Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukan Sekadar Tempat Ibadah, Ini Kedudukan Masjidil Aqsa dalam Islam

Kompas.com, 18 Agustus 2026, 20:13 WIB
Puji Sri Rahayu,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Masijidil Aqsa memiliki kedudukan yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat ibadah. Posisinya bertempat di kota suci bagi tiga agama, Islam, Yahudi, dan Nasrani.Kondisi Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsa semakin mengkhawatirkan di tengah konflik berkepanjangan di Palestina. Kesucian kawasan yang memiliki kedudukan penting bagi umat Islam terus menghadapi ancaman.

Masjidil Aqsa yang memiliki luas sekitar 14,4 hektare pernah menjadi kawasan Isra Nabi Muhammad SAW dan tempat para nabi bermakmum kepada Rasulullah dalam peristiwa Isra Mikraj.  Penyebutan Masjidil Aqsa tidak hanya merujuk pada satu bangunan. Seluruh area yang berada di kawasan tersebut termasuk dalam Masjidil Aqsa yang juga di dalamnya terdapat sejumlah bangunan, termasuk Masjid Qibli dan Qubatus Sakhrah. Penyebutan Masjidil Aqsa tidak terbatas pada satu bangunan tertentu. 

Kawasan Masjidil Aqsa dalam sejarah Islam dikenal sebagai Baitul Maqdis dan telah memiliki kedudukan penting sejak masa para nabi. Al-Qur'an juga menyebut kawasan tersebut dengan sejumlah istilah, di antaranya al-ard al-muqaddasah dan al-ard al-mubarakah, yang merujuk pada negeri yang disucikan dan diberkahi Allah.

Baca juga: Doa untuk Palestina dan Masjidil Aqsa: Harapan dan Dukungan Lewat Doa

Karena itu, umat Islam perlu memahami Masjidil Aqsa melalui sejarahnya secara utuh. Menurutnya, kedudukan Baitul Maqdis dalam Islam tidak baru muncul ketika peristiwa Isra Mikraj berlangsung.

Masjidil Aqsa dan Sejarah Islam

Fahmi Salim Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelaskan, Masjidil Aqsa telah menjadi bagian dari kehidupan umat Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW. Salah satunya terlihat dari arah kiblat umat Islam pada masa awal.

Menurutnya, sejak kewajiban shalat hingga sekitar satu tahun lebih setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, umat Islam masih menghadap Masjidil Aqsa ketika melaksanakan shalat.

“Empat belas tahun umat Islam salatnya menghadap Masjidil Aqsa,” kata Fahmi.

Kedudukan tersebut kemudian semakin kuat melalui peristiwa Isra Mikraj. Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan menuju Masjidil Aqsa sebelum melanjutkan perjalanan ke Sidratul Muntaha.

Baca juga: Sejarah Masjidil Aqsa di Palestina, Bagian dari Peristiwa Isra Miraj

Fahmi juga mengaitkan Masjidil Aqsa dengan hubungan Nabi Muhammad SAW dengan para penguasa dunia. Salah satunya melalui surat yang dikirim Nabi kepada Kaisar Romawi Heraklius setelah Perjanjian Hudaibiyah.

Menurut Fahmi, surat tersebut tidak disampaikan kepada Heraklius ketika berada di Konstantinopel. Surat yang dibawa Dihyah al-Kalbi tersebut disampaikan ketika Heraklius berada di Yerusalem. Hal tersebut, menunjukkan bahwa Yerusalem telah menjadi perhatian dalam strategi diplomasi Nabi Muhammad SAW, bahkan ketika umat Islam belum menguasai kota tersebut.

Masjidil Aqsa sebagai Simbol Kemanusiaan Universal

Selain kedudukannya dalam sejarah Islam, Fahmi menilai Masjidil Aqsa memiliki makna yang lebih luas bagi umat Islam. Ia mengaitkannya dengan tiga masjid yang memiliki keutamaan khusus, yakni Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa.

Masjidil Haram menggambarkan hubungan manusia dengan Allah, sedangkan Masjid Nabawi menggambarkan hubungan umat Islam dengan Rasulullah SAW. Sementara itu, Masjidil Aqsa merepresentasikan hubungan umat Islam dengan kemanusiaan universal.

“Yang ketiga adalah Masjidil Aqsa. Apa hubungan kita umat Islam dengan Masjidil Aqsa? Inilah hubungan kemanusiaan universal,” tuturnya.

Baca juga: Delapan Negara Islam Kecam Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina di Tepi Barat

Karakter universal tersebut berkaitan dengan posisi Yerusalem sebagai kota suci bagi tiga agama. Karena itu, Islam juga mengajarkan penghormatan terhadap hak umat beragama lain, terutama Ahlul Kitab. Penghormatan tersebut bukan berarti mencampurkan ritual antaragama. Umat Islam tetap menjalankan ibadah sesuai ajaran agamanya masing-masing.

