Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tabiat Perempuan yang Diingatkan Nabi, Ini Dampaknya bagi Rumah Tangga

Kompas.com, 30 Januari 2026, 07:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Rasulullah SAW bukan hanya membawa risalah tauhid, tetapi juga memberikan panduan praktis tentang kehidupan sosial dan keluarga.

Salah satu perhatian Nabi yang kerap dikutip dalam kajian rumah tangga adalah peringatan tentang tabiat tertentu yang dapat merugikan perempuan sendiri di akhirat jika tidak disadari dan diperbaiki.

Peringatan ini bukan bertujuan merendahkan perempuan, melainkan sebagai bentuk kasih sayang agar umat Islam, khususnya kaum perempuan dan para suami, mampu membangun relasi yang sehat, adil, dan penuh empati.

Baca juga: Peringatan Isra Mikraj, Menag: Jika Ada Masalah Rumah Tangga, Jangan Langsung ke Pengadilan

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

Uritun-nāra fa ra’aitu aktsara ahlihā an-nisā’a.

“Aku diperlihatkan neraka, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan.”

Ketika para sahabat bertanya tentang sebabnya, Nabi menjelaskan bahwa salah satu di antaranya adalah kebiasaan mengingkari kebaikan suami dan tidak menghargai perlakuan baik yang telah diterima.

Hadis ini sering dipahami secara parsial, padahal para ulama menegaskan bahwa konteksnya berkaitan dengan perilaku tertentu, bukan sifat kodrati perempuan secara keseluruhan.

Dalam buku Kado Pernikahan karya Karim Asy-Syadzili (Insan Kamil), dijelaskan bahwa peringatan Rasulullah SAW harus dibaca sebagai nasihat moral dan psikologis, terutama terkait cara perempuan mengekspresikan perasaan dan cara laki-laki memahami bahasa emosional pasangannya.

Baca juga: Hak dan Kewajiban Suami Istri dalam Islam: Kunci Rumah Tangga Bahagia

Bahasa Emosional Perempuan dan Potensi Salah Paham

Karim Asy-Syadzili menjelaskan bahwa perempuan cenderung menggunakan bahasa kiasan, ungkapan umum, dan simbol emosional dalam menyampaikan keinginan.

Misalnya, ketika seorang istri berkata, “Kamu tidak pernah memperhatikanku,” yang dimaksud sering kali bukan tuduhan mutlak, melainkan permintaan perhatian, kasih sayang, atau waktu bersama.

Fenomena ini juga dibahas dalam literatur psikologi keluarga modern. John Gray dalam bukunya Men Are from Mars, Women Are from Venus menegaskan bahwa perempuan lebih ekspresif secara emosional dan menggunakan bahasa relasi, sementara laki-laki cenderung komunikatif secara langsung dan fungsional. Perbedaan ini, jika tidak dipahami, dapat memicu konflik dan rasa tidak dihargai.

Baca juga: Jin Dasim, Penggoda Rumah Tangga yang Disebut dalam Literatur Islam

Dalam perspektif Islam, komunikasi yang baik merupakan bagian dari akhlak mulia.

Allah SWT berfirman:

Wa qūlū linnāsi ḥusnā.

“Dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Ayat ini menjadi dasar penting bahwa cara berbicara dan menyampaikan perasaan harus dijaga agar tidak melukai, baik dalam hubungan sosial maupun rumah tangga.

Mengingkari Kebaikan: Masalah Etika, Bukan Gender

Salah satu poin yang ditekankan Rasulullah SAW adalah sikap kufr al-‘asyīr, yaitu mengingkari kebaikan pasangan.

Dalam konteks hadis, kebiasaan ini lebih sering muncul dalam bentuk keluhan emosional yang tidak proporsional.

Namun, para ulama menegaskan bahwa perilaku ini tidak eksklusif milik perempuan. Laki-laki pun bisa terjatuh dalam sikap serupa jika mengabaikan kontribusi istri dan meremehkan peran domestik.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa peringatan Nabi bertujuan untuk mengingatkan bahaya sikap tidak bersyukur dalam relasi rumah tangga.

Ketika seseorang terbiasa melihat kekurangan pasangan tanpa menghargai kebaikan yang telah diberikan, maka keharmonisan akan rapuh.

Islam sendiri menempatkan syukur sebagai fondasi kehidupan. Allah SWT berfirman:

La’in syakartum la-azīdannakum.

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Dalam konteks keluarga, rasa syukur dapat diwujudkan dengan penghargaan, ucapan terima kasih, dan pengakuan atas usaha pasangan.

Baca juga: Tanggung Jawab Suami-Istri dalam Islam yang Harus Dipahami Muslim

Peran Suami dalam Memahami Tabiat Istri

Karim Asy-Syadzili menekankan bahwa suami yang bijak adalah mereka yang memahami karakter emosional istri dan tidak terpancing oleh ungkapan kiasan yang keluar dari lisan pasangannya.

Menurutnya, banyak konflik rumah tangga bermula dari kegagalan suami menangkap pesan di balik kata-kata istri.

Hal ini sejalan dengan pandangan Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Zād al-Ma‘ād, yang menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam memperlakukan istri.

Nabi tidak hanya menafkahi secara materi, tetapi juga memberikan perhatian emosional, mendengarkan keluhan, dan menenangkan perasaan istri-istrinya dengan penuh kelembutan.

Rasulullah SAW bersabda:

Khairukum khairukum li ahlihi.

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa kualitas iman seseorang tercermin dari cara ia memperlakukan pasangan dan keluarga.

Refleksi Spiritual bagi Perempuan Muslim

Peringatan Rasulullah SAW tentang tabiat tertentu seharusnya menjadi bahan muhasabah bagi perempuan Muslim, bukan sumber rasa takut semata.

Islam mendorong perempuan untuk menjaga lisan, mengelola emosi, dan menumbuhkan rasa syukur dalam rumah tangga.

Dalam buku Fiqhul Islami wa Adillatuhu karya Prof. Wahbah az-Zuhaily, dijelaskan bahwa keharmonisan rumah tangga bertumpu pada dua pilar utama, komunikasi yang sehat dan sikap saling menghargai.

Ketika istri mampu mengekspresikan kebutuhan dengan cara yang baik dan suami mampu merespons dengan empati, maka konflik dapat diminimalkan.

Lebih dari itu, rumah tangga dalam Islam bukan sekadar ikatan biologis, tetapi ruang ibadah. Setiap sikap sabar, setiap kata lembut, dan setiap upaya menjaga perasaan pasangan bernilai pahala di sisi Allah SWT.

Baca juga: Peran Suami dalam Islam: Tanggung Jawab dan Kepemimpinan Keluarga

Menata Ulang Cara Pandang

Peringatan Rasulullah SAW tentang tabiat perempuan bukanlah stigma, melainkan panggilan untuk memperbaiki diri dan memperkuat relasi keluarga.

Pesan utamanya adalah pentingnya kesadaran emosional, komunikasi yang sehat, dan rasa syukur dalam rumah tangga.

Ketika perempuan mampu mengelola ekspresi perasaan dengan bijak, dan laki-laki berusaha memahami bahasa emosional pasangannya, maka pernikahan tidak lagi menjadi ladang konflik, tetapi ruang tumbuh bersama menuju ketenangan jiwa.

Di situlah makna sakinah, mawaddah, dan rahmah menemukan bentuk nyatanya dalam kehidupan sehari-hari.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar