Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Ummu Mihjan, Marbot Perempuan di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah

Kompas.com, 20 Mei 2026, 07:02 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Fajar baru saja menyingsing di Kota Madinah. Udara dingin gurun masih terasa ketika Nabi Muhammad SAW melangkah perlahan menyusuri pelataran Masjid Nabawi usai menunaikan salat subuh berjemaah.

Pagi itu, ada sesuatu yang berbeda. Di sudut masjid yang biasanya bersih dari dedaunan dan debu pasir, Rasulullah tampak mencari seseorang.

Pandangannya berkeliling ke area masjid sederhana yang berdinding tanah liat dan beratapkan pelepah kurma itu. Namun sosok yang dicari tak terlihat.

“Di mana perempuan yang biasa membersihkan masjid ini?” tanya Rasulullah kepada para sahabat.

Suasana mendadak hening. Beberapa sahabat saling berpandangan sebelum akhirnya menjawab pelan, “Wahai Rasulullah, ia telah wafat.”

Jawaban itu membuat Nabi Muhammad SAW terdiam. Perempuan tua yang selama ini nyaris tak diperhatikan banyak orang ternyata meninggal dunia pada malam hari.

Baca juga: Rahasia Air Zamzam di Masjid Nabawi Tetap Aman Diminum Meski Jauh dari Sumbernya

Para sahabat telah memandikan, mengafani, menyalatkan, lalu memakamkannya secara sederhana tanpa membangunkan Rasulullah.

Mereka mengira kematian seorang perempuan tua miskin yang sehari-harinya hanya menyapu masjid tidak perlu mengganggu waktu istirahat Nabi.

Namun justru di situlah letak pelajaran besar dari kisah Ummu Mihjan. Rasulullah merasa kehilangan.

Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, Nabi kemudian berkata,

“Mengapa kalian tidak memberitahuku?”

Hadis ini diriwayatkan antara lain dalam Shahih Bukhari nomor 458, 460, dan 1337 serta Shahih Muslim nomor 956.

Perempuan Tua yang Tidak Dianggap Penting oleh Banyak Orang

Nama Ummu Mihjan mungkin tidak setenar Siti Aisyah RA, Khadijah RA, atau para sahabat besar lainnya. Ia bukan ahli perang, bukan ulama, dan bukan pula perawi hadis terkenal.

Sebagian ahli hadis seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam Baihaqi menyebut nama aslinya kemungkinan Kharqa’ atau Khirqa’. Ada pula yang menyebutnya Ummu Suda.

Namun sejarah lebih mengenalnya sebagai Ummu Mihjan, perempuan tua berkulit hitam yang hidup sederhana di sekitar Masjid Nabawi.

Dalam sejumlah riwayat klasik, ia disebut berasal dari Habasyah atau wilayah Afrika Timur. Pada masa itu, latar belakang seperti itu membuat seseorang sering dipandang rendah dalam struktur sosial Arab jahiliyah.

Ia miskin, tak memiliki keluarga terpandang, dan nyaris tak diperhitungkan masyarakat. Tetapi di mata Rasulullah, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh status sosial.

Baca juga: Kisah Uwais Al-Qarni Masa Kini: Anak Dorong Kursi Roda Ibu untuk Jalani Ibadah Haji di Tanah Suci

Tuduhan yang Pernah Menghancurkan Harga Dirinya

Sebelum masuk Islam dan tinggal di Madinah, Ummu Mihjan pernah mengalami peristiwa pahit yang membekas seumur hidupnya.

Dikutip dari riwayat dalam Shahih Bukhari yang dinukil kembali oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Ummu Mihjan pernah dituduh mencuri selendang merah milik seorang perempuan bangsawan.

Ketika pesta berlangsung, seekor burung elang menyambar kain tersebut karena mengiranya potongan daging.

Namun orang-orang justru menuduh Ummu Mihjan sebagai pencurinya. Ia dihardik, dipermalukan, bahkan digeledah di depan banyak orang. Tak seorang pun membelanya.

Dalam keadaan terluka batin dan tak berdaya, Ummu Mihjan hanya mampu berdoa kepada Allah. Tak lama kemudian, burung itu kembali dan menjatuhkan selendang yang dibawanya. Kebenaran akhirnya terungkap.

Namun penghinaan yang diterimanya membuat Ummu Mihjan memilih meninggalkan kaumnya. Ia kemudian hijrah menuju Madinah dan memeluk Islam di hadapan Rasulullah SAW.

“Lalu aku datang kepada Rasulullah dan masuk Islam,” demikian penggalan riwayat yang disebutkan dalam kitab-kitab hadis.

Menemukan Kemuliaan Lewat Menyapu Masjid

Di Madinah, Ummu Mihjan hidup sangat sederhana. Ia tinggal di sebuah gubuk kecil di sekitar Masjid Nabawi. Tidak memiliki harta, keluarga besar, atau kedudukan penting.

Tetapi perempuan tua itu menemukan cara sederhana untuk mendekat kepada Allah SWT: membersihkan masjid.

Setiap hari ia datang lebih awal. Dengan sapu dari pelepah kurma, ia menyapu pasir, membersihkan daun kering, memungut ranting, dan merapikan sudut-sudut masjid.

Pekerjaan yang dianggap remeh oleh banyak orang justru menjadi amal besar di sisi Allah.

Dalam buku My Beautiful Religion karya Faruk Salman dan kolega, disebutkan bahwa Ummu Mihjan juga kerap memberi wewangian di beberapa sudut Masjid Nabawi agar jamaah merasa nyaman saat beribadah.

Ia melayani rumah Allah tanpa berharap pujian. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada penghormatan khusus, tetapi Rasulullah memperhatikannya.

Baca juga: Kisah Ummu Aiman, “Ibu Kedua” Nabi Muhammad yang Melintasi 3 Zaman

Masjid Nabawi yang Sederhana dan Penuh Debu

Pada masa Nabi Muhammad SAW, Masjid Nabawi jauh berbeda dibandingkan bangunan megah saat ini.

Dikutip dari buku Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, masjid itu dibangun dari bata tanah liat dengan tiang batang kurma dan atap pelepah. Lantainya berupa pasir dan tanah.

Ketika angin gurun bertiup, debu mudah masuk ke dalam masjid. Daun-daun kering berserakan. Bekas langkah jamaah membuat pelataran cepat kotor.

Karena itulah tugas Ummu Mihjan sangat penting. Ia menjaga tempat suci itu tetap bersih agar kaum Muslimin nyaman beribadah. Dalam Islam, menjaga kebersihan masjid termasuk amalan mulia.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa kebersihan lahiriah menjadi bagian dari upaya membersihkan hati dan jiwa manusia.

“Kebersihan memiliki tingkatan, mulai dari membersihkan tubuh hingga membersihkan hati dari selain Allah,” tulis Imam Ghazali.

Wafat dalam Sunyi, Dicari Rasulullah di Pagi Hari

Usia tua membuat tubuh Ummu Mihjan semakin lemah. Ia jatuh sakit dan tak lagi mampu rutin membersihkan masjid seperti biasanya.

Dalam sejumlah kisah yang ditulis ulang para penulis Muslim modern, Rasulullah disebut sempat menjenguk Ummu Mihjan ketika sakit.

Kedatangan Nabi membuat perempuan tua itu sangat bahagia. Ia merasa hidupnya berarti. Namun tak lama kemudian, Ummu Mihjan wafat pada malam hari.

Para sahabat yang hadir memakamkannya secara sederhana di pemakaman Baqi’. Mereka tidak ingin mengganggu Rasulullah yang sedang beristirahat. Tetapi keesokan paginya, Rasulullah justru mencari perempuan tua itu.

Ketika mengetahui Ummu Mihjan telah dimakamkan, Nabi meminta ditunjukkan lokasi kuburnya.

Di hadapan pusara yang masih basah, Rasulullah kemudian menyalatkan jenazah Ummu Mihjan.

Dalam riwayat Shahih Muslim, Nabi bersabda:

“Sesungguhnya kubur ini penuh kegelapan bagi penghuninya. Dan Allah meneranginya melalui doaku untuk mereka.”

Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu dasar dalam fikih Islam mengenai bolehnya salat jenazah setelah pemakaman bagi orang yang belum sempat menyalatkannya.

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan hal itu dalam kitab Fathul Bari saat membahas hadis tentang Ummu Mihjan.

Baca juga: Siapa Sahabat di Samping Makam Rasulullah? Ini Kisah Abu Bakar & Umar

Kisah Ummu Mihjan dan Kemuliaan Orang-Orang yang Sering Dilupakan

Kisah Ummu Mihjan menyimpan pesan yang sangat kuat hingga hari ini.

Di tengah dunia yang sering mengukur manusia berdasarkan jabatan, popularitas, dan kekayaan, Rasulullah justru menunjukkan penghormatan besar kepada perempuan tua miskin yang pekerjaannya hanya menyapu masjid.

Ia tidak dikenal luas, serta tidak punya kekuasaan, tetapi amal kecilnya dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Dalam buku Tuhan Ada di Hatimu karya Husein Jafar Al-Hadar, kisah Ummu Mihjan disebut sebagai pelajaran tentang keikhlasan dan pengabdian yang tidak mencari sorotan manusia.

Ia mengajarkan bahwa pekerjaan sederhana sekalipun bisa bernilai sangat besar jika dilakukan dengan tulus.

Dari Ummu Mihjan, Islam Mengajarkan Memuliakan Semua Orang

Kisah Ummu Mihjan juga menunjukkan bagaimana Islam menghormati manusia tanpa memandang ras, warna kulit, atau status sosial.

Perempuan tua dari Habasyah yang dahulu dipandang rendah justru mendapat perhatian langsung dari Nabi Muhammad SAW.

Bahkan Rasulullah merasa kehilangan ketika tidak melihatnya di masjid.

Dalam banyak literatur Islam, kisah ini sering dijadikan contoh bahwa amal paling dicintai Allah tidak selalu berupa hal besar dan spektakuler.

Kadang justru lahir dari pekerjaan sederhana yang dilakukan terus-menerus dengan ikhlas. Menyapu lantai masjid, membersihkan debu, dan merapikan rumah Allah.

Amal kecil yang mungkin dianggap biasa oleh manusia, tetapi begitu besar nilainya di sisi langit.

Warisan Ummu Mihjan yang Masih Hidup hingga Sekarang

Hari ini, lokasi makam Ummu Mihjan di Baqi’ sudah tidak diketahui secara pasti. Ia menyatu bersama jutaan pusara sahabat dan tabiin lainnya.

Namun kisah hidupnya terus dikenang dalam kitab-kitab hadis, karya ulama, hingga kajian-kajian tentang akhlak Islam.

Warisan terbesar Ummu Mihjan bukan berupa harta atau tulisan. Ia mewariskan keteladanan. Tentang ketulusan bekerja tanpa ingin dipuji, pengabdian yang dilakukan diam-diam, serta keyakinan bahwa tidak ada amal baik yang terlalu kecil di hadapan Allah SWT.

Dan mungkin, di tengah dunia yang sibuk mengejar pengakuan, kisah perempuan penyapu Masjid Nabawi ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan sejati sering lahir dari pekerjaan sederhana yang dilakukan dengan hati bersih.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Dikelola Resmi, Kemenhaj Sebut Jadi Sejarah
Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Dikelola Resmi, Kemenhaj Sebut Jadi Sejarah
Aktual
Haji 2026, Suhu Makkah Diprediksi Tembus 47 Derajat Celsius
Haji 2026, Suhu Makkah Diprediksi Tembus 47 Derajat Celsius
Aktual
Haji Gratis dari Raja Salman: 42 WNI Berangkat dari Jakarta ke Makkah
Haji Gratis dari Raja Salman: 42 WNI Berangkat dari Jakarta ke Makkah
Aktual
Pidato Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026 Perspektif Islam: Menjaga Tunas Bangsa dan Kedaulatan Ruhani
Pidato Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026 Perspektif Islam: Menjaga Tunas Bangsa dan Kedaulatan Ruhani
Aktual
Kisah Ummu Mihjan, Marbot Perempuan di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah
Kisah Ummu Mihjan, Marbot Perempuan di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah
Aktual
Puasa Sunnah Tarwiyah, dan Arafah Sebelum Idul Adha 2026: Tanggal, Niat, dan Tata Caranya
Puasa Sunnah Tarwiyah, dan Arafah Sebelum Idul Adha 2026: Tanggal, Niat, dan Tata Caranya
Aktual
Doa Niat Berkurban Idul Adha Lengkap dengan Waktu Membacanya
Doa Niat Berkurban Idul Adha Lengkap dengan Waktu Membacanya
Doa dan Niat
MUI Desak Pemerintah Selamatkan WNI yang Ditangkap Israel saat Jalani Misi Kemanusiaan Gaza
MUI Desak Pemerintah Selamatkan WNI yang Ditangkap Israel saat Jalani Misi Kemanusiaan Gaza
Aktual
Mengenal JULEHA, Juru Sembelih Halal yang Berperan Penting saat Idul Adha
Mengenal JULEHA, Juru Sembelih Halal yang Berperan Penting saat Idul Adha
Aktual
Kemenhaj Matangkan Skema Armuzna 2026, Atur Pergerakan Jamaah di Fase Puncak Haji
Kemenhaj Matangkan Skema Armuzna 2026, Atur Pergerakan Jamaah di Fase Puncak Haji
Aktual
Kisah Marbot Masjid Asal Bulukumba Berangkat Haji dari Menabung Hasil Panen Sawah
Kisah Marbot Masjid Asal Bulukumba Berangkat Haji dari Menabung Hasil Panen Sawah
Aktual
Orang Tua Wajib Tahu, Doa agar Anak Dimudahkan Saat Ujian Sekolah
Orang Tua Wajib Tahu, Doa agar Anak Dimudahkan Saat Ujian Sekolah
Aktual
Tidak Hanya Kurban, Ini 7 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia
Tidak Hanya Kurban, Ini 7 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia
Aktual
5 Toko Oleh-oleh Haji di Jogja Terlengkap, Cocok untuk Belanja Sesuai Budget
5 Toko Oleh-oleh Haji di Jogja Terlengkap, Cocok untuk Belanja Sesuai Budget
Aktual
 5 Toko Oleh-oleh Haji Terlengkap di Semarang, Ada Air Zamzam dan Kurma
5 Toko Oleh-oleh Haji Terlengkap di Semarang, Ada Air Zamzam dan Kurma
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com