BANYUWANGI, KOMPAS.com - Di tengah kehidupan modern yang serba kompetitif, manusia sering kali dihadapkan pada keinginan yang seolah tidak ada habisnya. Ketika satu target tercapai, target berikutnya segera muncul.
Saat satu impian terwujud, impian lain menanti untuk dikejar. Tidak jarang, seseorang yang telah memiliki banyak justru merasa masih kurang.
Kondisi tersebut ternyata telah digambarkan secara jelas oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari.
Rasulullah bersabda:
لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ.
"Seandainya anak Adam memiliki satu lembah berisi emas, niscaya ia akan menginginkan dua lembah. Dan tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat." (HR Bukhari No. 6439)
Baca juga: Arkeolog Temukan Harta Karun Emas Berusia 1.200 Tahun di Jalur Haji Kuno Arab Saudi
Hadits tersebut mengungkap salah satu kecenderungan yang ada dalam diri manusia, yakni keinginan untuk terus menambah dan mengumpulkan harta tanpa merasa puas.
Rasulullah SAW menggambarkannya dengan perumpamaan yang sangat kuat. Bahkan jika seseorang memiliki satu lembah penuh emas, ia masih berharap memiliki lembah kedua. Jika mendapat yang kedua, keinginan itu bisa berlanjut kepada yang ketiga dan seterusnya.
"Pesan yang ingin disampaikan bukanlah larangan untuk bekerja keras atau mencari rezeki. Islam justru mendorong umatnya untuk berikhtiar dan meraih kehidupan yang baik. Namun, Islam mengingatkan agar harta tidak berubah menjadi tujuan hidup yang menguasai hati," kata Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ahsanul Falihin.
Dalam banyak kasus, persoalan bukan terletak pada sedikit atau banyaknya harta, melainkan pada rasa cukup yang hilang dari dalam diri. Ketika hati dipenuhi ketamakan, berapa pun yang dimiliki akan terasa kurang.
Sebaliknya, ketika seseorang memiliki sifat qanaah atau merasa cukup atas karunia Allah, ketenangan dapat dirasakan meskipun hidup dalam kesederhanaan.
Bagian lain dari hadits tersebut juga menyimpan peringatan mendalam. Rasulullah SAW menyebut bahwa tidak ada yang dapat memenuhi mulut manusia selain tanah. Para ulama menjelaskan bahwa tanah dalam hadits ini merupakan simbol kematian. Artinya, ambisi duniawi yang tidak terkendali sering kali baru berhenti ketika kehidupan berakhir.
Baca juga: Harta Rampasan Perang Khalid vs Hormuz: Fakta yang Jarang Dibahas
Peringatan ini relevan di setiap zaman. Kesibukan mengejar materi kerap membuat manusia lupa bahwa hidup di dunia bersifat sementara. Waktu, tenaga, dan pikiran habis untuk mengumpulkan kekayaan, sementara persiapan menuju kehidupan akhirat justru terabaikan.
Namun, sebagaimana rahmat Allah selalu mendahului murka-Nya, hadits ini ditutup dengan kalimat yang membawa harapan.
"Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat."
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa pintu taubat senantiasa terbuka. Seberapapun besar kecintaan seseorang terhadap dunia, ia masih dapat kembali kepada Allah dengan memperbaiki niat, meluruskan tujuan hidup, dan menjadikan akhirat sebagai orientasi utama.
Dari hadits ini, setidaknya terdapat tiga pelajaran penting. Pertama, ketamakan merupakan sifat tercela yang harus diwaspadai karena dapat menjauhkan manusia dari rasa syukur.
Kedua, harta bukanlah ukuran kebahagiaan, sebab ketenangan sejati lahir dari hati yang merasa cukup. Ketiga, seorang mukmin hendaknya menjadikan amal saleh dan kehidupan akhirat sebagai cita-cita terbesar, tanpa terjebak dalam perlombaan dunia yang tidak berujung.
Pada akhirnya, manusia tidak akan membawa harta yang dikumpulkannya sepanjang hidup. Yang akan menemani hingga ke hadapan Allah hanyalah amal dan ketakwaan.
Karena itu, saat dunia menawarkan semakin banyak keinginan, seorang mukmin perlu terus mengingat pesan Rasulullah SAW bahwa sebanyak apa pun yang dimiliki, hati yang tidak dijaga akan selalu merasa kurang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang