Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menhaj: Haji 2026 Tetap Jalan, Mitigasi Disiapkan di Tengah Konflik

Kompas.com, 31 Maret 2026, 16:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Pemerintah menegaskan penyelenggaraan ibadah haji 2026 tetap dipersiapkan berjalan sesuai jadwal, di tengah dinamika geopolitik global yang belum sepenuhnya stabil.

Aspek mitigasi risiko dan keselamatan jemaah menjadi fokus utama dalam setiap skenario yang disiapkan.

Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan bahwa apa pun situasi yang terjadi, keselamatan dan keamanan jemaah menjadi pertimbangan paling utama dalam pengambilan kebijakan.

“Keselamatan dan keamanan jemaah haji menjadi prioritas utama. Karena itu kita melakukan mitigasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi,” ujar Irfan dalam Bincang Haji Outlook 2026 di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Menurut Irfan, pemerintah terus menjalin koordinasi intensif dengan otoritas Arab Saudi guna memastikan seluruh proses berjalan aman.

Ia menyebut komunikasi lintas negara menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian global.

Dalam menghadapi situasi geopolitik yang dinamis, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skenario mitigasi.

Baca juga: Kemenhaj Maksimalkan Klinik Haji di Armuzna, Fokus Jemaah Lansia

Skenario pertama adalah pelaksanaan haji tetap berjalan normal apabila kondisi dinilai aman hingga masa keberangkatan.

Namun, jika situasi memburuk dan dinyatakan dalam kondisi darurat, pemerintah membuka kemungkinan penundaan keberangkatan jemaah.

“Ada kemungkinan pemberangkatan tidak semua, atau bahkan tidak berangkat sama sekali jika situasi tidak memungkinkan,” kata Irfan.

Skenario lain yang disiapkan adalah tetap memberangkatkan seluruh jemaah, tetapi melalui jalur penerbangan berbeda. Opsi ini berpotensi membuat durasi perjalanan lebih panjang karena harus memutar rute.

“Kalau harus melalui jalur berbeda tentu akan menambah waktu tempuh, berpengaruh pada kondisi jemaah yang lebih lelah, dan juga berdampak pada biaya,” ungkapnya.

Saat ini, penerbangan haji Indonesia umumnya dilakukan secara langsung (direct flight), baik untuk jemaah reguler maupun khusus.

Baca juga: Sambut Haji 2026, 45 Klinik Kesehatan Disiagakan di Makkah dan Madinah

Namun dalam kondisi tertentu, perubahan rute menjadi salah satu opsi yang harus dipertimbangkan.

Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI), Firman M. Nur, menyebut hingga kini belum ada alternatif pasti untuk skema penerbangan jemaah haji khusus jika terjadi perubahan jalur.

“Haji khusus mayoritas menggunakan pesawat reguler, baik Garuda, Saudia, maupun maskapai Timur Tengah lainnya. Sampai saat ini belum ada alternatif lain terkait penerbangan transit tersebut,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah dapat membantu koordinasi dengan maskapai nasional untuk menyiapkan kemungkinan tambahan armada jika diperlukan.

Menanggapi hal tersebut, Irfan menjelaskan bahwa kesiapan penambahan armada sangat bergantung pada maskapai, termasuk Garuda Indonesia yang selama ini melayani penerbangan haji.

“Garuda juga harus menyewa pesawat dari luar negeri. Menyewa pesawat tidak seperti menyewa taksi, harus disiapkan jauh-jauh hari,” kata Irfan.

Dari sisi pembiayaan, Ketua Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Firmansyah N. Nazaroedin, memastikan pihaknya terus melakukan mitigasi risiko secara konsisten, termasuk terkait potensi kenaikan biaya akibat perubahan rute penerbangan.

“Dari sisi likuiditas, keamanan, dan investasi, kami terus melakukan mitigasi risiko secara terus-menerus. Kalau ada penyesuaian biaya, tentu perlu review ulang sesuai ketentuan,” ujarnya.

Baca juga: Seruan Wamenhaj: Redam Konflik Dunia Demi Haji 2026 Berjalan Aman

Sementara itu, Ketua Komisi VIII DPR, Marwan Dasopang, meminta pemerintah tetap menjalankan persiapan secara normal, sembari memperkuat langkah mitigasi menghadapi kemungkinan terburuk.

“Persiapan tetap dilakukan normal, tidak ada yang berubah. Tapi dalam kondisi normal pun kita sudah menghadapi tantangan,” kata Marwan.

Ia menyoroti potensi risiko jika situasi geopolitik memburuk saat jemaah sudah berada di Tanah Suci.

Dalam kondisi tersebut, pemerintah diminta memastikan skenario darurat, termasuk kepulangan jemaah dan keamanan dana.

“Kalau tidak jadi berangkat, uang yang sudah dibayarkan jangan sampai hilang. Kalau sudah di sana dan situasi memburuk, harus ada skenario pemulangan, termasuk mencari rute baru,” ujarnya.

Marwan juga menekankan pentingnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk dengan Kementerian Luar Negeri dan otoritas imigrasi, untuk mengantisipasi situasi darurat.

“Dalam situasi seperti ini, koordinasi harus lebih luas. Tapi tetap saja, keselamatan dan keamanan jemaah itu yang paling penting,” kata dia.

Meski berbagai skenario telah disiapkan, pemerintah tetap optimistis penyelenggaraan haji 2026 berjalan sesuai rencana.

Hingga kini, keberangkatan jemaah masih dijadwalkan dimulai pada 22 April 2026, sambil terus memantau perkembangan situasi global.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar