Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

DSN MUI Bahas Emas Digital, Tegaskan Transaksi Tak Boleh Tanpa Emas Fisik

Kompas.com, 9 April 2026, 09:18 WIB
Add on Google
Khairina

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com-Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) tengah membahas fatwa terkait transaksi jual beli emas secara digital yang berkembang di masyarakat.

Pembahasan ini disampaikan oleh Ketua Badan Pengurus DSN MUI, KH Cholil Nafis, di tengah meningkatnya praktik jual beli emas berbasis online.

Fokus kajian mencakup aspek kesesuaian syariat Islam, termasuk keharusan keberadaan emas secara fisik dalam transaksi.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan praktik jual beli emas digital tetap sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Baca juga: MUI Masih Kaji Nisab Zakat 2026 Berbasis Emas 14 Karat Versi Baznas

Syarat Utama: Emas Harus Ada Secara Fisik

KH Cholil Nafis menegaskan bahwa DSN MUI mensyaratkan adanya emas fisik dalam setiap transaksi jual beli emas digital.

Ulama kelahiran Sampang, Madura, 1 Juni 1975 tersebut menyebutkan bahwa transaksi tidak boleh hanya berbasis digital tanpa kepemilikan emas yang nyata.

"DSN MUI akan mengkaji fatwa jual-beli emas secara digital. Kita mensyaratkan emasnya harus ada. Tidak boleh digital saja tanpa ada emasnya," kata Kiai Cholil, Rabu (8/4/2026), dilansir dari laman MUI.

Berbeda dengan Fatwa Bulion

Kiai Cholil menjelaskan bahwa pembahasan fatwa ini berbeda dengan Fatwa DSN-MUI Nomor 166/DSN-MUI/II/2026 tentang Kegiatan Usaha Bulion.

Menurutnya, konsep bulion berkaitan dengan perdagangan emas sebagai komoditas investasi.

Sementara itu, transaksi yang sedang dikaji DSN MUI merujuk pada praktik jual beli emas secara online oleh masyarakat.

"Kalau bulion itu kan emas diperdagangkan, emas pembelian. Kalau ini enggak, orang jual-beli emas dengan cara online. Nah kita mensyaratkan emasnya harus ada," ujarnya.

Baca juga: Nisab Zakat Penghasilan 2026: Setara Rp 91 Juta per Tahun, Kini Pakai Emas 14 Karat

DSN MUI Libatkan Bappebti dalam Pembahasan

Dalam proses kajian tersebut, DSN MUI juga melibatkan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Pada Selasa (7/4/2026), DSN MUI mengundang Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya ke Kantor DSN MUI di Jalan Dempo, Menteng, Jakarta Pusat.

Pertemuan ini bertujuan untuk mendapatkan penjelasan terkait mekanisme jual beli emas fisik secara digital.

Kehadiran Bappebti diharapkan dapat memperkuat dasar pertimbangan dalam penyusunan fatwa.

Baca juga: Fenomena Emas di Sungai Eufrat: Tanda Kiamat atau Sekadar Mineral?

Emas Digital Dijamin Ada Fisiknya

Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya membenarkan bahwa pihaknya memberikan penjelasan mengenai praktik jual beli emas fisik secara digital.

Penjelasan tersebut mencakup aspek kesesuaian transaksi dengan syariat Islam dan kaidah yang berlaku.

"Apakah emas fisik secara digital ini sesuai syariat Islam, kaidah Islam, sehingga nanti fatwanya bisa dinyatakan ini tidak ada unsur haram," ujarnya.

Tirta menegaskan bahwa perdagangan emas fisik secara digital tetap berbasis pada emas yang benar-benar ada.

Keberadaan emas tersebut juga dijamin oleh pemerintah dalam sistem perdagangan yang berlaku.

Ia juga menyebut bahwa dalam ekosistem jual beli emas digital telah diterapkan manajemen risiko.

"Jadi harapannya dengan penjelasan pada sore ini mudah-mudahan fatwa MUI nanti bisa segera dibahas dan kemudiaan bisa keluar fatwanya dari DSN MUI," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Gus Yahya Ingatkan Ancaman Krisis Minyak, Konflik Timur Tengah Bisa Guncang Indonesia
Gus Yahya Ingatkan Ancaman Krisis Minyak, Konflik Timur Tengah Bisa Guncang Indonesia
Aktual
Urutan Wali Nikah dalam Islam serta Syarat dan Penggantinya yang Sah
Urutan Wali Nikah dalam Islam serta Syarat dan Penggantinya yang Sah
Aktual
Gus Yahya: Indonesia Harus Jadi Sahabat Semua Negara di Tengah Konflik Timur Tengah
Gus Yahya: Indonesia Harus Jadi Sahabat Semua Negara di Tengah Konflik Timur Tengah
Aktual
 Hukum Tawaf dan Sa’i dengan Skuter bagi Jemaah Haji, Ini Penjelasan Ulama
Hukum Tawaf dan Sa’i dengan Skuter bagi Jemaah Haji, Ini Penjelasan Ulama
Aktual
PBNU Apresiasi Saudi dan Negara Teluk yang Tak Balas Serangan Iran
PBNU Apresiasi Saudi dan Negara Teluk yang Tak Balas Serangan Iran
Aktual
Yahya Cholil Temui Dubes Iran hingga AS, Bahas Konflik Timur Tengah
Yahya Cholil Temui Dubes Iran hingga AS, Bahas Konflik Timur Tengah
Aktual
PBNU Apresiasi Gencatan Senjata AS-Iran, Serukan Hentikan Perang Timur Tengah
PBNU Apresiasi Gencatan Senjata AS-Iran, Serukan Hentikan Perang Timur Tengah
Aktual
Uang Saku Jamaah Haji 2026 Cair Sebesar 750 Riyal Per Jamaah, Ini Rincian Dan Penggunaannya
Uang Saku Jamaah Haji 2026 Cair Sebesar 750 Riyal Per Jamaah, Ini Rincian Dan Penggunaannya
Aktual
Calon Haji Wajib Tahu, Ini Latihan Fisik agar Kuat Jalan 15 Km di Tanah Suci
Calon Haji Wajib Tahu, Ini Latihan Fisik agar Kuat Jalan 15 Km di Tanah Suci
Aktual
Kisah Urwah bin Udzainah: Saat Tawakal, Ternyata Rezeki Datang Tanpa Diduga
Kisah Urwah bin Udzainah: Saat Tawakal, Ternyata Rezeki Datang Tanpa Diduga
Aktual
Jusuf Kalla Resmikan Masjid di Yokohama, Dorong Peran Masjid bagi Diaspora Indonesia
Jusuf Kalla Resmikan Masjid di Yokohama, Dorong Peran Masjid bagi Diaspora Indonesia
Aktual
Al-Baqarah 286: Ayat Penenang Saat Merasa Ujian Hidup Terasa Berat
Al-Baqarah 286: Ayat Penenang Saat Merasa Ujian Hidup Terasa Berat
Doa dan Niat
Doa Keluar Rumah: Amalan Agar Selamat dan Dijauhkan dari Kejahatan
Doa Keluar Rumah: Amalan Agar Selamat dan Dijauhkan dari Kejahatan
Aktual
Hujan Tak Kunjung Reda? Ini Doa Rasulullah yang Dianjurkan
Hujan Tak Kunjung Reda? Ini Doa Rasulullah yang Dianjurkan
Doa dan Niat
BPKH Sudah Transfer Rp 12,92 Triliun Dana Haji 2026, Likuiditas Dipastikan Aman
BPKH Sudah Transfer Rp 12,92 Triliun Dana Haji 2026, Likuiditas Dipastikan Aman
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com