KOMPAS.com – Dalam praktik ibadah harian umat Islam, keberadaan shalat sunnah rawatib memiliki posisi penting sebagai pelengkap shalat fardhu.
Salah satu yang sering dikerjakan adalah shalat ba’diyah, yakni shalat sunnah yang dilakukan setelah shalat wajib lima waktu.
Meski sering dianggap sebagai amalan tambahan, shalat ba’diyah justru menyimpan keutamaan besar.
Tidak hanya menyempurnakan kekurangan dalam shalat fardhu, tetapi juga menjadi jalan untuk meraih pahala yang berlipat.
Karena itu, memahami niat, tata cara, serta keutamaannya menjadi hal yang penting bagi setiap Muslim.
Baca juga: Niat Qobliyah Subuh Lengkap: Bacaan, Tata Cara, dan Keutamaannya Menurut Hads
Shalat ba’diyah merupakan bagian dari shalat sunnah rawatib, yaitu shalat yang mengiringi shalat fardhu, baik sebelum (qabliyah) maupun sesudahnya (ba’diyah).
Shalat ini dikerjakan setelah selesai menunaikan shalat wajib, tanpa adzan dan iqamah, serta dianjurkan dilakukan secara munfarid (sendiri).
Dalam buku Panduan Shalat Lengkap karya Saiful Hadi El Sutha, dijelaskan bahwa shalat rawatib, termasuk ba’diyah, terbagi menjadi dua kategori, yaitu muakkad (sangat dianjurkan) dan ghairu muakkad (tidak terlalu ditekankan). Shalat ba’diyah seperti setelah Maghrib dan Isya termasuk yang sangat dianjurkan.
Sementara itu, dalam kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, disebutkan bahwa Rasulullah SAW secara rutin menjaga shalat rawatib sebagai bentuk kesempurnaan ibadah wajib.
Niat merupakan rukun utama dalam setiap shalat. Berikut bacaan niat shalat ba’diyah lengkap dalam lafaz Arab, latin, dan artinya.
اُصَلِّى سُنَّةً الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatash-shubhi rak’ataini ba’diyatan mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala
Artinya: “Aku niat shalat sunnah ba’diyah Subuh dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”
اُصَلِّى سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh-dzuhri rak’ataini ba’diyatan mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala
Artinya: “Aku niat shalat sunnah ba’diyah Dzuhur dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”
اُصَلِّى سُنَّةَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal ‘ashri rak’ataini ba’diyatan mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala
Artinya: “Aku niat shalat sunnah ba’diyah Ashar dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”
أُصَلِّى سُنَّةَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyatan mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala
Artinya: “Aku niat shalat sunnah ba’diyah Maghrib dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”
أُصَلِّى سُنَّةَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal ‘isya’i rak’ataini ba’diyatan mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala
Artinya: “Aku niat shalat sunnah ba’diyah Isya dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”
Baca juga: Niat Sholat Qobliyah 5 Waktu: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Secara umum, tata cara shalat ba’diyah tidak berbeda dengan shalat sunnah lainnya. Perbedaannya hanya terletak pada niat dan waktu pelaksanaannya.
Beberapa ketentuan penting antara lain:
Dalam buku Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, dijelaskan bahwa berpindah tempat setelah shalat fardhu memiliki hikmah untuk memperbanyak tempat sujud yang akan menjadi saksi di hari kiamat.
Banyak umat Islam belum menyadari bahwa shalat ba’diyah memiliki keutamaan yang sangat besar. Salah satunya adalah sebagai penyempurna shalat fardhu.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya amalan pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika kurang, maka Allah berfirman: lihatlah apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah untuk menyempurnakannya.” (HR. Abu Dawud)
Selain itu, terdapat hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah sebanyak 12 rakaat dalam sehari semalam, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa konsistensi dalam menjaga shalat sunnah rawatib, termasuk ba’diyah, menjadi sebab datangnya balasan istimewa di akhirat.
Dalam buku Keutamaan Shalat Sunnah karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz, disebutkan bahwa shalat sunnah adalah bentuk kecintaan seorang hamba kepada Allah, karena ia tidak hanya menjalankan kewajiban, tetapi juga menambahnya dengan amalan sunnah.
Baca juga: 5 Waktu yang Dilarang untuk Melaksanakan Shalat Sunnah
Di balik tata cara yang sederhana, shalat ba’diyah menyimpan hikmah yang mendalam. Ia menjadi ruang bagi seorang Muslim untuk memperbaiki kualitas ibadahnya, sekaligus memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Dalam perspektif tasawuf, sebagaimana dijelaskan dalam Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, ibadah sunnah berfungsi sebagai “penyempurna jiwa” yang mengisi kekosongan dalam ibadah wajib.
Shalat ba’diyah juga melatih kedisiplinan dan keistiqamahan. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, menjaga amalan sunnah menjadi indikator kesungguhan seseorang dalam beragama.
Shalat ba’diyah mungkin terlihat sebagai amalan ringan, namun memiliki dampak besar dalam kehidupan seorang Muslim, baik di dunia maupun akhirat.
Dengan memahami niat, tata cara, serta keutamaannya, diharapkan umat Islam dapat lebih konsisten dalam mengamalkannya.
Sebab, dalam setiap rakaat yang dikerjakan, tersimpan peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menyempurnakan ibadah wajib.
Pada akhirnya, bukan banyaknya amalan yang menjadi ukuran, tetapi keikhlasan dan konsistensi dalam menjalankannya. Dan shalat ba’diyah adalah salah satu jalan sederhana menuju kesempurnaan itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang