Penulis
KOMPAS.com - Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mendorong pelibatan masyarakat lintas agama dalam mendukung pelayanan jemaah haji Indonesia.
Dia bahkan mengusulkan agar masyarakat nonmuslim, seperti umat Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha, dapat dilibatkan sebagai petugas yang mendukung penyelenggaraan ibadah haji.
Menurut Dahnil, gagasan tersebut merupakan salah satu upaya menghadirkan nilai toleransi, kebinekaan, dan gotong royong dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Fokus kita adalah memastikan jemaah haji menjadi simbol toleransi bagi umat beragama. Nantinya, petugas-petugas haji dapat melibatkan saudara-saudara kita dari kalangan Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan sebagainya," ujar Dahnil di Manado, Jumat (30/10/2026), sebagaimana dikutip dari siaran pers Kementerian Haji dan Umrah.
Baca juga: Jemaah Haji Lansia di Manggarai Barat Kini Bisa Urus Paspor di Kantor Kemenhaj
Dahnil mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang memiliki latar belakang agama dan budaya yang beragam. Keberagaman tersebut seharusnya menjadi kekuatan yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pelayanan publik.
Dia menilai, pelayanan kepada jemaah haji tidak harus hanya didukung oleh umat Islam. Seluruh elemen masyarakat dapat berkontribusi melalui semangat kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama.
Dahnil menjelaskan, pelibatan masyarakat lintas agama merupakan salah satu cara untuk mewujudkan toleransi secara nyata.
Menurutnya, toleransi tidak cukup diwujudkan melalui sikap saling menghormati, tetapi juga perlu dibuktikan melalui kerja sama dan kontribusi bersama dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Dalam konteks penyelenggaraan ibadah haji, keterlibatan masyarakat dari berbagai latar belakang agama diharapkan dapat menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial tidak dibatasi oleh perbedaan keyakinan.
Dia mencontohkan Sulawesi Utara sebagai salah satu daerah yang memiliki kehidupan masyarakat dengan keberagaman agama yang kuat.
Dahnil mengaku telah meminta jajaran terkait untuk mendorong keterlibatan kelompok agama lain, termasuk Kristen, Katolik, Buddha, dan Hindu, dalam mendukung penyelenggaraan ibadah haji di wilayah tersebut.
"Ini menjadi salah satu upaya menghadirkan simbol toleransi, tidak hanya di Sulawesi Utara, tetapi juga di seluruh Indonesia," katanya.
Lebih lanjut, Dahnil mengatakan, penyelenggaraan ibadah haji juga merupakan bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara.
Meskipun ibadah haji merupakan kewajiban umat Islam, dukungan terhadap pelayanan jemaah dapat menjadi ruang kontribusi bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Pelibatan masyarakat lintas agama diharapkan mampu memperkuat hubungan antarkelompok sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap penyelenggaraan pelayanan publik.
Baca juga: 40 Calon Jemaah Haji Manggarai Barat Dapat Layanan Paspor Jemput Bola dari Imigrasi
Menurutnya, keberagaman bukanlah penghalang bagi masyarakat Indonesia untuk bekerja sama dan memberikan kontribusi bagi kepentingan bangsa.
Melalui gagasan tersebut, Kementerian Haji dan Umrah ingin mendorong penyelenggaraan ibadah haji yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan jemaah, tetapi juga mencerminkan nilai persatuan, toleransi, dan gotong royong.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.