Editor
KOMPAS.com – Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon mencatatkan prestasi luar biasa dengan mewisuda 467 santri penghafal 30 juz Al-Quran hanya dalam waktu efektif empat bulan.
Capaian tersebut diklaim menjadi rekor nasional untuk program tahfiz berbasis satu semester sekaligus menegaskan keberhasilan model pembelajaran yang dikembangkan pesantren tersebut.
Prosesi Convocation Program Tahfidz digelar di Saphie Ballroom Aston Hotel Cirebon, Sabtu (27/6/2026), dan dihadiri Pengasuh Utama Pesantren Lirboyo Kediri KH Abdullah Kafabihi Mahrus.
Dalam sambutannya, KH Abdullah Kafabihi Mahrus mengapresiasi ikhtiar Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia KH Imam Jazuli dalam melahirkan generasi penghafal Al-Quran. Ia juga mendoakan agar pesantren tersebut terus mencetak manusia-manusia yang dimuliakan Allah SWT.
"Nama adalah doa," ujar Kiai Kafa dilansir dari keterangan tertulis, Sabtu.
Baca juga: Seleksi Beasiswa Indonesia Bangkit 2026 Masuk Tahap AKAP, Ribuan Peserta Bersiap Ikuti Tes 28 Juni
Sebagai salah satu pesantren terbesar di Jawa Barat, Bina Insan Mulia selama ini dikenal tidak hanya sukses mengantarkan lulusannya meraih beasiswa ke berbagai perguruan tinggi ternama di luar negeri, tetapi juga konsisten melahirkan ribuan hafiz dan hafizah.
"Telah lahir ribuan hafiz dan hafidzah dari program tahfiz di Bina Insan Mulia dan mereka telah diterima di sejumlah kampus di luar negeri, PTN dalam negeri, dan sejumlah sekolah kedinasan yang mensyaratkan hafalan Al-Quran untuk mendapatkan beasiswa atau privilege tertentu," kata KH Imam Jazuli.
Ia menjelaskan, program tahfiz semester ini diikuti 1.447 santri kelas VII dan kelas X dari Bina Insan Mulia 1, Bina Insan Mulia 2, dan Bina Insan Mulia 3.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 467 santri berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Quran. Sementara peserta lainnya membukukan capaian hafalan yang bervariasi, mulai dari 9 juz, 15 juz, 20 juz hingga 25 juz.
"Tingkat keberhasilan program secara umum di atas 30 persen. Ini benar-benar kesyukuran luar biasa. Bina Insan Mulia 1 sebesar 32 persen (147 dari 467 santri), Bina Insan Mulia 2 sebesar 39 persen (142 dari 356 santri), dan Bina Insan Mulia 3 sebesar 30 persen (185 dari 627 santri)," paparnya.
Menurut KH Imam Jazuli, keunikan program tahfiz di Bina Insan Mulia terletak pada durasi pelaksanaannya. Jika umumnya program tahfiz berlangsung bertahun-tahun, di pesantren ini program tersebut dirancang hanya dalam satu semester atau efektif selama empat bulan.
"Para santri, para pembimbing, dan para guru digerakkan oleh sistem yang kami sebut sebagai pembelajaran berbasis program, atau pembelajaran yang memprioritaskan manfaat dan tujuan pembelajaran yang dapat diukur melalui target," ungkapnya.
Ia menuturkan, program tahfiz lahir sebagai respons atas meningkatnya minat masyarakat terhadap pendidikan Al-Quran.
"Dari data tim PPDB saya temukan sebagian besar wali santri yang datang menanyakan program tahfiz Al-Quran. Setelah itu, mereka bertanya lulusan pesantren ini dapat melanjutkan ke kampus mana saja," ujarnya.
Meski program tahfiz membuka peluang besar bagi santri untuk memperoleh beasiswa dan berbagai keistimewaan akademik, KH Imam Jazuli mengingatkan agar hafalan Al-Quran tidak semata dijadikan sarana meraih keuntungan duniawi.
"Jadikan tujuan akhirat sebagai motif juga, sebab Al-Quran ini diturunkan sebagai hidayah, obat penyakit di hati, dan sebagai way of life orang beriman," tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa menjadi hafiz bukanlah tujuan akhir.
"Karena itu, jangan berhenti hanya di hafalan. Tambahlah ilmu kalian untuk mendekati dan memahami Al-Quran. Akan lebih bagus kalau 20 persen dari para penghafal ini melanjutkan studi Islam di kampus-kampus di Timur Tengah," pesannya.
Menurutnya, para santri Bina Insan Mulia memiliki peluang besar untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri melalui berbagai program beasiswa.
Baca juga: Selama 7 Bulan, Ponpes Bina Insan Mulia Ajak 300 Santri Study Tour ke China
"Kalian beruntung menjadi santri Bina Insan Mulia. Kenapa? Beasiswa ke luar negeri, lebih-lebih Timur Tengah, berlimpah dan itupun bisa didapatkan melalui proses yang tidak sesulit mereka di luar sana," ujarnya.
Di akhir sambutannya, KH Imam Jazuli mengingatkan bahwa hafalan Al-Quran harus dibarengi dengan ilmu dan akhlak. Ia mencontohkan kisah Abdurrahman bin Muljam, pembunuh Imam Ali bin Abi Thalib, serta Dzul Khuwaishirah yang pernah menuduh Rasulullah SAW tidak adil, sebagai pelajaran bahwa hafalan tanpa pemahaman dan akhlak dapat menjerumuskan seseorang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang