Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asal Usul Hormuz hingga Duel Khalid bin Walid yang Mengubah Sejarah

Kompas.com, 3 April 2026, 16:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Nama Hormuz mungkin lebih sering terdengar dalam konteks geopolitik modern, sebagai selat sempit yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Namun, jauh sebelum menjadi sorotan global, “Hormuz” telah menyimpan jejak panjang sejarah, mulai dari akar mitologi Persia kuno, kejayaan kerajaan maritim, hingga kisah dramatis duel maut antara Khalid bin Walid dan Hormuz dalam Perang Dzatus Salasil.

Kisah ini bukan sekadar catatan peperangan, melainkan potret benturan peradaban yang mengubah arah sejarah dunia.

Baca juga: Iran Buka Jalur Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz

Akar Nama Hormuz: Dari Mitologi ke Identitas Peradaban

Secara etimologis, nama “Hormuz” diyakini berasal dari kata “Hormizd”, yang merujuk pada Ahura Mazda, Tuhan dalam ajaran Zoroastrianisme, agama kuno Persia.

Dalam literatur sejarah, seperti dijelaskan dalam buku The Persian Empire karya Lindsay Allen, Ahura Mazda dipandang sebagai simbol cahaya, kebenaran, dan kebijaksanaan.

Nama ini kemudian diadopsi oleh raja-raja Persia sebagai legitimasi spiritual kekuasaan mereka.

Tak heran, wilayah strategis seperti Hormuz juga menyandang nama tersebut. Ia bukan sekadar lokasi geografis, tetapi simbol kekuasaan, spiritualitas, dan identitas bangsa Persia.

Baca juga: Jejak Kota Ubullah: Pelabuhan Persia yang Ditaklukkan Khalid bin Walid, Kini Tinggal Nama

Kerajaan Hormuz: Permata Perdagangan Dunia

Pada abad ke-10 hingga ke-17, Kerajaan Hormuz menjelma menjadi salah satu pusat perdagangan paling kaya di dunia.

Dalam buku The Indian Ocean in World History karya Milo Kearney, Hormuz disebut sebagai “simpul perdagangan global” yang menghubungkan:

  • India dan Asia Tenggara (rempah dan sutra)
  • Persia (karpet, mutiara, kuda)
  • Afrika Timur (emas dan gading)

Meski wilayahnya gersang, kekuatan Hormuz terletak pada posisinya yang strategis di jalur perdagangan laut. Pepatah kuno bahkan menyebut, “Jika dunia adalah cincin, maka Hormuz adalah permatanya.”

Kejatuhan Hormuz: Dari Portugis hingga Safawi

Tahun 1507 menjadi titik balik ketika Afonso de Albuquerque menaklukkan Hormuz. Portugis membangun benteng dan menjadikan wilayah ini pangkalan militer untuk menguasai Samudra Hindia.

Lebih dari satu abad kemudian, pada 1622, Shah Abbas I bersama bantuan Inggris berhasil merebut kembali Hormuz.

Namun ironisnya, kejayaan Hormuz tidak kembali. Pusat perdagangan dipindahkan ke Bandar Abbas, menandai berakhirnya era keemasan kerajaan ini.

Sosok Hormuz: Panglima Persia yang Ditakuti

Dalam konteks militer, nama Hormuz juga merujuk pada seorang panglima Persia yang menjabat sebagai marzban (gubernur perbatasan).

Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, Hormuz digambarkan sebagai sosok keras, disiplin, dan sangat loyal kepada Kekaisaran Sassaniyah.

Ia dikenal tegas terhadap rakyatnya, terutama suku-suku Arab di wilayah perbatasan. Namun di sisi lain, ia adalah bangsawan elite dengan kedudukan tinggi dan simbol kekuasaan Persia.

Baca juga: Khalid bin Walid, Dari Lawan Tangguh Menjadi Pedang Allah

Awal Konflik: Ekspedisi Khalid Menuju Persia

Setelah menumpas pemberontakan dalam Perang Riddah, Khalifah Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid untuk bergerak ke wilayah Persia.

Dalam buku Panglima Perang Islam karya Mahmud Syit Khattab, disebutkan bahwa Khalid mengirim surat kepada Hormuz dengan tiga pilihan: masuk Islam, membayar jizyah atau berperang.

Hormuz memilih perang. Ia mengumpulkan pasukan besar dan bergerak ke Kazima (wilayah Kuwait modern), menyiapkan pertempuran yang kelak dikenal sebagai Perang Rantai.

Strategi Pasukan Rantai: Kekuatan yang Berbalik Jadi Kelemahan

Salah satu strategi unik Hormuz adalah merantai pasukannya. Tujuannya jelas, mencegah mereka mundur.

Namun, dalam Tarikh al-Tabari karya Al-Tabari, strategi ini justru menjadi bumerang. Pasukan kehilangan fleksibilitas dan mudah kelelahan.

Di sisi lain, Khalid menggunakan taktik mobilitas tinggi. Ia memaksa pasukan Persia bergerak terus-menerus di bawah panas gurun, menguras energi mereka sebelum pertempuran utama dimulai.

Duel Maut: Khalid vs Hormuz

Di tengah tensi pertempuran yang kian memuncak dalam Perang Dzatus Salasil, sebuah tradisi perang kuno kembali dihidupkan: duel satu lawan satu antara dua panglima.

Hormuz, dengan penuh percaya diri, turun dari kudanya. Ia melangkah ke depan barisan, mengenakan zirah kebesaran Persia yang berkilau di bawah terik matahari gurun.

Sebagai panglima sekaligus bangsawan tinggi Kekaisaran Sassaniyah, ia tidak hanya membawa senjata, tetapi juga harga diri imperium besar di pundaknya.

Dengan suara lantang, ia menantang langsung Khalid bin Walid untuk bertarung. Tantangan itu bukan sekadar ajakan duel, melainkan pesan simbolik, Persia tidak gentar menghadapi kekuatan baru dari jazirah Arab.

Tanpa ragu sedikit pun, Khalid bin Walid menyambut tantangan tersebut. Ia turun dari kudanya dengan tenang, tanpa gestur berlebihan.

Dalam dirinya, tidak hanya ada keberanian, tetapi juga keyakinan yang kuat, sebuah ketenangan yang lahir dari pengalaman panjang di medan perang.

Namun, duel ini bukan duel biasa. Menurut riwayat yang disebutkan dalam karya Ibnu Katsir, Hormuz telah menyiapkan siasat tersembunyi.

Baca juga: Ini Sosok Hormuz, Panglima Persia Penantang Khalid bin Walid

Ia memerintahkan sejumlah prajurit elit untuk bersembunyi di belakang garis pertempuran. Rencananya sederhana namun licik, saat duel berlangsung dan Khalid lengah, pasukan tersebut akan menyerbu dari belakang dan mengakhiri pertarungan secara tidak terhormat.

Duel pun dimulai. Kedua pedang beradu dengan keras, memecah keheningan medan perang. Hormuz menyerang dengan kekuatan penuh, mengandalkan fisik dan perlengkapan tempurnya yang berat.

Setiap ayunan pedangnya menunjukkan pengalaman dan kekuatan seorang panglima yang telah lama ditempa dalam peperangan besar.

Di sisi lain, Khalid bergerak dengan lebih lincah. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga kecepatan, ketepatan, dan insting tempur yang tajam. Ia membaca setiap gerakan lawan, mencari celah sekecil apa pun.

Pertarungan berlangsung sengit. Debu gurun beterbangan, suara benturan logam menggema, sementara kedua pasukan hanya bisa menyaksikan dengan tegang, seolah waktu berhenti di titik itu.

Di tengah duel yang memanas, rencana Hormuz mulai dijalankan. Dari belakang, pasukan elit Persia bergerak cepat untuk mengepung Khalid.

Situasi menjadi sangat genting. Dalam hitungan detik, duel satu lawan satu berubah menjadi ancaman serangan dari berbagai arah.

Namun, di saat krusial itulah keunggulan pasukan Muslim terlihat. Qa'qa' bin Amr yang sejak awal waspada terhadap gerak-gerik lawan, segera bergerak.

Ia bersama pasukan pendukungnya langsung menghadang serangan mendadak tersebut, memukul mundur prajurit elit Persia sebelum mereka mencapai Khalid. Duel kembali menjadi satu lawan satu.

Momentum pun berbalik. Khalid memanfaatkan kekacauan kecil itu dengan sangat cepat. Ia mendekat, mengunci ruang gerak Hormuz, dan melancarkan serangan yang lebih agresif. Dalam satu momen yang menentukan, Khalid berhasil menjatuhkan lawannya.

Riwayat menyebutkan bahwa Khalid bahkan sempat mencekik dan menekan Hormuz hingga kehilangan keseimbangan, sebelum akhirnya menewaskannya dalam duel tersebut.

Kematian Hormuz terjadi begitu cepat, tetapi dampaknya sangat besar. Sosok yang selama ini menjadi simbol kekuatan dan ketakutan bagi pasukan Persia tiba-tiba tumbang di hadapan mata mereka sendiri.

Tidak ada waktu untuk konsolidasi. Tidak ada komando pengganti yang siap mengambil alih dengan cepat.

Dalam sekejap, moral pasukan Persia runtuh. Barisan yang sebelumnya terlihat kokoh mulai goyah.

Sebagian panik, sebagian mencoba melarikan diri, namun rantai yang mengikat mereka justru menjadi penghalang. Kekacauan pun tak terhindarkan.

Di sisi lain, pasukan Muslim melihat momen itu sebagai sinyal kemenangan. Serangan dilancarkan secara serempak.

Apa yang sebelumnya duel antara dua orang berubah menjadi kemenangan besar yang menentukan arah pertempuran.

Duel tersebut bukan hanya pertarungan fisik antara dua panglima, tetapi juga simbol benturan dua dunia, antara imperium lama yang mengandalkan kekuatan struktur dan tradisi, dengan kekuatan baru yang bertumpu pada strategi, keimanan, dan ketangguhan mental. Dan di titik itulah, sejarah mulai berubah arah.

Baca juga: Keimanan yang Dibayar Mahal, Kisah Keteguhan Khalid bin Said Al Ash

Dampak Besar: Runtuhnya Dominasi Persia di Teluk

Kemenangan dalam Perang Dzatus Salasil membuka jalan besar bagi ekspansi Islam ke wilayah Persia.

Dalam buku The Great Arab Conquests, Hugh Kennedy menegaskan bahwa kemenangan ini memiliki dampak psikologis yang besar. Persia mulai kehilangan dominasi, sementara pasukan Muslim semakin percaya diri.

Selain itu, harta rampasan perang (ghanimah) dalam jumlah besar memperkuat logistik dan ekonomi pasukan Islam.

Selat Hormuz Hari Ini: Warisan Sejarah yang Terus Hidup

Kini, Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial global.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Setiap konflik di wilayah ini berpotensi mengguncang ekonomi dunia.

Sejarah panjang Hormuz, dari mitologi, kerajaan, hingga peperangan, membentuk posisinya hari ini sebagai salah satu wilayah paling strategis.

Lebih dari Sekadar Sejarah

Kisah Hormuz dan Khalid bin Walid bukan hanya tentang perang. Ia adalah refleksi tentang bagaimana kekuatan, strategi, dan keyakinan bertemu dalam satu titik sejarah.

Dari nama yang berasal dari dewa, kejayaan perdagangan, hingga jatuhnya panglima besar di medan perang, semuanya menyatu dalam satu narasi panjang yang masih relevan hingga kini.

Dan mungkin, di situlah letak daya tariknya, sebuah nama kecil di peta dunia yang ternyata menyimpan kisah besar tentang peradaban, kekuasaan, dan perubahan sejarah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Judi Online Kian Marak, Ini Penjelasan Lengkap Hukum dan Dampaknya dalam Islam Menurut MUI
Judi Online Kian Marak, Ini Penjelasan Lengkap Hukum dan Dampaknya dalam Islam Menurut MUI
Aktual
Bacaan Tahlil Lengkap Arab, Latin, dan Artinya, Disertai Doa Tahlil untuk Orang Meninggal
Bacaan Tahlil Lengkap Arab, Latin, dan Artinya, Disertai Doa Tahlil untuk Orang Meninggal
Doa dan Niat
Haedar Nashir Tegas: Rezim Boleh Berganti, Muhammadiyah Tetap Kawal Arah Bangsa
Haedar Nashir Tegas: Rezim Boleh Berganti, Muhammadiyah Tetap Kawal Arah Bangsa
Aktual
MUI Serukan Perang Lawan Konten Amoral! Ruang Digital RI Disebut Darurat, Generasi Muda Terancam
MUI Serukan Perang Lawan Konten Amoral! Ruang Digital RI Disebut Darurat, Generasi Muda Terancam
Aktual
20 Sifat Wajib Allah SWT: Arti, Makna, dan Penjelasan Lengkap
20 Sifat Wajib Allah SWT: Arti, Makna, dan Penjelasan Lengkap
Aktual
Doa Menghadapi Musibah Gempa Bumi serta Hikmah Terjadinya Bencana dalam Islam
Doa Menghadapi Musibah Gempa Bumi serta Hikmah Terjadinya Bencana dalam Islam
Aktual
Kemenhaj Cegah Haji Ilegal, Bayar Rp 100 Juta Bisa Lolos ke Arab Saudi
Kemenhaj Cegah Haji Ilegal, Bayar Rp 100 Juta Bisa Lolos ke Arab Saudi
Aktual
Panduan Ruqyah Mandiri di Rumah Sesuai Sunnah, Lengkap Bacaannya
Panduan Ruqyah Mandiri di Rumah Sesuai Sunnah, Lengkap Bacaannya
Aktual
Kisah Runtuhnya Persia: Strategi Islam dari Abu Bakar ke Umar
Kisah Runtuhnya Persia: Strategi Islam dari Abu Bakar ke Umar
Aktual
Cegah Praktik Haji Ilegal, Kemenhaj Perkuat Kolaborasi Lintas Kementerian
Cegah Praktik Haji Ilegal, Kemenhaj Perkuat Kolaborasi Lintas Kementerian
Aktual
Daftar Vaksinasi Wajib dan Tambahan untuk Calon Jamaah Haji 2026
Daftar Vaksinasi Wajib dan Tambahan untuk Calon Jamaah Haji 2026
Aktual
Hati-hati, Ini Penyebab Doa Sulit Diijabah Menurut Islam
Hati-hati, Ini Penyebab Doa Sulit Diijabah Menurut Islam
Aktual
Asal Usul Hormuz hingga Duel Khalid bin Walid yang Mengubah Sejarah
Asal Usul Hormuz hingga Duel Khalid bin Walid yang Mengubah Sejarah
Aktual
Harta Rampasan Perang Khalid vs Hormuz: Fakta yang Jarang Dibahas
Harta Rampasan Perang Khalid vs Hormuz: Fakta yang Jarang Dibahas
Aktual
Ini Sosok Hormuz, Panglima Persia Penantang Khalid bin Walid
Ini Sosok Hormuz, Panglima Persia Penantang Khalid bin Walid
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com