Masjidil Aqsa dan Nilai Kemanusiaan

Kedudukan Masjidil Aqsa menjadi salah satu ujian bagi gagasan Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Apabila Islam hendak diterapkan sebagai ajaran yang universal, nilai-nilai yang dibawanya harus mampu menghadirkan keadilan dan penghormatan terhadap kemanusiaan.

Terdapat kaitan hal tersebut dengan sejarah pembebasan Baitul Maqdis pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Ketika umat Islam memasuki Yerusalem, kawasan Masjidil Aqsa disebut berada dalam kondisi tidak terawat dan kemudian dibersihkan oleh para sahabat. Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap Masjidil Aqsa bukan persoalan yang baru muncul belakangan. Kedudukannya telah tertanam dalam kesadaran umat Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW melalui wahyu, ibadah, diplomasi, hingga perkembangan peradaban.

Baca juga: Jakarta dan Palestina: Diplomasi Kemanusiaan di Tengah Krisis

Karena itu, memahami Masjidil Aqsa tidak hanya berarti memahami sejarah sebuah tempat suci. Lebih dari itu, Masjidil Aqsa juga berkaitan dengan sejarah Islam, kemanusiaan, dan cara umat Islam memandang perannya dalam kehidupan global.

“Kalau umat Islam ingin menjadi pelopor kemanusiaan universal, maka umat Islam harus memimpin peradaban manusia. Dari mana? Dari Baitul Maqdis,” tegas Fahmi.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
MUI Tegaskan 'Sex Toy' bagi Warga Binaan Lapas Hukumnya Haram
MUI Tegaskan "Sex Toy" bagi Warga Binaan Lapas Hukumnya Haram
Aktual
Rekrutmen Pejabat Publik dalam Islam: Prinsip, Kriteria, dan Dalilnya
Rekrutmen Pejabat Publik dalam Islam: Prinsip, Kriteria, dan Dalilnya
Aktual
Penjelasan Mati Syahid dalam Islam: Pengertian, Jenis Penyebab, dan Dalilnya
Penjelasan Mati Syahid dalam Islam: Pengertian, Jenis Penyebab, dan Dalilnya
Aktual
Kiai Imjaz Masuk Syuriyah PBNU, Siap Kawal Penguatan Otoritas Ulama dan Transformasi Pesantren
Kiai Imjaz Masuk Syuriyah PBNU, Siap Kawal Penguatan Otoritas Ulama dan Transformasi Pesantren
Aktual
Shalat Istikharah: Dalil, Niat, Tata Cara, Waktu, Doa, dan Keutamaannya
Shalat Istikharah: Dalil, Niat, Tata Cara, Waktu, Doa, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
MUI dan Forum Abu Dhabi Bahas Penguatan Islam Wasathiyyah dan Perdamaian Dunia
MUI dan Forum Abu Dhabi Bahas Penguatan Islam Wasathiyyah dan Perdamaian Dunia
Aktual
Kuota Haji Pakistan 2027 Skema Pemerintah Sudah Penuh, 107.526 Jemaah Terdaftar
Kuota Haji Pakistan 2027 Skema Pemerintah Sudah Penuh, 107.526 Jemaah Terdaftar
Aktual
Qariah NTB Khairunnisa Wakili Indonesia di MTHQA ke-66 Malaysia 2026
Qariah NTB Khairunnisa Wakili Indonesia di MTHQA ke-66 Malaysia 2026
Aktual
Menag Ajak ASN Kemenag Jadi Agen Perlinsos: Panggilan Iman dan Persaudaraan
Menag Ajak ASN Kemenag Jadi Agen Perlinsos: Panggilan Iman dan Persaudaraan
Aktual
Kemenag Dukung Percepatan Pendaftaran Perlinsos 2027, Libatkan Penyuluh dan Penghulu
Kemenag Dukung Percepatan Pendaftaran Perlinsos 2027, Libatkan Penyuluh dan Penghulu
Aktual
Doa Sebelum Belanja Online agar Terhindar dari Perilaku Boros
Doa Sebelum Belanja Online agar Terhindar dari Perilaku Boros
Aktual
Hukum Memakai Parfum bagi Wanita, Benarkah Dilarang dalam Islam? Ini Penjelasannya
Hukum Memakai Parfum bagi Wanita, Benarkah Dilarang dalam Islam? Ini Penjelasannya
Aktual
Agen Perlinsos: Cara Daftar, Syarat, dan Perannya dalam Pendataan Bansos
Agen Perlinsos: Cara Daftar, Syarat, dan Perannya dalam Pendataan Bansos
Aktual
Gus Nabil Dorong Federasi Pencak Silat Hong Kong, Libatkan Warga Lokal
Gus Nabil Dorong Federasi Pencak Silat Hong Kong, Libatkan Warga Lokal
Aktual
Menag Nasaruddin Umar Jelaskan 5 Sumber Ilmu dalam Tradisi Keislaman
Menag Nasaruddin Umar Jelaskan 5 Sumber Ilmu dalam Tradisi Keislaman
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar