Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Selain Mahal, Plastik Juga Mengandung Karsinogen! Ini 6 Alternatif Pengganti Wadah Daging Kurban

Kompas.com, 12 Mei 2026, 13:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pembagian daging kurban saat Idul Adha selama ini identik dengan kantong plastik kresek hitam.

Praktis dan murah, namun kebiasaan tersebut ternyata mulai menjadi sorotan karena dinilai berisiko bagi kesehatan sekaligus memperparah pencemaran lingkungan.

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu sampah plastik, penggunaan plastik sekali pakai untuk membungkus daging kurban kini mulai ditinggalkan.

Baca juga: Bagaimana Pembagian Daging Kurban Sapi 7 Orang, Berapa Kg per Bagian?

Terlebih, harga plastik juga disebut mengalami kenaikan menjelang Idul Adha akibat naiknya harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik global.

Tidak sedikit masjid, panitia kurban, hingga komunitas lingkungan yang mulai beralih menggunakan wadah alami dan reusable untuk distribusi daging kurban.

Selain lebih aman, langkah ini dianggap sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga alam dan menghindari kerusakan di bumi.

Lalu, benarkah plastik pembungkus daging kurban mengandung zat berbahaya? Apa saja alternatif wadah ramah lingkungan yang mulai banyak digunakan masyarakat?

Kantong Plastik Kresek Disebut Mengandung Zat Karsinogen

Dilansir dari TribunJogja.com, Selasa (12/5/2026), Ketua Program Studi Gizi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Agung Nugroho, mengingatkan bahwa penggunaan kantong plastik kresek, terutama plastik hitam hasil daur ulang, memiliki risiko kesehatan serius.

“Kantong plastik mengandung zat karsinogen dan logam berat seperti timbal yang berisiko bagi kesehatan. Selain itu, plastik sekali pakai membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam,” kata Agung.

Ia menjelaskan, sebagian besar plastik kresek berasal dari proses daur ulang limbah produk pangan, bahan kimia, hingga pestisida.

Oleh karena itu, penggunaan plastik untuk membungkus bahan makanan, termasuk daging kurban, dinilai tidak ideal.

Penjelasan serupa juga pernah disampaikan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI pada 2019 mengenai bahaya penggunaan plastik daur ulang untuk kontak langsung dengan makanan panas maupun bahan pangan segar.

Dalam buku Pengelolaan Sampah Plastik dan Lingkungan karya Prof. Dr. Emil Salim disebutkan, plastik sekali pakai menjadi salah satu penyumbang pencemaran terbesar karena sulit terurai secara alami dan dapat bertahan ratusan tahun di lingkungan.

Masalahnya, penggunaan plastik saat Idul Adha masih sangat tinggi.

Baca juga: Pemkot Palu Keluarkan Larangan Penggunaan Kantong Plastik Saat Pembagian Daging Kurban Idul Adha 2026

Sampah Plastik Idul Adha Bisa Capai Ratusan Ton

Setiap Hari Raya Kurban, jutaan kantong plastik diperkirakan digunakan untuk membagikan daging kepada masyarakat.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat timbulan sampah plastik saat Idul Adha 2024 mencapai sekitar 608 ton yang berasal dari lebih dari 121 juta lembar kantong plastik sekali pakai.

Sementara data Kementerian Pertanian menunjukkan jumlah hewan kurban nasional pada 2024 mencapai sekitar 1,97 juta ekor.

Artinya, potensi sampah plastik saat Idul Adha terus meningkat setiap tahun apabila masyarakat masih mengandalkan kantong kresek sebagai pembungkus utama.

Menurut Agung Nugroho, Idul Adha seharusnya juga menjadi momentum edukasi lingkungan.
“Kalau separuh umat Islam saja mulai mengurangi penggunaan kantong plastik, dampaknya akan sangat besar bagi keselamatan lingkungan,” ujarnya.

Islam Ajarkan Menjaga Alam dan Tidak Membuat Kerusakan

Kesadaran mengurangi sampah plastik sebenarnya sejalan dengan nilai dalam Islam.
Dalam Al Quran Surah Ar-Rum ayat 41 disebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia.

Sementara Surah Al-Qashash ayat 77 mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi.

Dalam buku Ekoteologi Islam karya Prof. Dr. Mujiyono Abdillah dijelaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah untuk menjaga keseimbangan alam dan mencegah kerusakan lingkungan.

Karena itu, penggunaan wadah ramah lingkungan saat Idul Adha tidak hanya berkaitan dengan gaya hidup modern, tetapi juga bagian dari implementasi nilai keagamaan.

Baca juga: Bahaya Penggunaan Kantong Kresek untuk Pembungkus Daging Kurban, Ahli Gizi: Mengandung Zat Karsinogen

Alternatif Wadah Pengganti Plastik untuk Daging Kurban

Kini mulai banyak masyarakat yang beralih menggunakan pembungkus alami maupun wadah reusable untuk distribusi daging kurban.

Selain lebih aman untuk kesehatan, alternatif ini juga membantu mengurangi volume sampah rumah tangga.

1. Besek Bambu

Besek bambu menjadi salah satu alternatif paling populer menggantikan kantong plastik.
Wadah tradisional berbahan anyaman bambu ini dikenal kuat, mudah terurai, dan dapat digunakan kembali.

Selain ramah lingkungan, penggunaan besek juga membantu mendukung perajin bambu lokal di berbagai daerah.

Banyak panitia kurban mulai kembali memakai besek karena tampilannya dianggap lebih estetik sekaligus bernilai budaya.

2. Daun Jati

Daun jati sering digunakan masyarakat pedesaan untuk membungkus makanan maupun daging kurban.

Teksturnya lebar dan tidak mudah sobek sehingga cukup kuat menampung potongan daging.
Menariknya, penelitian dari Universitas Syiah Kuala menyebut daun jati memiliki kandungan antimikroba yang membantu menjaga kualitas daging pada suhu ruang.

Selain alami, daun jati juga memberikan aroma khas pada daging.

3. Daun Kelapa

Di sejumlah daerah seperti Kulon Progo dan Jawa Barat, daun kelapa mulai digunakan sebagai wadah distribusi kurban.

Daun dianyam menyerupai tempat penyimpanan tradisional lalu dilapisi daun jati atau daun pisang sebagai alas.

Selain murah dan mudah ditemukan, daun kelapa lebih cepat terurai dibanding plastik.
Tradisi ini juga sering dikerjakan secara gotong royong oleh warga menjelang Idul Adha.

4. Bongsang

Bongsang merupakan wadah tradisional khas Betawi berbahan anyaman bambu.
Dulu, bongsang banyak dipakai sebagai pembungkus buah dan makanan. Kini kemasan ini kembali digunakan untuk distribusi daging kurban ramah lingkungan.

Biasanya, daging dibungkus lebih dulu menggunakan daun sebelum dimasukkan ke dalam bongsang.

Selain unik, bongsang juga membantu mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai.

Baca juga: Berapa Bagian Daging Kurban yang Boleh Dimakan Shohibul Qurban?

5. Rantang Makanan

Rantang berbahan stainless steel atau plastik tebal menjadi pilihan praktis yang dapat digunakan berulang kali.

Beberapa panitia kurban bahkan mulai mengimbau warga membawa wadah sendiri dari rumah agar pembagian lebih hemat dan ramah lingkungan.

Cara ini dinilai efektif mengurangi sampah sekaligus membangun budaya reuse di masyarakat.

6. Wadah Reusable

Wadah reusable mulai banyak digunakan masjid dan komunitas lingkungan saat pembagian daging kurban.

Jenisnya beragam, mulai dari kotak makanan food grade, ember kecil bertutup, hingga kontainer khusus yang dapat dipakai berulang kali setiap tahun.

Salah satu penerapan dilakukan Masjid Quwatul Islam Perumnas Condongcatur yang sejak 2004 menggunakan kontainer reusable untuk distribusi daging kurban kepada warga.

Setiap wadah diberi nama penerima sehingga bisa dikembalikan dan digunakan lagi pada Idul Adha berikutnya.

Selain membantu mengurangi sampah plastik, sistem ini dinilai lebih higienis, rapi, dan ekonomis dalam jangka panjang.

Banyak pihak menilai penggunaan wadah reusable bisa menjadi solusi distribusi daging kurban yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai kepedulian lingkungan.

Momentum Idul Adha Mulai Berubah

Kesadaran masyarakat terhadap dampak sampah plastik perlahan mulai meningkat.
Jika sebelumnya pembagian daging kurban identik dengan kantong kresek hitam, kini semakin banyak panitia yang mencoba memakai kemasan alami atau wadah reusable.

Langkah kecil tersebut dianggap penting karena Idul Adha bukan hanya tentang ibadah kurban, tetapi juga tentang bagaimana manusia menjaga amanah terhadap lingkungan dan sesama.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Gus Irfan Lepas Musrif Diny, Perkuat Kualitas Layanan Haji Indonesia 2026
Gus Irfan Lepas Musrif Diny, Perkuat Kualitas Layanan Haji Indonesia 2026
Aktual
Bantu Jemaah Haji 2026, Ratusan Pramuka & Relawan Disiagakan di Madinah
Bantu Jemaah Haji 2026, Ratusan Pramuka & Relawan Disiagakan di Madinah
Aktual
Modus Ijab Qobul Sepihak, Pengasuh Ponpes Jepara Jadi Tersangka
Modus Ijab Qobul Sepihak, Pengasuh Ponpes Jepara Jadi Tersangka
Aktual
10 Nama Malaikat Allah dalam Islam Lengkap dengan Tugas, Sifat, dan Cirinya
10 Nama Malaikat Allah dalam Islam Lengkap dengan Tugas, Sifat, dan Cirinya
Aktual
10 Larangan Ihram dalam Islam, Ada yang Bisa Batalkan Haji
10 Larangan Ihram dalam Islam, Ada yang Bisa Batalkan Haji
Aktual
Jemaah Haji Palestina dari Tepi Barat Mulai Berangkat ke Arab Saudi, Warga Gaza Masih Terhalang
Jemaah Haji Palestina dari Tepi Barat Mulai Berangkat ke Arab Saudi, Warga Gaza Masih Terhalang
Aktual
Saudi Terapkan Kontrak Digital Umrah 1448 H, Visa Dibuka 31 Mei
Saudi Terapkan Kontrak Digital Umrah 1448 H, Visa Dibuka 31 Mei
Aktual
Apa Itu Rafats, Fusuk, dan Jidal? Ini Larangan Penting saat Haji
Apa Itu Rafats, Fusuk, dan Jidal? Ini Larangan Penting saat Haji
Aktual
Sidang Isbat Idul Adha 2026 Digelar 17 Mei, Ini 88 Titik Hilal
Sidang Isbat Idul Adha 2026 Digelar 17 Mei, Ini 88 Titik Hilal
Aktual
Jemaah Haji Indonesia Ditangkap di Madinah karena Rekam Perempuan, Ini Aturan di Arab Saudi
Jemaah Haji Indonesia Ditangkap di Madinah karena Rekam Perempuan, Ini Aturan di Arab Saudi
Aktual
Selain Mahal, Plastik Juga Mengandung Karsinogen! Ini 6 Alternatif Pengganti Wadah Daging Kurban
Selain Mahal, Plastik Juga Mengandung Karsinogen! Ini 6 Alternatif Pengganti Wadah Daging Kurban
Aktual
Kapan Waktu Terbaik Menyentuh Hajar Aswad? Ini Penjelasannya
Kapan Waktu Terbaik Menyentuh Hajar Aswad? Ini Penjelasannya
Aktual
Bagaimana Pembagian Daging Kurban Sapi 7 Orang, Berapa Kg per Bagian?
Bagaimana Pembagian Daging Kurban Sapi 7 Orang, Berapa Kg per Bagian?
Aktual
Idul Adha 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal Libur dan Hitung Mundurnya
Idul Adha 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal Libur dan Hitung Mundurnya
Aktual
Bacaan Doa agar Lancar Menjawab saat Sidang Skripsi dan Ujian Lisan
Bacaan Doa agar Lancar Menjawab saat Sidang Skripsi dan Ujian Lisan
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com