Editor
KOMPAS.com-Puasa Tarwiyah dan Arafah termasuk amalan sunnah yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah.
Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada 8 Zulhijah, sedangkan puasa Arafah dikerjakan pada 9 Zulhijah bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.
Kedua puasa ini berada dalam rangkaian sepuluh hari pertama Zulhijah, yakni waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh.
Selain memiliki keutamaan besar, puasa Tarwiyah dan Arafah juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, memohon ampunan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Baca juga: Kapan Puasa Tarwiyah 2026? Ini Tanggal, Niat, dan Keutamaannya
Dilansir dari laman MUI, anjuran puasa Arafah disebutkan dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim.
Rasulullah SAW bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
Artinya: “Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim)
Hadis tersebut menjadi dasar kuat mengenai keutamaan puasa Arafah bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
Puasa Arafah juga termasuk salah satu puasa sunnah yang sangat ditekankan karena bertepatan dengan hari mulia pada 9 Dzulhijjah.
Selain puasa Arafah, puasa Tarwiyah juga banyak diamalkan umat Islam pada 8 Dzulhijjah.
Dalam sebuah riwayat disebutkan keutamaan puasa Tarwiyah dan Arafah secara bersamaan:
صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ وَصَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ
Artinya: “Puasa hari Tarwiyah bisa menghapus dosa setahun. Sedangkan puasa hari Arafah bisa menghapus dosa dua tahun.”
Riwayat tersebut dinisbahkan kepada Ibnu Abbas, tetapi banyak ulama menilainya dha’if atau lemah karena terdapat jalur periwayat yang dianggap tidak dapat dipercaya.
Meski demikian, puasa Tarwiyah tetap mendapat dukungan dari dalil umum yang sahih tentang anjuran memperbanyak amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Salah satunya adalah hadis berikut:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ. يَعْنِي أَيَّامُ الْعُشْرِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Nabi bersabda, “Tidak ada hari di mana amal kebaikan saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama bulan Zulhijah).” Lantas para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga berjihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apa pun (mati syahid).” (HR Al-Bukhari)
Hadis tersebut menegaskan bahwa sepuluh hari pertama Zulhijah menjadi waktu utama untuk memperbanyak amal saleh, termasuk berpuasa.
Dengan demikian, puasa Tarwiyah pada 8 Zulhijah dapat dipahami sebagai bagian dari amal saleh yang dianjurkan pada hari-hari mulia tersebut.
Baca juga: Doa Puasa Dzulhijjah, Amalan 10 Hari Pertama Lengkap Artinya
Para ulama menjelaskan, hadis dha’if dapat diamalkan dalam konteks fadhail a’mal atau keutamaan amal selama tidak berkaitan dengan penetapan hukum pokok dan tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat.
Atas dasar itu, puasa Tarwiyah tetap dapat diamalkan sebagai bagian dari ibadah sunnah pada bulan Zulhijah.
Puasa Tarwiyah juga memiliki dasar lain dari sisi kehati-hatian agar seorang muslim tidak terlewat dari keutamaan puasa Arafah.
Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan, puasa pada 8 Dzulhijjah dianjurkan sebagai bentuk kehati-hatian terhadap kemungkinan kekeliruan penetapan Hari Arafah.
ويسن أن يصوم معه الثمانية التي قبله ... لكن الثامن مطلوب من جهة الاحتياط لعرفة
“Dan juga disunnahkan puasa 8 hari sebelum tanggal 9…. Tetapi tanggal 8 dianjurkan sebagai bentuk kehati-hatian terhadap hari Arafah.” (Minhaj al-Qowim Syarah Muqoddimah al-Hadromiyah [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah], h. 262)
Penjelasan serupa juga disampaikan Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi.
(والأحوط صوم الثامن) أي لأنه ربما يكون هو التاسع في الواقع
“Yang lebih hati-hati juga berpuasa 8 Dzulhijjah. Karena mungkin saja itu hari Arafah yang sebenarnya.” (I’anah ath-Thalibin, [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 2, h. 300)
Dalam penjelasan lanjutannya, puasa Tarwiyah juga dianjurkan karena termasuk amal saleh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Zulhijah.
Baca juga: Hanya Puasa Arafah Saja, Apakah Tetap Dapat Pahala Dzulhijjah?
Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan, puasa Arafah sangat dianjurkan bagi orang yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
Puasa ini termasuk salah satu puasa sunnah yang paling ditekankan karena memiliki keutamaan pengampunan dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.
Adapun bagi jemaah haji yang sedang wukuf di Arafah, para ulama menjelaskan bahwa berpuasa pada hari tersebut hukumnya khilaf al-aula, yakni meninggalkannya lebih utama.
Hal ini karena jemaah haji dianjurkan menjaga kekuatan fisik agar lebih maksimal saat wukuf dan memperbanyak doa.
يُسَنُّ مُتَأَكِّدًا مِنْهُ خَمْسَةَ عَشَرَ: الْأَوَّلُ صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ لِغَيْرِ الْحَاجِّ وَهُوَ تَاسِعُ ذِي الْحِجَّةِ؛ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ عَرَفَةَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْمُسْتَقْبَلَةَ، وَصَوْمُهُ لِلْحَاجِّ خِلَافُ الْأَوْلَى
“Sangat disunnahkan berpuasa pada lima belas hari tertentu, yang pertama adalah puasa Hari Arafah bagi selain jamaah Haji, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hal ini karena Nabi SAW pernah ditanya tentang puasa Arafah, lalu beliau bersabda: Puasa itu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Adapun bagi jamaah haji, berpuasa pada hari Arafah hukumnya khilaf al-aula.” (Nihayah az-Zain Fi Irsyad al-Mubtadiin [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 195)
Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi menerangkan, dosa yang dihapus melalui puasa Arafah adalah dosa-dosa kecil yang tidak berkaitan dengan hak sesama manusia.
Adapun dosa besar hanya dapat dihapus dengan tobat yang benar, sedangkan hak sesama manusia harus diselesaikan dengan kerelaan pemilik hak tersebut.
Dia juga menjelaskan, jika seseorang tidak memiliki dosa kecil, Allah SWT akan menambahkan pahala kebaikannya.
Dalam penghapusan dosa untuk satu tahun yang akan datang, terdapat pula isyarat kabar gembira bahwa orang tersebut diberi kesempatan hidup hingga tahun berikutnya atas izin Allah SWT.
وَالْمُكَفَّرُ: الصَّغَائِرُ الَّتِي لَا تَتَعَلَّقُ بِحَقِّ الْآدَمِيِّ، إِذِ الْكَبَائِرُ لَا يُكَفِّرُهَا إِلَّا التَّوْبَةُ الصَّحِيحَةُ. وَحُقُوقُ الْآدَمِيِّ مُتَوَقِّفَةٌ عَلَى رِضَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ صَغَائِرُ زِيدَ فِي حَسَنَاتِهِ. وَفِي تَكْفِيرِ هَذِهِ السَّنَةِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ لَا يَمُوتُ فِيهَا، وَفِي ذَلِكَ بُشْرَى
“Dosa yang dihapus oleh puasa tersebut adalah dosa-dosa kecil yang tidak berkaitan dengan hak sesama manusia. Adapun dosa-dosa besar, maka tidak dapat dihapus kecuali dengan tobat yang benar. Sedangkan hak-hak manusia bergantung pada kerelaan pemilik hak tersebut. Jika seseorang tidak memiliki dosa-dosa kecil, maka akan ditambahkan pahala kebaikannya. Dalam penghapusan dosa untuk satu tahun yang akan datang terdapat isyarat bahwa ia tidak akan meninggal pada tahun itu, dan dalam hal tersebut terdapat kabar gembira.” (I’anah ath-Thalibin [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 2, h. 300)
Waktu niat puasa Tarwiyah dan Arafah pada dasarnya sama seperti puasa pada umumnya.
Niat dapat dilakukan sejak malam hari setelah matahari terbenam hingga sebelum terbit fajar.
Meski begitu, niat puasa sunnah juga diperbolehkan pada siang hari selama seseorang belum melakukan hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
Namun, niat sejak malam hari tetap lebih utama agar pahala puasa diperoleh secara lebih sempurna.
نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”
Baca juga: Puasa Tarwiyah 2026 Jatuh pada Hari Senin, Bisakah Niatnya Digabung?
Puasa Tarwiyah dan Arafah menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh pada bulan Dzulhijjah.
Keduanya dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak ibadah, dan memohon ampunan atas dosa-dosa kecil.
Umat Islam juga dianjurkan memanfaatkan sepuluh hari pertama Dzulhijjah dengan berbagai kebaikan, seperti memperbanyak zikir, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan menunaikan ibadah sunnah lainnya.
Dengan memanfaatkan momentum ini, seorang muslim diharapkan dapat memperoleh keberkahan dan ampunan Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang