JEDDAH, KOMPAS.com - Bagi Daryati (58), seorang jemaah haji asal Kebumen, Tanah Suci dulunya mungkin terasa seperti mimpi. Bekerja sehari-sehari berjualan sayur dan masakan, Daryati akhirnya bisa menuntaskan rukun Islam kelima.
Perjalanan menuju Baitullah baginya membutuhkan kesabaran luar biasa. Daryati harus menabung dan menanti selama lebih dari satu dekade. Keberangkatannya sempat tertunda akibat pandemi.
"Menabungnya 14 tahun, lama sekali. Tadinya mau berangkat 2023, tapi setelah ada Corona ditunda tiga tahun berangkat. Sekarang senang sekali," ungkapnya di sela jadwal kepulangannya ke Tanah Air, Senin (15/6/2026).
Baca juga: 85.290 Jemaah Haji Tiba di Indonesia, Kemenhaj Ajak Jaga Kepedulian
Keinginan suci Daryati berawal ketika ia mendapatkan rezeki dari hasil penjualan tanah warisan yang berlokasi strategis. Dengan tekad bulat, ia memutuskan untuk menggunakan hasil penjualan itu untuk mendaftar haji.
"Warisan saya di pinggir jalan besar, harga jualnya tinggi. Kok aku mau ya (berhaji). Aku ajak suaminya awalnya nggak mau, masa pergi haji nggak mau. Akhirnya mau," kenang Daryati.
Ketika menginjakkan kaki di Tanah Suci, perasaan Daryati campur aduk. Selama berada di Madinah, ia mengaku hatinya terus berdebar, namun di saat yang sama ia merasa sangat bahagia lantaran dapat menjalankan ibadah di Masjid Nabawi.
Rasa berdebar itu kembali muncul saat ia harus bertolak ke Makkah. Puncaknya adalah ketika ia berdiri langsung di depan Kabah. Sebagai seorang penjual sayur, ia merasa sangat bersyukur dan terharu bisa sampai ke titik tersebut.
"Senang, senang sekali, masya Allah. Orang kayak aku kok bisa berhaji, ke Masjidil Haram, sedangkan orang yang kaya-kaya itu belum pasti bisa ke Makkah," ucapnya dengan penuh rasa syukur.
Pengalaman spiritual yang tak terlupakan juga ia rasakan saat melaksanakan tawaf di tengah lautan manusia. Saking padatnya jemaah di sekelilingnya, ia merasa tubuhnya sampai terangkat dan terbawa arus putaran.
"Masya Allah orangnya banyak sekali berdesak-desakan sampai kaki saya enggak ngambah jubin (memijak lantai) di Masjidil Haram," ceritanya.
Di tengah padatnya kegiatan, sang suami juga sempat jatuh sakit dan dirawat oleh dokter karena pilek. Beruntung suaminya bisa kembali pulih dan beraktivitas normal setelah dua hari dirawat.
Baca juga: Mengenal Dua Skema Tanazul Saat Kepulangan Jemaah Haji Indonesia
Bagi Daryati, haji bukan sekadar rangkaian ibadah fisik, melainkan sebuah proses transformasi untuk menjadi pribadi yang baru. Ia memaknai perjalanan ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri sekembalinya ke Tanah Air.
"Ingin mengubah yang tidak baik menjadi baik. Yang tadinya pelit jangan pelit. Membantu sesama," ujarnya.
Momen wukuf di Arafah menjadi salah satu titik paling emosional bagi Daryati. Di tempat yang mustajab itu, air matanya tumpah saat memanjatkan doa untuk keluarga tercinta yang ditinggalkan di rumah.
"Di Arafah berdoa agar anak menantu saya bisa seperti saya ke sini," ungkapnya sambil menangis.
Baca juga: Syarat Kesehatan Haji 2027 Diperketat, Jamaah Demensia dan TBC Bisa Gagal Berangkat
Kini, setelah seluruh rangkaian rukun Islam kelima selesai ditunaikan, Daryati bersiap untuk kembali ke Kebumen. Di balik kelegaan dan kebahagiaannya, terselip rasa rindu yang mendalam kepada keluarganya.
"Rindu anak, cucu, dan menantu. Ingin (kemari lagi), semoga allah mengizinkan," tuturnya.
Untuk mengobati kerinduan keluarga di rumah, Daryati tidak lupa memborong berbagai buah tangan khas Timur Tengah. Mulai dari cokelat dubai, buah tin, hingga kurma sudah ia siapkan untuk keluarga.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang