Penulis
KOMPAS.com - Banyak Muslim masih ragu apakah menyentuh benda najis membatalkan wudhu? Misalnya terkena kotoran hewan, air kencing, darah, atau najis lainnya sesudah bersuci. Sebagian orang langsung mengambil wudhu kembali karena khawatir ibadahnya tidak sah.
Dalam kajian fikih thaharah (bersuci), para ulama telah menjelaskan dengan tegas bahwa menyentuh benda najis tidak membatalkan wudhu, namun tetap wajib membersihkan najis tersebut sebelum shalat. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan di bawah ini.
Baca juga: Mengenal Macam-Macam Najis dan Cara Menyucikannya dalam Islam
Kesalahan yang sering terjadi adalah mencampuradukkan antara hadats dan najis. Hadats adalah keadaan tidak suci yang menghalangi sahnya shalat dan hanya bisa dihilangkan dengan wudhu untuk hadats kecil dan mandi wajib untuk hadats besar.
Hal-hal yang menjadi penyebab hadats kecil diantaranya:
Sedangkan najis adalah benda kotor menurut syariat yang harus dibersihkan jika mengenai badan, pakaian, atau tempat shalat. Contoh najis adalah kotoran manusia/hewan, darah, air kencing, dan bangkai.
Najis tidak sama dengan hadats. Karena itu, hukum menghilangkannya juga berbeda.
Baca juga: Sholat Tetap Sah dalam Kondisi Darurat Bencana, Meski Pakaian Terkena Najis
Mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali sepakat bahwa menyentuh najis tidak membatalkan wudhu. Yang wajib dilakukan adalah menghilangkan najis tersebut, bukan mengulang wudhu.
Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, “menyentuh najis tidak membatalkan wudhu, akan tetapi wajib mencuci najis itu jika ingin melaksanakan shalat.”
Sementara dalam kitab Fathul Qarib karya Syekh Ibnu Qasim Al-Ghazi, ditegaskan juga bahwa pembatal wudhu hanya terbatas pada hal-hal tertentu, dan menyentuh najis tidak termasuk di dalamnya.
Hal ini juga dikuatkan pendapat Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh Al-Islami. Beliau menjelaskan bahwa perkara yang membatalkan wudhu adalah hal-hal yang disebutkan oleh dalil. Adapun menyentuh najis tidak termasuk pembatal wudhu menurut jumhur ulama.
Para ulama menetapkan bahwa pembatal wudhu bersifat tauqifi (berdasarkan dalil), tidak bisa ditambah-tambah dengan logika.
Walaupun tidak membatalkan wudhu, najis tetap harus dibersihkan karena menjadi penghalang sahnya shalat.
Allah berfirman:
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
Artinya: “Dan pakaianmu, bersihkanlah.” (QS. Al-Muddatstsir: 4)
Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menjelaskan bahwa menghilangkan najis dari badan, pakaian, dan tempat shalat adalah syarat sah shalat. Jadi, ketika terkena najis, wudhu tetap sah tetapi shalat tidak sah jika najis tersebut tidak dibersihkan.
Contoh dalam keseharian adalah ketika seseorang sudah wudhu, tetapi harus mengganti celana anaknya yang ngompol, maka wudhunya tidak batal bila terkena air kencingnya, tetapi harus dibersihkan sebelum melaksanakan shalat.
Baca juga: Najis dan Hadats: Pengertian, Macam-macam, Cara Mensucikan, dan Perbedaannya
Menyentuh benda najis tidak membatalkan wudhu menurut mayoritas ulama dari berbagai mazhab. Namun najis tersebut tetap wajib dibersihkan sebelum shalat karena menjadi syarat sah ibadah.
Dengan memahami perbedaan antara hadats dan najis berdasarkan, seseorang bisa beribadah dengan lebih tenang dan benar sesuai tuntunan Al Quran dan Sunnah serta tuntunan Para ulama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang