KOMPAS.com - Di tengah kesibukan hidup modern, banyak umat Islam mencari doa yang sederhana, mudah dihafal, tetapi memiliki makna yang luas.
Di antara doa yang paling sering dilantunkan lintas generasi adalah doa yang dikenal sebagai doa sapu jagat.
Meski hanya terdiri dari satu ayat pendek, doa ini menyimpan kandungan spiritual yang sangat dalam karena merangkum seluruh kebutuhan manusia, kebaikan dunia, keselamatan akhirat, dan perlindungan dari siksa neraka.
Keistimewaan doa sapu jagat bukan sekadar popularitasnya di lisan umat, tetapi juga karena doa ini bersumber langsung dari Alquran dan menjadi doa yang paling sering dipanjatkan Rasulullah SAW dalam keseharian beliau.
Baca juga: Larangan Merusak Alam dalam Islam: 14 Ayat Alquran dan Fatwa MUI
Doa sapu jagat berasal dari Surat Al-Baqarah ayat 201. Ayat ini turun dalam konteks tuntunan doa yang diajarkan Allah kepada manusia, khususnya saat beribadah dan memohon kebaikan hidup.
Allah SWT berfirman:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Rabbanā ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār.
Artinya: “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka.” (QS Al-Baqarah: 201)
Menurut Prof Quraish Shihab dalam buku Tafsir Al-Mishbah (Lentera Hati), ayat ini disebut sebagai doa paling komprehensif karena mencakup keseimbangan antara kebutuhan materi, spiritual, dan keselamatan akhirat.
Ia menegaskan bahwa Islam tidak memisahkan urusan dunia dan akhirat, tetapi memadukannya dalam satu orientasi hidup yang utuh.
Baca juga: Bacaan Doa Sapu Jagat Lengkap dengan Arti dan Maknanya
Keistimewaan doa sapu jagat semakin kuat karena menjadi doa yang paling sering dibaca Rasulullah SAW. Hal ini diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik:
عن أنس قال كان أكثر دعاء النبي صلى الله عليه وسلم اللهم ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
Artinya: “Dari Anas, ia berkata: Doa yang paling sering dibaca Rasulullah SAW adalah: ‘Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.’” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam buku Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa kebiasaan Rasulullah mengulang doa ini menunjukkan nilai universalnya.
Doa ini tidak terbatas pada situasi tertentu, melainkan relevan untuk seluruh kondisi kehidupan manusia.
Kata “hasanah” dalam ayat ini sering diterjemahkan sebagai “kebaikan”. Namun para ulama tafsir menjelaskan bahwa maknanya jauh lebih luas.
Imam Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menyebut bahwa hasanah di dunia mencakup kesehatan, keamanan, rezeki halal, ilmu bermanfaat, keluarga harmonis, dan ketenangan jiwa. Sementara hasanah di akhirat meliputi ampunan dosa, kemudahan hisab, dan masuk surga.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-Azhim menambahkan bahwa doa ini mencerminkan permohonan hidup ideal seorang Muslim, seimbang antara keberhasilan duniawi dan keselamatan ukhrawi, tanpa mengorbankan salah satunya.
Baca juga: Doa Nabi Daud untuk Cinta Allah dan Hati yang Tenang
Menariknya, doa sapu jagat juga relevan dengan isu kesehatan mental modern. Permohonan “hasanah di dunia” tidak hanya bermakna materi, tetapi juga mencakup ketenangan batin, stabilitas emosi, dan kedamaian psikologis.
Dalam perspektif psikologi Islam yang dijelaskan oleh Malik Badri dalam buku Contemplation: An Islamic Psychospiritual Study, doa yang memadukan harapan dunia dan akhirat mampu menumbuhkan optimisme, mengurangi kecemasan, dan memperkuat rasa tawakal. Dengan kata lain, doa sapu jagat bukan hanya ibadah verbal, tetapi juga terapi spiritual.
Istilah “sapu jagat” bukan berasal dari Alquran atau hadis, melainkan istilah populer di masyarakat Nusantara.
Maknanya merujuk pada cakupan doa yang “menyapu” seluruh kebutuhan hidup: fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Dalam tradisi dakwah klasik, para ulama sering menyebut doa ini sebagai jawami’ul kalim, yaitu doa singkat dengan kandungan makna yang sangat luas. Inilah yang membuatnya diajarkan sejak dini kepada anak-anak hingga orang tua.
Baca juga: Keutamaan Doa Nabi Yunus di Malam Nisfu Syaban, Ini Rahasianya
Secara syariat, doa ini dapat dibaca kapan saja. Namun terdapat beberapa waktu yang dianjurkan karena peluang dikabulkannya lebih besar.
Di antaranya setelah shalat wajib, terutama seusai shalat Subuh dan Maghrib, pada sepertiga malam terakhir saat tahajud, setelah azan, di antara khutbah dan shalat Jumat, serta pada malam Lailatul Qadar.
Dalam buku Fadhailul A’mal karya Maulana Zakariyya Al-Kandahlawi disebutkan bahwa konsistensi membaca doa-doa Qurani setelah shalat dapat memperkuat hubungan spiritual seorang hamba dengan Allah SWT.
Doa sapu jagat mengajarkan satu prinsip penting dalam Islam: hidup tidak boleh terjebak pada urusan dunia semata, tetapi juga tidak mengabaikan realitas kehidupan dunia.
Doa ini membentuk kesadaran bahwa keberhasilan sejati adalah saat dunia menjadi jalan menuju akhirat.
Dengan melafalkan doa ini secara rutin, seorang Muslim dilatih untuk selalu menyeimbangkan usaha lahiriah dan ketundukan batiniah.
Di situlah kekuatan doa sapu jagat bekerja bukan hanya di lisan, tetapi di pola pikir dan cara menjalani hidup.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang