KOMPAS.com – Ada momen yang selalu terasa hangat sekaligus menggetarkan saat seseorang dilepas menuju Tanah Suci.
Tangis haru, pelukan keluarga, hingga lantunan doa mengiringi langkah para calon jemaah. Di titik inilah, doa bukan sekadar ucapan, melainkan harapan yang dititipkan kepada Allah SWT agar perjalanan haji berjalan selamat dan berujung pada predikat haji mabrur.
Dalam ajaran Islam, perjalanan haji bukan hanya mobilitas fisik menuju Makkah, tetapi perjalanan spiritual yang sarat ujian.
Karena itu, sejak awal keberangkatan, Rasulullah SAW telah mengajarkan sejumlah doa yang dapat diamalkan oleh jemaah maupun keluarga yang ditinggalkan.
Dalam perspektif keislaman, doa merupakan bentuk pengakuan atas keterbatasan manusia di hadapan Allah SWT.
Perjalanan jauh seperti haji mengandung banyak ketidakpastian, mulai dari kondisi fisik hingga situasi di lapangan.
Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi, dijelaskan bahwa doa safar menjadi amalan penting karena mengandung permohonan perlindungan, kemudahan, serta keberkahan dalam perjalanan.
Hal ini sejalan dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa doa menjadi salah satu bentuk penjagaan diri dari keburukan.
Baca juga: Shalat Safar Haji: Niat, Tata Cara, dan Doa Lengkap Sebelum Berangkat
Salah satu doa yang diajarkan adalah doa dari orang yang berangkat haji kepada keluarga yang ditinggalkan.
Doa ini mencerminkan rasa tanggung jawab sekaligus ketenangan hati karena menyerahkan keluarga kepada penjagaan Allah SWT.
أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ
Astawdi’ukallāhal-ladzī lā taḍī’u wadā’i’uh
Artinya: “Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan menyia-nyiakan titipan-Nya.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad)
Doa ini mengandung makna mendalam bahwa perlindungan terbaik bukan berasal dari manusia, melainkan dari Allah SWT.
Sebaliknya, keluarga yang ditinggalkan juga dianjurkan membalas dengan doa. Hubungan spiritual ini menjadi penguat batin bagi jemaah yang sedang menempuh perjalanan panjang.
أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
Astawdi’ullāha dīnak, wa amānatak, wa khawātīma ‘amalik
Artinya: “Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan akhir amalmu kepada Allah.” (HR At-Tirmidzi dan Ahmad)
Doa ini tidak hanya memohon keselamatan fisik, tetapi juga menjaga kualitas ibadah agar tetap terjaga hingga akhir perjalanan.
Selain doa keselamatan, terdapat pula doa yang secara khusus memohon agar ibadah haji diterima dan dimudahkan.
زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ
Zawwadakallāhut-taqwā wa ghafara dzanbaka wa yassara lakal-khaira haitsumā kunta
Artinya: “Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan di mana pun engkau berada.”(HR At-Tirmidzi)
Doa ini sering dilantunkan saat pelepasan jemaah, menjadi simbol harapan agar perjalanan haji tidak hanya selesai secara ritual, tetapi juga membawa perubahan batin.
Baca juga: Kumpulan Doa Haji dan Umrah Lengkap: Arab, Latin, Arti Sesuai Sunnah
Harapan terbesar setiap jemaah adalah meraih haji mabrur. Dalam literatur klasik, haji mabrur bukan sekadar sah secara hukum, tetapi diterima oleh Allah SWT.
اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا حَاجًا مَبْرُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا
Allāhummaj’alhā hajjan mabrūran wa dzanban maghfūran
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hajinya sebagai haji yang mabrur dan dosanya diampuni.”
Dalam buku Untaian Mutiara Doa karya Ali Manshur, doa ini disebut sebagai bentuk permohonan tertinggi dalam ibadah haji karena menyangkut penerimaan amal.
Istilah haji mabrur sering disebut, tetapi maknanya tidak selalu dipahami secara mendalam. Dalam buku Setetes Embun Hikmah karya Muhammad Arham, dijelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang membawa perubahan nyata dalam kehidupan seseorang.
Perubahan itu tercermin dalam peningkatan kualitas ibadah, baik secara personal maupun sosial.
Seseorang yang meraih haji mabrur akan lebih disiplin dalam ibadah, menjauhi maksiat, serta menunjukkan kepedulian sosial yang lebih tinggi.
Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa balasan haji mabrur tidak lain adalah surga.
Baca juga: Kumpulan Doa Berangkat Haji Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya
Dalam kajian modern tentang haji, seperti yang diuraikan dalam buku The Hajj: Pilgrimage in Islam karya F. E. Peters, ibadah ini dipandang sebagai perjalanan transformasi total. Tidak hanya fisik, tetapi juga mental dan spiritual.
Doa-doa yang dipanjatkan sejak awal keberangkatan menjadi fondasi dari transformasi tersebut.
Ia membentuk kesadaran bahwa perjalanan haji adalah proses mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar memenuhi kewajiban.
Melepas jemaah haji selalu menghadirkan dua sisi yang saling beriringan, kesedihan karena perpisahan dan harapan akan kepulangan yang membawa keberkahan.
Di antara keduanya, doa menjadi jembatan yang menghubungkan hati yang ditinggalkan dan yang berangkat. Ia menguatkan keyakinan bahwa setiap langkah jemaah berada dalam penjagaan Allah SWT.
Pada akhirnya, perjalanan haji bukan hanya tentang sampai di Tanah Suci, tetapi tentang bagaimana seseorang kembali dengan hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, dan kehidupan yang lebih bermakna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang