MADINAH, KOMPAS.com - Keterbatasan fisik tak menyurutkan langkah Mbah Sarjo Utomo (71) untuk berhaji ke Tanah Suci.
Lansia yang berasal dari Srikayangan, Sentolo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tersebut merupakan seorang penyandang disabilitas netra.
Mbah Sarjo menunaikan ibadah haji tahun ini demi menyempurnakan rukun Islam. "Haji itu kan rukun Islam. Ibadah saya buat sangu (bekal) saya nanti di hadapan Allah," kata Sarjo di Madinah, Arab Saudi, Sabtu (25/4/2026).
Baca juga: 20 Menit di Paviliun Haji Madinah: Ada AC, Mushala hingga Klinik Medis untuk Jemaah
Mbah Sarjo bercerita bagaimana mulanya dirinya mengalami keterbatasan penglihatan. Pada tahun 1992 atau saat usianya sekitar 37 tahun, Sarjo terkena virus herpes yang membuat penglihatannya terganggu.
Saat itu, dia menjalani prosedur operasi. Namun terjadi kecelakaan saat operasi hingga matanya justru tak bisa melihat.
Mulanya tak mudah bagi Mbah Sarjo menerima hal tersebut. Apalagi dokter memvonis matanya tak bisa disembuhkan.
Namun Mbah Sarjo tak putus berbaik sangka dan terus mendekatkan diri pada Allah dengan mendengarkan kajian-kajian Islam untuk menguatkan hatinya.
"Saya tiap hari dengarkan kajian ustaz-ustaz lewat Youtube dan televisi, hingga saya semangat dan mantap pada (takdir) Allah," kata dia.
Demi menunaikan panggilan Allah ke Tanah Suci, Mbah Sarjo rela menjual pekarangan kebunnya.
"Pekarangan kebun saya jual untuk daftar haji saya, anak saya, dan istri saya," paparnya.
Bagi Sarjo, ibadah haji harus diupayakan dan ditunaikan bagi orang Islam yang mampu. Hal itu yang mendasarinya melakukan upaya maksimal demi bisa berkunjung ke Baitullah.
Setelah bertahun-tahun menunggu, Mbah Sarjo akhirnya bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci bersama sang anak. Dia yang tergabung dalam kloter 1 Yogyakarta (YIA) tiba di Madinah, Arab Saudi pada Rabu, 22 April 2026.
Baca juga: PPIH Arab Saudi Matangkan Layanan Haji di Makkah, Hotel hingga Bus Shalawat Disiapkan
Sarjo berharap, dengan menunaikan ibadah haji, Allah meridhoi upayanya dan mengampuni dosa-dosanya.
"Kalau saya berhaji mungkin Allah mengampuni dosa-dosa saya di masa lalu," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang