Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Profil Pulau Kharg: Lokasi, Sejarah, dan Alasan AS Mengincar Pusat Minyak Vital Iran

Kompas.com, 30 Maret 2026, 16:25 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber BBC, Al Jazeera

KOMPAS.com - Pulau Kharg di Iran kembali menjadi sorotan dunia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan aksi lanjutan terhadap wilayah tersebut.

Meskipun ukurannya kecil, pulau ini merupakan salah satu bagian paling krusial dari infrastruktur energi Iran. Hal ini karena Pulau Kharg memiliki peran vital sebagai pusat ekspor minyak utama Iran.

Ketegangan meningkat karena posisi Pulau Kharg yang strategis dalam peta ekonomi dan geopolitik global.

Baca juga: Iran Pasang Pertahanan Berlapis di Pulau Kharg, Bersiap Hadapi Serangan AS

Dilansir dari BBC (30/3/2026), dalam wawancara dengan Financial Times, Trump menyatakan keinginan untuk menguasai minyak Iran, termasuk mempertimbangkan pengambilalihan Pulau Kharg.

Trump mengatakan bahwa ia ingin “mengambil” minyak Iran dan sedang mempertimbangkan untuk merebut Pulau Kharg. Namun, ia menambahkan bahwa operasi tersebut akan berarti bahwa pihaknya harus berada di Pulau Kharg untuk beberapa waktu.

Pada 13 Maret 2026, Trump menngeklaim bahwa pasukan Amerika Serikat telah “menghancurkan sepenuhnya” seluruh target militer di pulau tersebut, tetapi militer AS menahan diri untuk tidak menyerang infrastruktur minyaknya.

Baca juga: Trump Sesumbar Bisa Rebut Pulau Kharg Iran dengan Sangat Mudah

Profil Pulau Kharg: Lokasi dan Peran Strategis

Pulau Kharg merupakan pulau berbatu kecil yang terletak sekitar 15 mil laut atau 24 kilometer dari pantai Iran di Teluk Persia bagian utara. Lokasinya berada sekitar 55 km di barat laut Pelabuhan Bushehr.

Meski ukurannya relatif kecil, pulau ini menjadi salah satu infrastruktur energi paling penting bagi Iran.

Dilansir dari AL Jazeera, pulau ini mengelola sekitar 90 persen dari total ekspor minyak nasional Iran, dengan volume mencapai sekitar 950 juta barel setiap tahun.

Minyak dialirkan dari daratan melalui jaringan pipa bawah laut, kemudian dimuat ke kapal tanker besar untuk dikirim ke pasar global, terutama ke China sebagai pembeli utama.

engan panjang hanya sekitar 8 km dan lebar 4–5 km, perairan dalam di sekitarnya memberikan keunggulan geografis alami.

Perairan di sekitarnya cukup dalam sehingga memungkinkan kapal tanker raksasa bersandar dengan mudah, berbeda dengan sebagian besar pantai Iran yang lebih dangkal.

Sejarah Panjang Pulau Kharg

Pulau Kharg memiliki sejarah panjang yang mencakup ribuan tahun. Bukti arkeologis menunjukkan wilayah ini telah dihuni sejak milenium kedua sebelum masehi, melintasi era Elamite, Achaemenid, hingga Sassania.

Selama berabad-abad, nama pulau ini tercatat sempat berubah-ubah dalam berbagai dialek lokal dan peta Eropa dengan beragam sebutan seperti Kharg, Khark, Kharaj, dan Kharej.

Pada masa kolonial, pulau ini sempat dikuasai Portugis sebelum akhirnya diambil alih Belanda. Pada 1752,

Pada 1752, Baron Kniphausen dari Belanda menjalin kesepakatan dengan Mir Naser al-Zaabi, penguasa Bandar Rig, untuk mendirikan pos perdagangan. Setahun kemudian, Perusahaan Hindia Timur Belanda membangun benteng dengan penjagaan ketat guna melindungi kepentingannya.

Namun, kekuasaan kolonial tersebut tidak bertahan lama. Setelah bertahun-tahun ketegangan meningkat, Mir Muhanna, gubernur Bandar Rig, berhasil menyerang benteng tersebut dan mengusir pasukan Belanda secara definitif pada Januari 1766.

Memasuki abad ke-20, perjalanan pulau ini berubah ketika Reza Shah Pahlavi, yang memerintah Iran pada 1925 hingga 1941, menjadikannya sebagai tempat pengasingan terpencil bagi tahanan politik, sehingga potensi besarnya belum dimanfaatkan.

Era modern industri perminyakan mulai terbentuk setelah 1958. Pulau Kharg kemudian dipilih sebagai pusat ekspor minyak mentah berskala besar, dengan terminal laut dalam yang mulai beroperasi dan mengirimkan pengapalan besar pertamanya pada Agustus 1960.

Penemuan ladang minyak lepas pantai pada 1960-an semakin mengukuhkan posisi Kharg, bahkan melampaui Pelabuhan Abadan, yang kemudian menarik datangnya kapal tanker besar ke dermaganya.

Pulau Kharg secara historis sempat dijuluki “Orphan Pearl of the Persian Gulf”  oleh penulis Iran Jalal Al-e-Ahmad karena walaupun lokasinya terpencil dan berdiri sendiri namun memiliki nilai ekonomi sangat besar dalam sektor ekspor minyak mentah Iran.

Kini Pulau Kharg juga dikenal sebagai ‘Forbidden Island’ karena pengawasan militer yang ketat untuk melindungi fasilitas strategis di dalamnya.

Infrastruktur Energi dan Kapasitas Produksi di Pulau Kharg

Menurut Kementerian Perminyakan Iran, fasilitas di pulau ini berfungsi sebagai urat nadi sektor energi negara tersebut.

Fasilitas ini menampung minyak mentah dari tiga ladang lepas pantai utama yaitu Aboozar, Forouzan, dan Dorood yang kemudian dialirkan melalui jaringan kompleks pipa bawah laut ke fasilitas pengolahan di daratan sebelum disimpan atau dikirim ke pasar global.

Meski menghadapi sanksi internasional selama bertahun-tahun yang sempat menghambat produksi, Iran terus melakukan ekspansi besar-besaran terhadap infrastruktur di pulau ini.

Pada Mei 2025, S&P Global Commodity Insights melaporkan bahwa Teheran menambah kapasitas penyimpanan terminal sebesar dua juta barel melalui rehabilitasi tangki nomor 25 dan 26, yang masing-masing mampu menampung satu juta barel.

Secara historis, kapasitas pemuatan terminal yang terus ditingkatkan ini pernah mencapai angka maksimum hingga tujuh juta barel per hari.

Namun, saat ini ekspor nasional Iran berada di kisaran sekitar 1,6 juta barel per hari, di samping memenuhi kebutuhan produksi untuk pasar domestik.

Alasan AS Mengincar Pulau Kharg

Pulau Kharg dianggap sebagai “urat nadi ekonomi” Iran. Penguasaan atau serangan terhadap pulau ini berpotensi melumpuhkan ekspor minyak Iran dan secara langsung melemahkan kemampuan finansial negara tersebut.

Trump juga menyinggung kemungkinan serangan terhadap jaringan pipa minyak di pulau tersebut.

"Kami bisa melakukannya dalam waktu lima menit. Semuanya akan selesai. Cukup satu perintah sederhana, dan pipa-pipa itu juga akan hilang. Tapi akan butuh waktu lama untuk membangunnya kembali," ujarnya, seperti dikutip dari BBC.

Selain itu, penguasaan Kharg dapat memberikan keuntungan strategis bagi Amerika Serikat sebagai basis militer untuk melakukan operasi ke daratan Iran.

Laporan Axios juga menyebut pemerintah AS mempertimbangkan opsi pendudukan atau blokade pulau guna menekan Iran membuka kembali Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia.

Persiapan Militer dan Respons Iran

Sumber CBS News menyebut Pentagon telah menyiapkan rencana rinci untuk pengerahan pasukan darat ke Iran. Komando Pusat AS juga melaporkan kedatangan tambahan 3.500 personel militer ke kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, Pentagon dan Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait rencana tersebut.

Di sisi lain, Iran meningkatkan pertahanan di Pulau Kharg dengan menambah sistem pertahanan udara, rudal, serta ranjau laut di sekitar wilayah tersebut.

Ketua parlemen Iran memperingatkan bahwa pasukannya siap menghadapi invasi.

pasukan Iran "menunggu kedatangan tentara Amerika" dan akan "menghujani mereka dengan serangan" terhadap setiap pasukan yang masuk.

Dampak Serangan dan Risiko Eskalasi

Pada 13 Maret, Amerika Serikat mengklaim telah menghancurkan lebih dari 90 target militer di Pulau Kharg tanpa merusak fasilitas minyak.

Iran menyatakan fasilitas minyak tetap beroperasi normal dan ekspor tidak terganggu.

Serangan terhadap infrastruktur minyak dinilai berisiko besar karena dapat memicu lonjakan harga minyak global serta memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.

Saat ini, Pulau Kharg bukan sekadar wilayah kecil, melainkan pusat energi dan simbol kekuatan ekonomi Iran.

Ketertarikan Amerika Serikat terhadap pulau ini menegaskan perannya yang sangat strategis dalam stabilitas energi dan geopolitik global.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Bus Jemaah Umrah Terbakar di Madinah, Kemenhaj Desak Kompensasi Layak
Bus Jemaah Umrah Terbakar di Madinah, Kemenhaj Desak Kompensasi Layak
Aktual
Doa Setelah Shalat Taubat Sesuai Sunnah Rasulullah, Lengkap Niatnya
Doa Setelah Shalat Taubat Sesuai Sunnah Rasulullah, Lengkap Niatnya
Doa dan Niat
Profil Pulau Kharg: Lokasi, Sejarah, dan Alasan AS Mengincar Pusat Minyak Vital Iran
Profil Pulau Kharg: Lokasi, Sejarah, dan Alasan AS Mengincar Pusat Minyak Vital Iran
Aktual
Niat Shalat Ba’diyah 5 Waktu Lengkap Arab, Latin dan Artinya
Niat Shalat Ba’diyah 5 Waktu Lengkap Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Nikita Willy Berhijab, Ini Hukum dan Alasan Wajib Hijab dalam Islam
Nikita Willy Berhijab, Ini Hukum dan Alasan Wajib Hijab dalam Islam
Doa dan Niat
Benarkah Rumput di Kuburan Bisa Ringankan Siksa Kubur? Ini Dalilnya
Benarkah Rumput di Kuburan Bisa Ringankan Siksa Kubur? Ini Dalilnya
Doa dan Niat
Seruan Wamenhaj: Redam Konflik Dunia Demi Haji 2026 Berjalan Aman
Seruan Wamenhaj: Redam Konflik Dunia Demi Haji 2026 Berjalan Aman
Aktual
Makna Uban dalam Islam: Pengingat Ajal dan Cahaya di Hari Kiamat
Makna Uban dalam Islam: Pengingat Ajal dan Cahaya di Hari Kiamat
Aktual
Doa Istighosah Lengkap: Niat dan Tata Cara Shalat Solusi Hadapi Ujian
Doa Istighosah Lengkap: Niat dan Tata Cara Shalat Solusi Hadapi Ujian
Doa dan Niat
Doa-doa Haji dan Umrah Lengkap Arab, Latin, dan Artinya: Panduan Penting untuk Jamaah
Doa-doa Haji dan Umrah Lengkap Arab, Latin, dan Artinya: Panduan Penting untuk Jamaah
Doa dan Niat
Apa Itu Hari Tasyrik? Ini Tanggal dan Larangan Puasa dalam Islam
Apa Itu Hari Tasyrik? Ini Tanggal dan Larangan Puasa dalam Islam
Aktual
Strategi RI Jamin Keselamatan Jemaah Haji 2026 di Tengah Konflik Timteng
Strategi RI Jamin Keselamatan Jemaah Haji 2026 di Tengah Konflik Timteng
Aktual
Doa Puasa Syawal 6 Hari, Niat, dan Keutamaannya Lengkap dengan Dalil
Doa Puasa Syawal 6 Hari, Niat, dan Keutamaannya Lengkap dengan Dalil
Doa dan Niat
Haji 2026, Menhaj Libatkan KPK hingga Polisi Awasi Dana Rp 18 Triliun
Haji 2026, Menhaj Libatkan KPK hingga Polisi Awasi Dana Rp 18 Triliun
Aktual
Puasa Syawal Setara Pahala Setahun, Ini Cara dan Waktu Terbaiknya
Puasa Syawal Setara Pahala Setahun, Ini Cara dan Waktu Terbaiknya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com