Editor
KOMPAS.com-Hidup tidak selalu berjalan ringan, dan pada saat beban terasa menumpuk, Islam menghadirkan istighfar sebagai amalan sederhana yang menenangkan hati.
Istighfar menjadi ruang kembali bagi manusia untuk mengakui keterbatasan, memohon ampun, dan menata ulang hubungan dengan Allah SWT.
Amalan ini tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi jalan penguat iman dan ketenteraman batin.
Baca juga: Keutamaan Istighfar: Manfaat dan Bacaan yang Menenangkan Hati
Istighfar merupakan dzikir yang berisi permohonan ampun seorang hamba kepada Allah SWT atas dosa dan kekhilafan yang disadari maupun tidak disadari.
Amalan ini dianjurkan dilakukan secara rutin, baik dalam kondisi lapang maupun sempit, sebagai bentuk kesadaran bahwa manusia tidak luput dari kesalahan.
Istighfar juga berfungsi sebagai sarana menenangkan hati dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Secara bahasa, istighfar berasal dari kata ghafara yang berarti menutup, melindungi, dan mengampuni.
Makna tersebut menunjukkan bahwa istighfar bukan sekadar permintaan maaf, tetapi juga permohonan agar kesalahan tidak berbuah keburukan.
Dalam konteks ibadah, istighfar mencerminkan sikap rendah hati dan pengakuan atas keterbatasan manusia di hadapan Allah SWT.
Baca juga: Keajaiban Istighfar: Kisah Imam Ahmad dan Penjual Roti
Alquran menjelaskan istighfar sebagai bagian dari taubat yang membawa kebaikan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.
Para ulama memaknai istighfar sebagai proses penyucian diri yang dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya setelah melakukan dosa besar.
Kebiasaan beristighfar dipandang sebagai bentuk muhasabah untuk menjaga hati tetap bersih dari kesombongan dan kelalaian.
Istighfar memiliki dasar yang kuat dalam Alquran dan hadits Nabi Muhammad SAW sebagai amalan yang dianjurkan.
Dalil-dalil tersebut menegaskan bahwa istighfar membawa dampak spiritual dan ketenangan batin bagi seorang muslim.
Allah SWT berfirman dalam Surah Hud ayat 3:
وَأَنِ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَٰعًا حَسَنًا إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِى فَضْلٍ فَضْلَهُۥ ۖ وَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
Ayat ini menegaskan bahwa istighfar dan taubat menjadi jalan memperoleh kesenangan hidup hingga waktu yang telah ditentukan.
Allah SWT juga menjanjikan pahala bagi setiap orang yang beramal saleh dan kembali kepada-Nya.
Allah SWT kembali menegaskan keutamaan istighfar dalam Surah Hud ayat 61:
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَٰلِحًا ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah SWT Maha Dekat dan Maha Mengabulkan doa hamba-Nya yang beristighfar.
Baca juga: 7 Manfaat Istighfar Nabi Ibrahim, Doa Ampunan untuk Diri, Orangtua, dan Mukminin
Rasulullah SAW menegaskan keutamaan istighfar dalam berbagai hadis.
Dalam hadis qudsi, Rasulullah SAW meriwayatkan firman Allah SWT:
“Wahai anak Adam, selama kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosamu dan Aku tidak peduli seberapa besar dosa itu.” (HR Tirmidzi).
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Dan tidaklah Allah akan mengazab kalian sementara kalian dalam keadaan banyak beristighfar.” (HR Ibnu Asakir).
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa membiasakan istighfar, niscaya Allah menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesedihan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Rasulullah SAW menyebut orang yang banyak beristighfar sebagai golongan yang beruntung.
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِى صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
Artinya, “Beruntunglah orang yang di dalam catatan amalnya terdapat istighfar yang banyak.” (HR Ibnu Majah).
Istighfar memiliki beberapa bentuk bacaan yang diajarkan dalam Islam dan dapat diamalkan sesuai kebutuhan.
Bacaan istighfar pendek berbunyi:
اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ
Astaghfirullah al-‘azhim
Artinya, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”
Bacaan istighfar panjang berbunyi:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه
Astaghfirullahal’adzim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih
Artinya, “Aku memohon ampun kepada Allah, yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya.”
Baca juga: Doa Sayyidul Istighfar: Lengkap dengan Teks Arab, Latin, dan Artinya
Istighfar tidak hanya bernilai sebagai ibadah lisan, tetapi juga memberikan dampak nyata dalam kehidupan spiritual dan keseharian seorang muslim.
Istighfar menjadi sarana utama penghapusan dosa ketika dilakukan dengan kesadaran, penyesalan, dan niat untuk memperbaiki diri.
Ketenangan batin dirasakan oleh orang yang menjadikan istighfar sebagai dzikir harian dalam menghadapi tekanan hidup.
Kebiasaan beristighfar melatih seseorang untuk menyadari kesalahan dan memperbaiki sikap terhadap Allah SWT dan sesama manusia.
Istighfar disebut dalam hadits sebagai amalan yang mendatangkan kelapangan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Rezeki yang hadir melalui istighfar tidak terbatas pada materi, tetapi juga mencakup kesehatan, keselamatan, dan ketenteraman hidup.
Kemudahan dalam menyelesaikan persoalan hidup menjadi buah dari kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT melalui istighfar.
Dalil Alquran dan hadits menegaskan bahwa istighfar menjadi perisai dari azab Allah selama diamalkan dengan sungguh-sungguh.
Istighfar mempererat kedekatan hamba dengan Tuhannya dan menjadikan doa lebih khusyuk serta bermakna.
Kebiasaan memperbanyak istighfar menjadi ikhtiar spiritual untuk meraih kebahagiaan yang seimbang di dunia dan akhirat.
Derajat seseorang ditinggikan bukan karena bebas dari dosa, melainkan karena kesungguhan untuk kembali dan memperbaiki diri melalui istighfar.
Istighfar menjadi pengingat bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk kembali kepada Allah SWT.
Amalan ini tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kejujuran hati dalam mengakui kesalahan.
Rutinitas istighfar mengajarkan bahwa ketenangan hidup tidak selalu datang dari berubahnya keadaan, tetapi dari cara hati menyikapinya.
Istighfar pada akhirnya menjadi proses spiritual yang menjaga iman tetap hidup di tengah dinamika kehidupan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang