KOMPAS.com – Hari Jumat bukan sekadar penanda akhir pekan bagi umat Islam, melainkan hari yang memiliki nilai spiritual sangat tinggi. Dalam berbagai riwayat, Jumat disebut sebagai “sayyidul ayyam” atau penghulu segala hari.
Keistimewaan ini tidak hanya berlaku bagi laki-laki yang melaksanakan shalat Jumat, tetapi juga bagi perempuan.
Meski tidak diwajibkan mengikuti shalat Jumat di masjid, perempuan tetap memiliki peluang besar untuk meraih pahala berlipat melalui berbagai amalan sunnah.
Di tengah rutinitas harian, hari Jumat menjadi momentum bagi Muslimah untuk memperkuat spiritualitas sekaligus memperbanyak amal kebaikan. Lantas, apa saja amalan sunnah yang bisa dilakukan perempuan di hari Jumat?
Baca juga: Khutbah Jumat 27 Maret 2026: Harta Bukan Segalanya, Ini Cara Islam Mengelolanya
Hari Jumat memiliki kedudukan istimewa sejak awal penciptaan manusia. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa pada hari inilah Nabi Adam diciptakan dan dipertemukan dengan Hawa.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa Jumat adalah hari berkumpulnya kebaikan, sekaligus waktu di mana doa lebih berpeluang dikabulkan.
Karena itu, umat Islam dianjurkan mengisi hari tersebut dengan amal ibadah, baik yang bersifat ritual maupun sosial.
Baca juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Silaturahmi dan Memaafkan Sesama
Mandi Jumat seringkali identik dengan laki-laki yang hendak menunaikan shalat Jumat. Namun, perempuan juga dianjurkan melakukannya.
Hadis riwayat Ibnu Umar menyebutkan bahwa siapa pun yang hendak menghadiri Jumat dianjurkan untuk mandi.
Sebagian ulama berpendapat bahwa anjuran ini berlaku umum, sementara ulama lain seperti Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain menegaskan bahwa mandi Jumat tetap sunnah bagi perempuan meskipun tidak pergi ke masjid.
Secara spiritual, mandi Jumat dimaknai sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin.
Hari Jumat juga menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak shalawat pada malam dan hari Jumat.
Dalam kitab Fathul Mu’in, Zainuddin Al-Malibari bahkan menyebut bahwa memperbanyak shalawat di hari Jumat memiliki keutamaan lebih dibandingkan dzikir lain yang tidak memiliki dalil khusus pada hari tersebut.
Bagi perempuan, amalan ini sangat fleksibel karena bisa dilakukan di sela aktivitas harian.
Membaca Surah Al-Kahfi menjadi salah satu amalan paling populer di hari Jumat.
Dalam hadis riwayat Al-Hakim disebutkan bahwa orang yang membaca Surah Al-Kahfi akan mendapatkan cahaya di antara dua Jumat.
Menurut penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani, cahaya tersebut dapat dimaknai sebagai petunjuk hidup, keberkahan, dan perlindungan dari kesesatan.
Baca juga: Doa Jumat Pagi Penuh Makna: Memohon Keteguhan Iman dan Rahmat Allah di Hari Mulia
Salah satu keistimewaan hari Jumat adalah adanya waktu mustajab, yaitu waktu di mana doa dikabulkan.
Dalam kitab Syarah Minhaj At-Thalibin, Jalaluddin Al-Mahalli menjelaskan bahwa waktu tersebut dirahasiakan oleh Allah SWT.
Pendapat ini diperkuat oleh Abdullah bin Alawi Al-Haddad yang menyebut bahwa waktu mustajab tersebar sepanjang hari Jumat, sehingga umat dianjurkan memperbanyak doa sepanjang hari.
Bagi perempuan, ini menjadi kesempatan untuk memanjatkan doa di sela aktivitas rumah tangga maupun pekerjaan.
Selain Al-Kahfi, membaca Surah Yasin juga menjadi amalan yang banyak dilakukan pada malam Jumat.
Hadis riwayat Abu Daud menyebutkan keutamaan membaca Surah Yasin dan As-Shaffat pada malam Jumat.
Meski sebagian ulama menilai hadis ini lemah, dalam kajian fadlail al-a’mal (keutamaan amal), amalan ini tetap dianjurkan selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat.
Dalam praktiknya, membaca Yasin juga menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang memperkuat spiritualitas dan kebersamaan.
Hari Jumat adalah momentum memperbanyak amal saleh, mulai dari sedekah, membantu sesama, hingga menjaga lisan.
Dalam kitab I’anah At-Thalibin, Abu Bakr bin Syatha mengutip riwayat bahwa kebaikan yang dilakukan pada hari Jumat akan dilipatgandakan.
Sebaliknya, keburukan juga memiliki konsekuensi yang sama. Karena itu, menjaga perilaku di hari Jumat menjadi sangat penting.
Baca juga: Harta Bukan Tujuan Hidup, Khutbah Jumat KH M Cholil Nafis MUI tentang Ekonomi Islam
Dalam buku The Productive Muslim, Mohammed Faris menjelaskan bahwa ibadah rutin mingguan seperti amalan Jumat dapat menjadi sarana refleksi spiritual.
Hari Jumat berfungsi sebagai “checkpoint” mingguan untuk mengevaluasi diri—apakah ibadah semakin meningkat atau justru menurun.
Bagi perempuan, ini menjadi ruang untuk menyeimbangkan antara peran domestik, sosial, dan spiritual.
Hari Jumat bukan hanya milik mereka yang hadir di masjid, tetapi juga bagi perempuan yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui amalan sunnah.
Dari mandi Jumat, membaca Al-Kahfi, hingga memperbanyak doa dan shalawat, semua amalan ini membuka peluang besar untuk meraih pahala.
Lebih dari itu, Jumat adalah pengingat bahwa ibadah tidak terbatas pada ruang dan waktu tertentu. Ia bisa hadir dalam setiap aktivitas, selama diniatkan karena Allah.
Dengan memanfaatkan hari Jumat secara optimal, Muslimah tidak hanya menjalankan rutinitas ibadah, tetapi juga membangun kualitas spiritual yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang