chulaeli menderita stroke hingga mengalami keterbatasan gerak. Praktis, saat itu Chulaeli tak lagi bisa bekerja. Selama beribadah haji di Tanah Suci, Chulaeli menggunakan kursi roda untuk mobilitas.
Baca juga: Tangis Haru Nenek Jumaria Ikon Mecca Route, Tuntaskan Haji: Ingin Kembali Lagi ke Tanah Suci
Chulaeli menangis saat menerima bantuan dari petugas daker Bandara di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi. Kisah Chulaeli, yang berangkat haji seorang diri pada usia senjanya tersebar setelah kakek kelahiran 21 Februari 1953 tersebut mengikuti safari wukuf pada Selasa (26/5/2026).
Safari wukuf adalah layanan khusus dari pemerintah yang memfasilitasi jemaah lansia agar tetap bisa mengikuti wukuf di Arafah.
Petugas Lansia dan Disabilitas (Landis) Sektor 2 Makkah Kamal Pramayuda mengetahui kisah Chulaeli saat membantu lansia tersebut selama proses safari wukuf, saat berada di kendaraan hingga setelah pelayanan.
"Saya pendamping Bapak Chulaeli selama safari wukuf lansia, mulanya beliau itu sering menangis jika kami ajak berbincang tentang keluarganya," kata Kamal kepada Kompas.com.
Interaksi dalam waktu yang cukup lama sebagai pendamping, membuat Kamal mengetahui sosok Mbah Chulaeli. Selain berangkat berhaji seorang diri dengan kursi roda, Mbah Chulaeli juga membawa bekal yang terbatas.
"Pernah suatu saat saya bertanya tentang oleh-oleh untuk keluarganya, saat itu Mbah Chulaleli semakin menangis karena belum membeli oleh-oleh. Hal itu yang membuat hati kami tergerak," kata dia.
Baca juga: Kisah-kisah Anak Berbakti di Haji 2026: Demi Ibu, Gushendra Latihan Jalan 3 Km Per Hari
Kamal dan sejumlah temannya kemudian berinisiatif untuk membelikan Chulaeli oleh-oleh bagi istri, anak, dan cucunya di kampung halaman. Gerakan kebaikan itu meluas saat kisah Mbah Chulaeli menyebar di kalangan petugas haji Sektor 2 Makkah. Petugas haji juga membantu Chulaeli merapikan kopernya lantaran Chulaeli mengalami keterbatasan gerak.
"Ada beberapa teman yang kemudian dengan sukarela bahu-membahu membelikan oleh-oleh untuk beliau. Alhamdulillah terkumpul sangat banyak, ada abaya, sorban, coklat, kurma, boneka, sangat tidak disangka," kata Kamal.
Baca juga: Kisah Nenek 105 Tahun Menabung di Kaleng dari Jual Bubur Demi Berhaji
Ketua Regu 2 Kloter 20 SOC asal Kendal Masruri (57) merasa terharu dengan perhatian petugas haji, teman-teman seregu, dan serombongan Chulaeli.
"Perhatian petugas dan teman-teman itu sangat luar biasa, seperti pada keluarganya sendiri," kata dia saat ditemui di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi, Selasa (9/6/2026) sebelum bertolak ke Tanah Air.
Bantuan tenaga juga terus berdatangan sejak Chulaeli mengikuti proses manasik dan selama ibadah haji berlangsung.
"Ada yang mencucikan baju, menyuapi, kadang membelikan bubur kentang, saya berterima kasih," ungkapnya.
Kabar mengenai kisah sang ayah dan 'pelukan' petugas haji Indonesia di Arab Saudi sampai ke keluarga Chulaeli.
Sang anak, Khaedar (50) mengaku terharu dan bersyukur karena Chulaeli bisa menyelesaikan ibadah haji dengan lancar di tengah keterbatasan.
"Terima kasih kepada semua yang telah membantu dan memperhatikan bapak saya, saya mewakili keluarga Pak Chulaeli tidak bisa membalas satu-persatu," katanya terharu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang