KENDAL, KOMPAS.com-Suasana khidmat mewarnai pembukaan tradisi Syawalan di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Kamis (26/3/2026) sore.
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari atau mbak Tika bersama ratusan warga, ulama, dan pejabat daerah memadati kompleks makam Kiai Asy’ari di Jabal Kaliwungu untuk doa bersama.
Doa untuk Kiai Asy’ari atau Kyai Guru itu mengawali rangkaian tradisi yang dirayakan setiap tahun.
Baca juga: Kapan Puasa Syawal Dimulai? Ini Waktu Terbaik, Hukum, dan Tips Maksimalkan Pahala
Usai berdoa bersama, Mbak Tika menegaskan bahwa Syawalan bukan sekadar agenda budaya, melainkan juga bagian dari haul Kiai Asy’ari atau yang dikenal sebagai Mbah Kiai Guru, ulama besar penyebar Islam di Kaliwungu dan sekitarnya.
“Syawalan di Kaliwungu adalah haul Kyai Asy’ari. Beliau adalah ulama yang perlu diteladani,” ujar Mbak Tika.
Takmir Masjid Agung Kaliwungu Asroi Thohir menjelaskan bahwa Syawalan tahun ini merupakan haul Kyai Asy’ari ke-329.
Sosok Kyai Asy’ari dikenal luas sebagai pendiri Masjid Al Muttaqin atau Masjid Agung Kaliwungu, sekaligus tokoh penting dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut.
“Beliau meninggal pada tahun 1697 di usia 44 tahun,” jelasnya.
Baca juga: Puasa Syawal: Hukum, Niat, dan Tata Cara Menurut Ulama
Asroi juga menyoroti pentingnya pendokumentasian resmi makam para ulama di Kabupaten Kendal, agar nilai sejarah tidak hilang dan dapat diwariskan kepada generasi muda.
“Sehingga para ulama itu bisa dikenang dan dijadikan teladan bagi generasi muda,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi Syawalan tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga berdampak positif bagi perekonomian masyarakat. Kehadiran para pengunjung membuka peluang bagi pedagang untuk meraih tambahan penghasilan.
“Tradisi ini sangat baik dan bermanfaat, baik secara spiritual maupun ekonomi,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang