Editor
KOMPAS.com - Negara-negara di belahan bumi utara mulai memasuki musim panas secara astronomis pada hari Minggu (21/6/2026) melalui fenomena titik balik matahari musim panas atau summer solstice.
Fenomena ini menandai hari dengan durasi siang terpanjang dan malam terpendek sepanjang tahun di wilayah utara Bumi.
Pada momen tersebut, posisi Matahari berada tepat di atas garis balik utara (Tropic of Cancer).
Menurut Presiden Jeddah Astronomical Society, Eng. Majed Abu Zahra, musim panas tahun ini diperkirakan berlangsung selama 93 hari.
Baca juga: INFOGRAFIK: Mengenal Fenonena Winter Solstice dan Summer Solstice yang Terjadi Juni
Dilansir dari Saudi Gazette, Majed Abu Zahra menjelaskan bahwa summer solstice merupakan peristiwa astronomis yang menyebabkan durasi siang mencapai titik terpanjang, sementara malam menjadi yang terpendek dalam setahun di belahan bumi utara.
Pada Minggu pukul 11.24 waktu Makkah, Matahari berada tepat di atas Garis Balik Utara. Kondisi ini menandai dimulainya musim panas secara astronomis di berbagai negara dan wilayah di belahan bumi utara.
Baca juga: Selain Gerhana, Summer Solstice Juga Terjadi Hari Ini, Apa Itu?
Menurut Abu Zahra, pada hari terjadinya summer solstice, Matahari terbit di posisi paling timur laut dan terbenam di posisi paling barat laut. Sementara itu, bayangan benda saat tengah hari mencapai panjang terpendek sepanjang tahun.
Lebih lanjut, Abu Zahra juga mengatakan musim panas tahun ini akan berlangsung selama 93 hari.
Ia menjelaskan bahwa periode terpanas pada musim panas tidak selalu terjadi bertepatan dengan summer solstice.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fenomena yang dikenal sebagai seasonal lag atau jeda musiman.
Fenomena ini terjadi karena Bumi dan lautan memerlukan waktu untuk menyerap serta melepaskan energi panas dari Matahari secara bertahap.
Akibatnya, suhu tertinggi biasanya baru dirasakan beberapa waktu setelah titik balik matahari musim panas terjadi.
Ia juga menjelaskan bahwa setelah melewati summer solstice, durasi siang di belahan bumi utara akan mulai berkurang secara perlahan.
Pengurangan panjang siang tersebut berlangsung secara bertahap hingga terjadinya ekuinoks musim gugur pada 23 September.
Meski menandai awal musim panas secara astronomis, fenomena ini juga menjadi titik balik pergerakan tahunan Matahari yang kemudian menyebabkan waktu siang semakin pendek dan malam semakin panjang di belahan bumi utara.
Fenomena summer solstice menunjukkan bagaimana pergerakan Bumi dan Matahari terus memengaruhi perubahan musim serta panjang siang dan malam di berbagai wilayah dunia.
Peristiwa astronomis ini tidak hanya menjadi penanda dimulainya musim panas, tetapi juga mengingatkan bahwa perubahan musim berlangsung melalui proses alam yang berlangsung secara bertahap.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang