KOMPAS.com – Penampilan terbaru Nikita Willy belakangan ini menarik perhatian publik. Dalam sejumlah unggahan di media sosial, istri dari Indra Priawan tersebut tampak mengenakan hijab dalam berbagai aktivitas, termasuk saat menjalani ibadah umrah di Tanah Suci.
Perubahan ini menuai banyak respons positif dari warganet. Namun lebih dari sekadar tren atau gaya berpakaian, keputusan berhijab sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih dalam pada ajaran Islam.
Lantas, bagaimana Islam memandang hijab? Apa hukum dan keutamaannya? Mengapa Muslimah diwajibkan mengenakannya, serta apa saja syarat sah hijab menurut syariat?
Fenomena publik figur yang mulai berhijab bukan hal baru. Namun setiap perubahan tersebut selalu menghadirkan ruang refleksi, bahwa hijab bukan sekadar simbol identitas, melainkan bagian dari perjalanan spiritual seorang Muslimah.
Dalam konteks ini, hijab menjadi bentuk nyata dari proses “hijrah”, perpindahan menuju kehidupan yang lebih sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Dalam buku Ensiklopedia Fikih Wanita karya Syaikh Ahmad Jad, disebutkan bahwa perubahan dalam berpakaian sering kali menjadi langkah awal dalam memperbaiki kualitas keimanan seseorang.
Keputusan berhijab tidak hanya berkaitan dengan penampilan luar, tetapi juga menyentuh aspek batin, komitmen, dan kesadaran akan perintah agama.
Baca juga: 6 Amalan Sunnah Wanita di Hari Jumat, Raih Pahala Berlipat
Dalam Islam, kewajiban berhijab memiliki dasar yang jelas dalam Al-Qur’an. Salah satu ayat yang paling sering dijadikan rujukan adalah Surah An-Nur ayat 31, yang memerintahkan perempuan beriman untuk menutup aurat dan menjaga kehormatan.
Selain itu, Surah Al-Ahzab ayat 59 juga menegaskan:
“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, agar mereka lebih mudah dikenali dan tidak diganggu.”
Menurut penjelasan dalam Tafsir Ibnu Katsir karya Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa hijab berfungsi sebagai perlindungan sekaligus identitas bagi perempuan Muslimah.
Sementara dalam hadis yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW, disebutkan pentingnya menjaga aurat sebagai bagian dari iman.
Hal ini menegaskan bahwa berhijab bukan sekadar pilihan budaya, melainkan kewajiban syariat bagi wanita yang telah baligh.
Kewajiban berhijab bukan tanpa alasan. Dalam berbagai literatur Islam, terdapat sejumlah hikmah yang mendasari perintah tersebut.
Pertama, hijab merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Dalam buku Panduan Berbusana Islami karya Syaikh Abdul Wahab Abdussalam Thaliwah, dijelaskan bahwa setiap perintah Allah memiliki tujuan untuk menjaga kemaslahatan manusia, termasuk dalam hal berpakaian.
Kedua, hijab berfungsi sebagai pelindung dari fitnah. Dengan menutup aurat, seorang wanita menjaga dirinya dari pandangan yang tidak semestinya serta menciptakan batasan sosial yang sehat.
Ketiga, hijab menjaga kehormatan dan martabat. Dalam perspektif sosial, perempuan yang berhijab menunjukkan identitasnya sebagai Muslimah yang menjunjung nilai kesopanan.
Keempat, hijab membantu menjaga kesucian hati. Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menekankan bahwa menjaga diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan godaan adalah bagian dari proses penyucian jiwa.
Baca juga: Amalan Saat Haid: Panduan Ibadah yang Bisa Dilakukan Muslimah
Berhijab tidak hanya bernilai kewajiban, tetapi juga memiliki keutamaan yang besar.
Salah satunya adalah sebagai bentuk ibadah. Setiap langkah seorang Muslimah dalam menutup aurat bernilai pahala karena termasuk ketaatan kepada Allah.
Selain itu, hijab menjadi simbol kemuliaan. Dalam hadis disebutkan bahwa perempuan yang menjaga kehormatannya akan dimuliakan oleh Allah SWT.
Keutamaan lain adalah menghadirkan ketenangan batin. Banyak Muslimah merasakan bahwa berhijab memberikan rasa aman, nyaman, dan lebih dekat dengan nilai spiritual.
Dalam buku Fiqh Sunnah Wanita karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa menjaga aurat merupakan bagian dari menjaga kehormatan diri yang akan berdampak pada kehidupan dunia dan akhirat.
Meski berhijab diwajibkan, tidak semua bentuk hijab dianggap memenuhi syarat dalam Islam. Para ulama menetapkan beberapa kriteria agar hijab sesuai dengan syariat.
Penjelasan ini juga ditegaskan dalam berbagai kitab fikih klasik serta literatur modern yang membahas etika berpakaian dalam Islam.
Baca juga: Nifas dalam Islam: Pengertian, Dalil, Hukum, dan Ketentuannya bagi Muslimah
Di era digital saat ini, hijab juga berkembang menjadi bagian dari industri fashion. Namun Islam mengingatkan bahwa esensi hijab tidak boleh hilang di balik tren.
Fenomena artis berhijab, termasuk yang dilakukan oleh Nikita Willy, bisa menjadi inspirasi, tetapi tetap perlu dipahami dalam kerangka ibadah.
Hijab bukan sekadar gaya, melainkan bentuk komitmen jangka panjang yang membutuhkan keistiqamahan.
Pada akhirnya, hijab adalah simbol ketaatan yang memiliki dimensi spiritual, sosial, dan moral. Ia bukan hanya tentang menutup aurat, tetapi juga menjaga sikap, ucapan, dan perilaku.
Perjalanan berhijab setiap Muslimah tentu berbeda. Ada yang memulainya karena dorongan lingkungan, ada pula yang lahir dari kesadaran pribadi.
Namun yang terpenting adalah bagaimana hijab menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Perubahan yang terlihat dari luar bisa menjadi awal dari transformasi yang lebih dalam. Sebab dalam Islam, setiap langkah kecil menuju kebaikan memiliki nilai besar di sisi Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang