KOMPAS.com - Bulan Syaban menempati posisi strategis dalam kalender Hijriah karena berada tepat sebelum Ramadan.
Di antara amalan sunnah yang banyak dilakukan umat Islam pada bulan ini adalah puasa Nisfu Syaban, yaitu puasa yang dikerjakan pada pertengahan bulan Syaban.
Amalan ini dipandang sebagai bentuk persiapan spiritual sekaligus momentum memperbanyak ibadah menjelang bulan suci.
Para ulama menyebut bahwa Nisfu Syaban termasuk waktu yang memiliki nilai keutamaan tersendiri.
Karena itu, memahami niat, waktu pelaksanaan, dasar dalil, serta hikmah puasa Nisfu Syaban menjadi penting agar ibadah dilakukan dengan kesadaran dan tuntunan yang benar.
Dalam buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya Ustadz Abdullah Faqih Ahmad dijelaskan bahwa pertengahan bulan Syaban sejak dahulu dipandang sebagai waktu istimewa oleh sebagian besar ulama.
Pada malam tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, sedangkan pada siangnya dianjurkan berpuasa sunnah.
Anjuran ini merujuk pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ibnu Majah:
“Jika tiba malam Nisfu Syaban, maka bangunlah untuk beribadah di malamnya dan berpuasalah di siangnya. Sesungguhnya Allah Ta’ala turun ke langit dunia sejak matahari terbenam dan berfirman: Siapa yang memohon ampun akan Aku ampuni, siapa yang meminta rezeki akan Aku beri, siapa yang tertimpa musibah akan Aku sembuhkan, hingga terbit fajar.”
(HR Ibnu Majah)
Hadis ini menjadi salah satu dasar yang mendorong banyak ulama membolehkan dan menganjurkan puasa Nisfu Syaban sebagai bagian dari ibadah sunnah.
Baca juga: Niat Puasa Syaban: Panduan Lengkap, Keutamaan, dan Dalilnya
Dalam fikih Islam, niat merupakan syarat sah puasa. Syekh Wahbah az-Zuhaily dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menjelaskan bahwa niat berfungsi membedakan antara ibadah dan kebiasaan, sekaligus menentukan jenis ibadah yang dilakukan.
Untuk puasa sunnah, niat dapat dilakukan sejak malam hari hingga sebelum zawal (matahari tergelincir), dengan catatan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar.
Hal ini memberi kemudahan bagi umat Islam yang ingin menghidupkan puasa sunnah Nisfu Syaban, tanpa menghilangkan nilai kesungguhan dalam beribadah.
Mengacu pada buku Meraih Surga dengan Puasa karya H. Herdiansyah Achmad, bacaan niat puasa Nisfu Syaban adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ فِي النِّصْفِ الشَّعْبَانِ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma fi-n-nishfi sya‘bāni sunnatal lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah pada pertengahan bulan Syaban karena Allah Ta’ala.”
Jika niat dilakukan pada siang hari sebelum zawal, dapat menggunakan niat berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا الْيَوْمِ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hādzal yaumi sunnatal lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah hari ini karena Allah Ta’ala.”
Baca juga: Puasa Syaban, Ibadah Sunnah yang Dicintai Rasulullah Menjelang Ramadan
Berdasarkan kalender Hijriah resmi Kementerian Agama RI, 15 Syaban 1447 H bertepatan dengan Selasa, 3 Februari 2026.
Dengan demikian, puasa Nisfu Syaban 2026 dilaksanakan pada hari tersebut, dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Penentuan jadwal ini penting agar umat Islam tidak keliru dalam menentukan waktu pelaksanaan ibadah sunnah.
Selain hadis tentang malam Nisfu Syaban, anjuran memperbanyak puasa di bulan Syaban juga didukung oleh hadis sahih dari Aisyah RA. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW lebih banyak berpuasa dalam satu bulan selain bulan Syaban.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani dijelaskan bahwa kebiasaan Rasulullah ini menunjukkan keutamaan Syaban sebagai bulan latihan spiritual sebelum Ramadan.
Puasa di bulan Syaban berfungsi membiasakan tubuh dan jiwa agar lebih siap menghadapi kewajiban puasa Ramadan.
Dalam hadis yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah melihat makhluk-Nya pada malam Nisfu Syaban, lalu mengampuni semua hamba-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang saling bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)
Hadis ini menunjukkan bahwa Nisfu Syaban merupakan momentum muhasabah diri dan memperbaiki hubungan sosial.
Puasa yang dilakukan pada siangnya menjadi bentuk kesungguhan spiritual dalam menyambut limpahan rahmat tersebut.
Dalam riwayat An-Nasa’i, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa bulan Syaban adalah waktu diangkatnya amalan manusia:
“Syaban adalah bulan yang sering dilupakan, antara Rajab dan Ramadan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Allah, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan berpuasa.” (HR An-Nasa’i)
Puasa Nisfu Syaban menjadi salah satu cara meneladani sikap Nabi yang mengutamakan ibadah pada momen pengangkatan amal.
Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuz Zain menegaskan bahwa ibadah sunnah di bulan Syaban berfungsi sebagai latihan ruhani.
Dengan membiasakan puasa, zikir, dan membaca Al-Qur’an, seorang Muslim akan memasuki Ramadan dengan kondisi fisik dan spiritual yang lebih siap.
Baca juga: Amalan Syaban: Persiapan Spiritual Menyambut Ramadan
Puasa Nisfu Syaban tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga edukatif. Puasa melatih pengendalian diri, memperkuat keikhlasan, dan menumbuhkan kesadaran sosial terhadap penderitaan orang lain.
Dalam konteks ini, puasa menjadi sarana penyucian jiwa sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Para ulama tasawuf, sebagaimana dikutip dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, menjelaskan bahwa puasa sunnah yang dilakukan secara konsisten dapat melembutkan hati dan meningkatkan kualitas kedekatan hamba dengan Allah SWT.
Puasa Nisfu Syaban merupakan amalan sunnah yang memiliki nilai spiritual tinggi. Dengan memahami niat yang benar, waktu pelaksanaan yang tepat, serta dasar dalil yang kuat, umat Islam dapat menjalankan ibadah ini secara lebih bermakna.
Yang terpenting bukan semata-mata pelaksanaan ritual, melainkan kesungguhan niat, keikhlasan, serta komitmen memperbaiki diri menjelang Ramadan.
Dengan demikian, Nisfu Syaban benar-benar menjadi momentum persiapan rohani menuju bulan suci yang penuh rahmat dan ampunan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang