Editor
KOMPAS.com - Tidak lama lagi ibadah haji akan digelar di Tanah Suci Mekkah dan Madinah.
Menjelang musim haji, berbagai daerah di Indonesia tengah menuntaskan persiapan akhir pemberangkatan jemaah calon haji.
Selain urusan administrasi dan teknis keberangkatan, sejumlah daerah juga menghadirkan tradisi lokal dalam prosesi pelepasan jemaah.
Baca juga: Calon Jemaah Haji Simalungun Ikuti Tepung Tawar, Usia Tertua Wanita 82 Tahun
Salah satunya adalah tradisi Tepuk Tepung Tawar yang masih lestari di tengah masyarakat Melayu.
Dilansir dari laman Kemenag, tradisi tersebut menjadi bagian dari suasana pelepasan jemaah calon haji di Kabupaten Langkat dan sejumlah wilayah lain di Pulau Sumatera.
Kehadiran budaya lokal dalam momen keagamaan ini dinilai menunjukkan bahwa ibadah haji dapat berjalan selaras dengan nilai moderasi beragama, terutama penghormatan terhadap tradisi setempat.
Baca juga: Kloter Pertama Haji 2026 Tiba di Madinah, PPIH Pastikan Layanan Siap
Secara historis, Tepuk Tepung Tawar berasal dari budaya Melayu di Riau dan telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud pada 2019.
Tepuk Tepung Tawar merupakan upacara adat peninggalan para raja Melayu terdahulu. Tradisi ini dijalankan sebagai ungkapan syukur atas tercapainya harapan atau usaha, memohon ridho Allah, dijauhkan dari marabahaya, serta berharap rahmat yang berkelanjutan.
Biasanya, tradisi ini digunakan dalam berbagai acara penting seperti pernikahan, menempati rumah baru, memiliki kendaraan baru, khitanan, hingga hajatan sakral lainnya.
Seiring perkembangan zaman, Tepuk Tepung Tawar juga digunakan dalam prosesi pelepasan jemaah calon haji.
Di Kabupaten Langkat, tradisi ini melibatkan unsur pemerintah daerah, tokoh agama, ulama, dan masyarakat.
Prosesi dilakukan menggunakan sejumlah perlengkapan utama, yakni daun perenjis dan air wangi. Air wangi dibuat dari campuran bedak, jeruk, serta bunga mawar.
Daun perenjis yang telah diikat menjadi satu dicelupkan ke air wangi, lalu direnjis atau disentuhkan secara perlahan kepada jemaah calon haji.
Tangan jemaah diletakkan telungkup di atas paha dengan alas bantal tepung tawar yang dilapisi kain putih atau kain batik.
Setelah itu, penepuk tepung tawar mengambil beras kunyit dan bunga rampai, lalu ditaburkan kepada orang yang ditepung-tawari.
Dalam beberapa kesempatan, taburan dilakukan hingga ke atas kepala sambil membaca salawat, terutama kepada tokoh yang dihormati.
Selanjutnya, penepuk mengambil sedikit inai dan mengoleskannya ke telapak tangan kanan serta kiri.
Di Langkat, prosesi ini dilakukan bergantian oleh Plt Bupati, Kepala Kemenag, tokoh masyarakat, dan ulama kepada para calon jemaah haji.
Setelah seluruh rangkaian selesai, acara ditutup dengan doa selamat. Jumlah penepuk tepung tawar biasanya memakai bilangan ganjil, seperti 3, 5, 7, 9, atau 13 orang.
Tradisi ini juga memiliki makna yang dalam dan kuat. Beras kunyit, beras basuh, dan beretih yang dihamburkan bermakana ucapan selamat dan turut bergembira.
Merenjis kening bermakna berfikirlah sebelum bertindak atau teruslah menggunakan akal yang sehat.
Selain itu, merenjis di bau kanan dan kiri bermakna harus siap memikul beban dengan penuh rasa tanggung jawab.
Merenjis punggung tangan bermakna jangan pernah putus asa dalam mencari rezeki, selalu dan terus berusaha dalam menjalani kehidupan.
Doa selamat di penutup acara bermakna pengharapan apa yang dilakukan mendapat berkah dan ridho dari Allah.
Perayaan tradisi tepung tawar yang kami jalankan bersamaan dengan pelepasan jemaah calon haji ini terhubung erat dengan program moderasi beragama khususnya dalam nilai ramah budaya (i'tibar al 'urf).
Menghormati budaya adalah bagian penting dari implementasi nilai moderasi beragama.
Dengan menghormati budaya lokal, konsep moderasi beragama menunjukkan kompatibilitas dengan nilai lokalitas yang berkembang, bukan malah berseberangan atau menghilangkannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang