Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mantan Jubir Gus Dur Dorong NU Perkuat Peran Global dan Respons Konflik Dunia

Kompas.com, 29 Agustus 2026, 11:19 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Mantan juru bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sastro Al Ngatawi, mendorong Nahdlatul Ulama (NU) memperkuat kiprahnya di tingkat internasional.

Menurutnya, penguatan peran global NU sejalan dengan upaya para pendiri organisasi dalam mengenalkan gagasan keislaman khas Nusantara ke dunia.

Baca juga: Drone Show Muktamar ke-35 NU Jombang Tampilkan Wajah Pendiri NU

Internasionalisasi NU Bagian dari Khittah Perjuangan

Sastro menilai internasionalisasi gagasan Islam Nusantara merupakan bagian dari khittah perjuangan NU yang telah dirintis sejak organisasi tersebut didirikan.

Salah satu jejak penting dari upaya tersebut, menurutnya, terlihat melalui pembentukan Komite Hijaz oleh KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah.

"Komite Hijaz itu kan sebetulnya internasionalisasi terhadap gagasan-gagasan tradisi pemikiran Islam yang ada di Nusantara," ujar Sastro di sela-sela Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026), seperti dilansir dari Tribunnews.

Baca juga: Agenda Penting Muktamar NU Malam Ini, Pemilihan Rais Aam dan Ketum PBNU

Menurut Sastro, terdapat dua tujuan utama dari internasionalisasi gagasan NU. Pertama, memperkenalkan kepada masyarakat dunia bahwa terdapat corak Islam yang tidak hanya identik dengan karakter Timur Tengah, simbolik, formal, maupun koersif.

"Tetapi ada wajah Islam yang lain, yaitu Islam NU yang ada di Nusantara," kata Sastro.

Tujuan kedua adalah memperluas kemaslahatan yang dihasilkan NU. Dengan jangkauan yang semakin luas, gagasan dan gerakan NU dinilai dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat di berbagai negara.

NU Dinilai Perlu Lebih Aktif Merespons Konflik Global

Sastro melihat peluang bagi NU untuk memperkuat kiprah internasional semakin terbuka seiring dengan kondisi geopolitik dunia yang tengah mengalami penataan ulang.

Momentum tersebut dinilai dapat dimanfaatkan NU untuk mengambil peran lebih besar dalam berbagai persoalan global.

Ia juga mendorong NU agar lebih aktif merespons konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Menurut Sastro, sejumlah persoalan yang terjadi di Indonesia memiliki keterkaitan dengan dinamika konflik internasional.

"Apa yang terjadi di Indonesia saat ini itu kan sebetulnya resonansi dari konflik global," ujarnya.

Karena itu, Sastro menilai NU perlu melihat persoalan global sebagai bagian dari hulu masalah.

Sementara di tingkat nasional, peran kiai kampung, pesantren, serta struktur NU dari tingkat pusat hingga ranting perlu diperkuat untuk menangani dampak persoalan tersebut di tingkat masyarakat.

Menurut Sastro, pembagian peran itu membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya mampu membangun dan menata sistem organisasi secara nasional, tetapi juga memiliki kapasitas untuk membawa kepentingan NU ke ruang global.

"Pemimpin ke depan saya pikir harus satu, memiliki kapabilitas leadership untuk melakukan penataan sistem pada level nasional. Dan memiliki kapabilitas untuk mengartikulasikan dan berkontestasi dalam masyarakat global internasional," jelasnya.

Sastro Nilai Gus Yahya Perkuat Peran Internasional NU

Sastro menilai sejumlah langkah Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan peran NU di tingkat internasional.

Ia mencontohkan sejumlah agenda global yang digalang Gus Yahya, termasuk Religion Twenty (R20) dan Fikih Peradaban.

Menurutnya, agenda tersebut turut meningkatkan perhatian masyarakat internasional terhadap NU.

"Kalau dari segi itu, iya saya melihat. Karena beberapa isu-isu internasional yang beliau galang terus itu, mulai dari R20, Fikih Peradaban, dan lain sebagainya, itu cukup membuat atensi dunia makin tertarik padanya," ujarnya.

Kepemimpinan NU Dinilai Tak Harus Bertumpu pada Satu Figur

Sastro memahami bahwa pembagian peran dalam organisasi dapat membuat Ketua Umum PBNU tidak selalu menjadi figur yang paling dikenal hingga tingkat akar rumput. Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak otomatis menunjukkan lemahnya kepemimpinan.

Sebaliknya, keadaan tersebut dapat mencerminkan adanya pembagian tugas dalam organisasi. Ketua umum tidak harus menjadi satu-satunya figur yang tampil dalam seluruh aktivitas NU.

"Makanya kalau orang NU ditanya, siapa Ketua PBNU? Banyak yang tidak tahu. Karena Ketua PBNU memang tidak harus tahu semuanya," katanya.

Ia menilai pola tersebut justru memperlihatkan pentingnya kepemimpinan yang berjalan secara kolektif, kolegial, dan sistemik. Dengan model tersebut, berbagai pekerjaan organisasi dapat dijalankan oleh banyak unsur dan tidak terpusat pada satu tokoh.

"Itulah yang disebut dengan kepemimpinan yang sistemik, kolektif, kolegial, dan sistemik. Sehingga yang menonjol, yang terkenal, yang bermain tidak hanya satu individu saja," ujar Sastro.

NU Dinilai Bisa Berperan Lebih Besar dalam Konflik Gaza

Mengenai konflik Gaza dan persoalan Palestina, Sastro menilai NU memiliki ruang untuk memainkan peran yang lebih besar.

Namun, ia menekankan pentingnya jaringan internasional sebagai modal untuk memperkuat posisi NU dalam isu tersebut.

"Kita itu bisa berperan, satu kan kalau punya network yang baik. Kalau kita nggak punya network juga nggak akan bisa berperan," katanya.

Selain membangun jaringan, menurut Sastro, NU perlu memiliki posisi yang cukup kuat sehingga diperhitungkan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam percaturan konflik global.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul "Mantan Jubir Gus Dur: NU Harus Perkuat Peran Global di Tengah Konflik Dunia".

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Baca tentang


Terkini Lainnya
Sholat di Kendaraan Saat Perjalanan, Kapan Diperbolehkan?
Sholat di Kendaraan Saat Perjalanan, Kapan Diperbolehkan?
Aktual
Orang Tua Kesulitan Ekonomi, Zakat Anak Tak Bisa Sembarangan Diberikan
Orang Tua Kesulitan Ekonomi, Zakat Anak Tak Bisa Sembarangan Diberikan
Aktual
Sholat Berjamaah Dimulai, Bolehkah Menyelesaikan Sholat Sunnah?
Sholat Berjamaah Dimulai, Bolehkah Menyelesaikan Sholat Sunnah?
Aktual
Tak Harus Menunggu Orang Tua Tiada, Ini Cara Berbakti Lewat Sedekah
Tak Harus Menunggu Orang Tua Tiada, Ini Cara Berbakti Lewat Sedekah
Aktual
Mengapa Bunuh Diri Dilarang dalam Islam? Ini Dalil Larangannya dalam Al-Qur'an dan Hadis
Mengapa Bunuh Diri Dilarang dalam Islam? Ini Dalil Larangannya dalam Al-Qur'an dan Hadis
Aktual
Dana Haji Rp185,73 Triliun, BPKH Soroti Tantangan Pengelolaan Jangka Panjang
Dana Haji Rp185,73 Triliun, BPKH Soroti Tantangan Pengelolaan Jangka Panjang
Aktual
Perbedaan Fajar Shadiq dan Fajar Kadzib yang Terkait dengan Awal Waktu Subuh
Perbedaan Fajar Shadiq dan Fajar Kadzib yang Terkait dengan Awal Waktu Subuh
Aktual
Apakah Ahli Waris Wajib Membayar Utang Orang yang Meninggal? Ini Penjelasannya
Apakah Ahli Waris Wajib Membayar Utang Orang yang Meninggal? Ini Penjelasannya
Aktual
Adzan Sebelum Masuk Waktu Subuh Disebut Apa? Ini Penjelasan Fungsi, Dalil, dan Hukumnya
Adzan Sebelum Masuk Waktu Subuh Disebut Apa? Ini Penjelasan Fungsi, Dalil, dan Hukumnya
Aktual
Mengapa Memuliakan Kaum Duafa Bisa Menjadi Jalan Pertolongan Allah?
Mengapa Memuliakan Kaum Duafa Bisa Menjadi Jalan Pertolongan Allah?
Aktual
3 Amalan Terpuji yang Justru Berujung Siksaan di Akhirat, Waspadai Riya
3 Amalan Terpuji yang Justru Berujung Siksaan di Akhirat, Waspadai Riya
Aktual
PUI Kecam Serangan Houthi di Arab Saudi, Minta Pemerintah RI Lindungi Jemaah Umrah
PUI Kecam Serangan Houthi di Arab Saudi, Minta Pemerintah RI Lindungi Jemaah Umrah
Aktual
Rajin Beribadah, tetapi Mengganggu Tetangga? Ini Pesan Majelis Tabligh Muhammadiyah
Rajin Beribadah, tetapi Mengganggu Tetangga? Ini Pesan Majelis Tabligh Muhammadiyah
Aktual
Lukman Hakim Bicara Dakwah Damai di Ngruki, Apa Maksudnya?
Lukman Hakim Bicara Dakwah Damai di Ngruki, Apa Maksudnya?
Aktual
Menag Soroti Legalitas Ijazah Pesantren, Pastikan Pengakuan Lulusan
Menag Soroti Legalitas Ijazah Pesantren, Pastikan Pengakuan Lulusan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar