KOMPAS.com - Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti memiliki hajat—mulai dari urusan rezeki, pendidikan, pekerjaan, hingga persoalan keluarga.
Islam mengajarkan bahwa ikhtiar lahiriah harus selalu dibarengi dengan ikhtiar batin melalui doa dan ibadah.
Salah satu amalan sunnah yang sering dijadikan wasilah untuk mengetuk pintu pertolongan Allah SWT adalah shalat hajat.
Shalat hajat bukan sekadar ritual tambahan, melainkan bentuk komunikasi spiritual yang menegaskan keterbatasan manusia di hadapan Sang Maha Kuasa.
Dengan penuh kerendahan hati, seorang hamba menghadapkan diri kepada Allah, memohon agar setiap urusan dipermudah dan setiap harapan diberi jalan terbaik.
Baca juga: Niat dan Doa Sholat Hajat: Lengkap Teks Arab, Latin, dan Artinya
Secara bahasa, kata hajat berarti kebutuhan atau keperluan. Dalam istilah fikih, shalat hajat dipahami sebagai shalat sunnah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar suatu keperluan atau persoalan diberi jalan keluar.
Dalam buku Penuntun Shalat Sunnah Lengkap karya Saiful Hadi El Sutha dijelaskan bahwa shalat hajat merupakan bentuk penghambaan yang menekankan sikap tawakal, yaitu menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada Allah setelah berikhtiar secara maksimal.
Prinsip ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
Wa idzâ sa’alaka ‘ibâdî ‘annî fa innî qarîb. Ujîbu da‘wata ad-dâ‘i idzâ da‘ân.
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah: 186)
Ayat ini menjadi fondasi spiritual bahwa doa dan ibadah, termasuk shalat hajat, bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk kedekatan hamba dengan Tuhannya.
Baca juga: Doa Setelah Shalat Hajat Lengkap dengan Terjemahannya
Shalat hajat berstatus sunnah, artinya dianjurkan untuk dikerjakan dan bernilai pahala jika dilaksanakan. Landasan pelaksanaannya bersumber dari hadis Rasulullah SAW.
Dari Abdullah bin Abu Aufa RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa memiliki hajat kepada Allah atau kepada sesama manusia, hendaklah ia berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian shalat dua rakaat…” (HR Tirmidzi).
Hadis ini menunjukkan bahwa shalat dua rakaat dapat menjadi wasilah untuk memohon dikabulkannya suatu kebutuhan.
Niat menjadi pembeda utama antara shalat hajat dengan shalat sunnah lainnya. Berikut bacaan niat shalat hajat yang umum digunakan:
اُصَلِّي سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatal hājati rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku berniat shalat sunnah hajat dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat ini cukup dihadirkan di dalam hati, namun melafalkannya dapat membantu menghadirkan kekhusyukan.
Secara umum, tata cara shalat hajat sama seperti shalat sunnah dua rakaat. Dalam buku Menjemput Berkah Lewat Shalat Hajat karya Abu Khansa Al-Harits disebutkan bahwa shalat hajat dapat dilakukan minimal dua rakaat dan maksimal dua belas rakaat.
Pelaksanaannya dimulai dengan niat, takbiratul ihram, membaca Al-Fatihah dan surat pilihan, rukuk, i’tidal, sujud, hingga salam.
Sebagian ulama menganjurkan membaca Surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua sebagai bentuk peneguhan tauhid.
Baca juga: Keutamaan Shalat Hajat Lengkap dengan Tata Cara dan Doanya
Meski shalat hajat dapat dilakukan kapan saja di luar waktu terlarang, terdapat waktu-waktu yang dinilai lebih utama karena peluang terkabulnya doa lebih besar.
Sepertiga malam terakhir menjadi waktu yang paling dianjurkan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa pada waktu ini Allah SWT “turun” ke langit dunia dan membuka pintu ampunan serta pengabulan doa.
Selain itu, shalat hajat juga dianjurkan dilakukan setelah shalat wajib, terutama setelah Maghrib dan Isya, ketika suasana hati lebih tenang dan fokus dalam berdoa.
Adapun waktu yang sebaiknya dihindari adalah setelah Subuh hingga matahari terbit, saat matahari tepat di tengah langit dan menjelang Maghrib hingga matahari terbenam.
Setelah salam, dianjurkan memperbanyak istighfar, membaca shalawat, lalu memanjatkan doa. Salah satu doa yang sering dibaca adalah:
Lâ ilâha illallâhul halîmul karîm. Subhânallâhi rabbil ‘arsyil ‘azhîm…
Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Lembut lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah, Tuhan pemilik Arsy yang agung… Jangan Engkau tinggalkan satu dosa pun kecuali Engkau ampuni, dan tidak satu kesulitan pun kecuali Engkau beri jalan keluar.”
Doa ini mencerminkan harapan total seorang hamba, bukan hanya untuk dikabulkan hajatnya, tetapi juga untuk disucikan hatinya.
Dalam buku Mahadahsyat Shalat Hajat! karya Syarif Hidayatullah dijelaskan bahwa shalat hajat memiliki dimensi spiritual yang kuat.
Amalan ini membantu menumbuhkan sikap pasrah dan sabar, sekaligus memperkuat keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Selain itu, shalat hajat juga diyakini mampu menghadirkan ketenangan batin. Ketika doa belum dikabulkan, seorang hamba tetap memperoleh ketenteraman karena telah menyerahkan urusannya kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW pun mengingatkan agar tidak tergesa-gesa dalam berdoa. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan:
“Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa dengan berkata: Aku sudah berdoa, tetapi belum dikabulkan.”
Pesan ini menegaskan bahwa shalat hajat bukan jaminan instan, melainkan proses spiritual yang membutuhkan kesabaran dan keteguhan iman.
Baca juga: Niat, Bacaan, dan Doa Setelah Shalat Hajat agar Keinginan Terkabul
Lebih dari sekadar sarana memohon sesuatu, shalat hajat sejatinya menjadi pendidikan jiwa. Ia melatih keikhlasan, membangun kesadaran akan keterbatasan diri, serta mengajarkan bahwa hasil terbaik adalah yang Allah tetapkan, bukan semata-mata yang kita inginkan.
Ketika shalat hajat dilakukan dengan hati yang khusyuk, ia bukan hanya membuka pintu pertolongan, tetapi juga membentuk pribadi yang lebih tenang, tawakal, dan optimistis menghadapi kehidupan.
Shalat hajat pada akhirnya bukan soal seberapa besar hajat yang diminta, melainkan seberapa dalam keyakinan seorang hamba kepada Tuhannya.
Dalam setiap sujud, ada harapan. Dalam setiap doa, ada pengakuan bahwa hanya Allah SWT sebaik-baik tempat bergantung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang