Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag Tinjau Progres Pembangunan Rumah Ibadah Lintas Agama di IKN

Kompas.com, 11 Januari 2026, 19:58 WIB
Khairina

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com-Menteri Agama Nasaruddin Umar meninjau perkembangan pembangunan fasilitas rumah ibadah di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Minggu (11/1/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Menteri Agama memastikan percepatan pembangunan sarana peribadatan yang dirancang sebagai pusat spiritual sekaligus simbol kerukunan umat beragama di IKN.

Nasaruddin menyampaikan bahwa saat ini proses konstruksi difokuskan pada dua bangunan utama, yakni Masjid Negara dan Gereja Basilika.

Baca juga: Kesiapan Masjid Negara IKN untuk Aktivitas Ramadan 1447 Hijriyah

Ia menegaskan, kawasan tersebut ke depan akan dikembangkan sebagai kompleks rumah ibadah lintas agama yang inklusif.

“Saat ini Masjid Negara dan Basilika sedang berproses, dan ke depannya seluruh rumah ibadah lintas agama akan dibangun dalam satu kawasan yang saling berdekatan,” ujar Nasaruddin.

Kepala Petugas Konstruksi, Evry, menjelaskan bahwa rumah ibadah bagi umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu dirancang berdampingan secara harmonis di kawasan IKN.

Evry menambahkan bahwa tahap awal pembangunan memang difokuskan pada Masjid Negara dan Gereja Basilika, namun rencana jangka panjang mencakup pembangunan klenteng besar, vihara, dan pura yang terintegrasi.

Baca juga: Masjid Negara IKN Siap Digunakan Menyambut Ramadan 1447 H, Kemenag Pastikan Fasilitas Lengkap

Progres Masjid Negara dan Gereja Basilika

Pembangunan Masjid Negara di IKN telah mencapai sekitar 90 persen dengan kapasitas hingga 60.000 jemaah.

Masjid tersebut dilengkapi menara minaret setinggi 99 meter yang melambangkan 99 nama Allah atau Asmaul Husna.

Sementara itu, pembangunan Gereja Basilika juga menunjukkan kemajuan signifikan dari sisi struktur dan desain arsitektur.

Dari tampak udara, bangunan Gereja Basilika dirancang membentuk simbol salib sebagai identitas visual utama.

Gereja ini memiliki kapasitas sekitar 1.600 umat dan dilengkapi fasilitas pendukung, seperti Wisma Uskup, Jalan Salib, Taman Goa Maria, serta Gedung Kolaborasi Lintas Agama.

Selain meninjau progres fisik, Menteri Agama turut memberikan masukan teknis dan estetika terhadap kedua bangunan tersebut.

Ia menyarankan penambahan ornamen dinding serta pengaturan pencahayaan artistik guna memperkuat nuansa spiritual di Masjid Negara maupun Gereja Basilika.

Baca juga: Ribuan Hafizah Berkumpul di Kendal, Menag Ungkap Besarnya Kebutuhan Guru Tahfidz Perempuan di Pesantren

Nasaruddin berharap seluruh fasilitas rumah ibadah tersebut dapat segera rampung dan dimanfaatkan oleh masyarakat serta pegawai di IKN.

Ia menilai keberadaan sarana peribadatan menjadi semakin penting menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

“Kami berharap pembangunan ini berjalan lancar dan segera selesai agar bisa dimanfaatkan masyarakat untuk beribadah dan memperkuat ukhuwah di lingkungan IKN,” ujar Nasaruddin.

Pembangunan kompleks rumah ibadah di IKN diharapkan menjadi representasi nyata visi Indonesia dalam menjunjung tinggi toleransi dan moderasi beragama di tengah pembangunan ibu kota baru.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com