KOMPAS.com – Dalam kehidupan seorang Muslim, musibah bukanlah sesuatu yang bisa dihindari.
Ia hadir sebagai bagian dari ketetapan Allah SWT, sekaligus menjadi sarana ujian keimanan dan penguat spiritualitas.
Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia pasti akan diuji dengan berbagai bentuk kesulitan, mulai dari rasa takut, kehilangan, hingga penderitaan.
Namun di balik itu, Islam tidak membiarkan umatnya larut dalam kesedihan tanpa arah. Ada tuntunan dzikir dan doa yang diajarkan sebagai penopang hati agar tetap tenang dan dekat kepada Allah.
Lantas, apa saja bacaan dzikir yang dianjurkan ketika menghadapi musibah dan bagaimana makna mendalam di baliknya?
Dalam pandangan Islam, musibah bukan semata-mata penderitaan, melainkan bagian dari proses penyucian jiwa.
Dalam buku Dzikir Pagi dan Petang karya Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dijelaskan bahwa ujian hidup justru menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas iman dan ketergantungan seorang hamba kepada Allah SWT.
Sejalan dengan itu, Imam Ibnu Qayyim dalam Badā’i‘ul Fawā’id menegaskan bahwa musibah dapat menjadi sebab dihapusnya dosa dan diangkatnya derajat seseorang, selama ia menyikapinya dengan sabar dan dzikir.
Baca juga: Doa Menghadapi Musibah Gempa Bumi serta Hikmah Terjadinya Bencana dalam Islam
Dzikir paling utama ketika musibah adalah kalimat istirja’, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn
Artinya: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
Dalam tafsirnya, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kalimat ini mengandung dua unsur utama, pengakuan kepemilikan mutlak Allah atas manusia, serta kesadaran akan kepastian kembali kepada-Nya.
Lebih dari sekadar ucapan, istirja’ adalah bentuk ketundukan total yang mampu meredam gejolak emosi saat musibah datang.
Rasulullah SAW juga mengajarkan tambahan doa:
اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
Allāhumma ajurnī fī musībatī wa akhlif lī khayran minhā
Artinya: “Ya Allah, berilah aku pahala atas musibah ini dan gantikan dengan yang lebih baik.”
Dalam buku Kumpulan Doa Sehari-hari terbitan Kementerian Agama RI, doa ini disebut sebagai bentuk harapan aktif seorang hamba agar musibah tidak hanya menjadi ujian, tetapi juga jalan menuju kebaikan yang lebih besar.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW membaca dzikir berikut ketika menghadapi kesulitan:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Lā ilāha illallāhul ‘azhīmul halīm, lā ilāha illallāhu rabbul ‘arsyil ‘azhīm, lā ilāha illallāhu rabbus samāwāti wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil karīm
Artinya: “Tiada tuhan yang patut disembah selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tiada tuhan yang patut disembah selain Allah Pemilik ‘Arsy yang agung. Tiada tuhan yang patut disembah selain Allah Pencipta langit, Pencipta bumi, Pemilik ‘Arsy yang mulia.”
Dzikir ini menekankan pengagungan terhadap Allah sebagai pemilik kekuasaan tertinggi. Dalam Fiqh Doa dan Dzikir karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz, dijelaskan bahwa menyebut keagungan Allah saat sulit akan menumbuhkan ketenangan batin dan rasa tawakal.
Baca juga: Cara Mengobati Pedih Ujian Hidup dan Musibah Menurut Ulama
Sakit merupakan bentuk musibah yang paling sering dialami. Rasulullah SAW mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syāfī. Lā syifā’a illā syifā’uka, syifā’an lā yughādiru saqaman
Arti: “Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”
Dalam riwayat Aisyah RA (HR Bukhari-Muslim), doa ini dibaca Nabi saat menjenguk orang sakit.
Menurut Syaikh Abdurrazzaq al-Badr dalam Doa-Doa bagi Orang Sakit, doa ini bukan hanya permohonan kesembuhan fisik, tetapi juga bentuk pengakuan bahwa kesembuhan sejati berasal dari Allah.
امْسَحِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِكَ الشِّفَاءُ لَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا أَنْتَ
Imsahil ba’sa rabban nāsi. Bi yadikas syifā’u. Lā kāsyifa lahū illā anta
Artinya: “Tuhan manusia, sapulah penyakit ini. Di tangan-Mulah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Engkau.”
أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ
As’alullāhal ‘azhīma rabbal ‘arsyil ‘azhīmi an yasyfiyaka
Artnyai: “Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan ‘Arsy yang megah, agar menyembuhkanmu.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAWQ menganjurkan doa ini dibacakan sebanyak 7 kali di hadapan orang yang sakit.
Selain doa saat musibah terjadi, Islam juga mengajarkan dzikir preventif, seperti membaca surat:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Qul huwallāhu ahad. Allāhus shamad. Lam yalid wa lam yūlad. Wa lam yakun lahu kufuwan ahad
Artinya: “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”b.
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِن شَرِّ مَا خَلَقَ، وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Qul a‘ūdzu birabbil falaq. Min sharri mā khalaq. Wa min sharri ghāsiqin idzā waqab. Wa min sharrin naffātsāti fil ‘uqad. Wa min sharri hāsidin idzā hasad
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
Dalam Buku Doa-Doa bagi Orang Sakit dan yang Tertimpa Musibah karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, dijelaskan:
“Sungguh telah datang banyak hadits yang menunjukkan besarnya keutamaan ketiga surah ini, lebih-lebih apabila penyakit tersebut disebabkan oleh sihir, ‘ain, atau yang semisal.” (Syaikh Abdurrazzaq al-Badr)
Beliau juga mengutip Ibnu Qayyim rahimahullah:
“Sesungguhnya kebutuhan hamba untuk meminta perlindungan dengan kedua surah ini (Al-Falaq dan An-Naas) lebih besar daripada kebutuhannya kepada udara, makanan, minuman, dan pakaian.” (Ibnu Qayyim, Badā’i‘ul Fawā’id).
Dalam kitab karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr dijelaskan bahwa tiga surah ini memiliki keutamaan besar sebagai perlindungan dari berbagai keburukan, termasuk penyakit dan gangguan non-fisik.
Ibnu Qayyim bahkan menyebut kebutuhan manusia terhadap dzikir perlindungan ini melebihi kebutuhan terhadap makanan dan minuman.
Baca juga: Apakah Orang yang Meninggal karena Musibah Termasuk Syahid?
Dzikir bukan hanya ritual verbal, tetapi memiliki dampak spiritual yang nyata. Dalam berbagai literatur klasik dijelaskan beberapa keutamaannya:
Pertama, dzikir menghadirkan ketenangan. Hati yang gelisah akan menjadi lebih stabil karena merasa dekat dengan Allah.
Kedua, dzikir menjadi sebab penghapusan dosa. Setiap musibah yang disertai kesabaran akan mengurangi beban dosa seorang hamba.
Ketiga, dzikir membuka pintu pahala yang besar. Dalam hadis disebutkan bahwa bahkan luka kecil pun bisa menjadi sebab diangkatnya derajat seseorang.
Keempat, dzikir menghadirkan harapan. Doa yang dipanjatkan saat musibah sering kali menjadi awal datangnya pertolongan Allah.
Dalam perspektif tasawuf, sebagaimana dijelaskan dalam Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, musibah adalah panggilan halus agar manusia kembali kepada Allah. Ia mengikis kesombongan dan mengingatkan bahwa dunia bukan tujuan akhir.
Karena itu, dzikir saat musibah bukan sekadar bacaan, melainkan proses penyadaran diri bahwa segala sesuatu berada dalam kendali-Nya.
Menghadapi musibah memang tidak mudah. Namun, Islam telah memberikan panduan yang sangat lengkap melalui dzikir dan doa.
Dengan membaca istirja’, memperbanyak dzikir, serta memohon perlindungan kepada Allah, seorang Muslim tidak hanya bertahan dalam ujian, tetapi juga tumbuh secara spiritual.
Pada akhirnya, musibah bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah jembatan menuju kedekatan dengan Allah SWT dan dzikir adalah kunci untuk melewatinya dengan hati yang tenang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang