KOMPAS.com - Umair bin Wahb Al-Jumahi merupakan salah satu tokoh Quraisy yang kemudian memeluk Islam setelah sebelumnya menjadi penentang Nabi Muhammad SAW.
Perubahan sikapnya berlangsung setelah Perang Badar, ketika kekalahan kaum Quraisy memperbesar permusuhan terhadap kaum Muslimin.
Kisah keislaman Umair dikenal melalui literatur sirah Nabi, termasuk riwayat yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Ishaq dan dicatat Ibn Hisyam.
Sementara itu, Ibn Sa'd dalam At-Ṭabaqāt al-Kubrā dan Ibn Hajar al-'Asqalani dalam Al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah menjadi rujukan penting untuk menelusuri identitas dan kedudukannya dalam sejarah para sahabat.
Umair bin Wahb berasal dari Bani Jumah, salah satu kelompok dalam suku Quraisy di Makkah.
Ibn Sa'd mencatat namanya dalam At-Ṭabaqāt al-Kubrā pada pembahasan tokoh-tokoh Bani Jumah. Ayahnya bernama Wahb bin Khalaf, sedangkan kunyah Umair adalah Abu Umayyah.
Baca juga: 5 Amalan Ringan Berpahala Besar yang Bisa Dibiasakan Setiap Hari
Sebelum memeluk Islam, Umair berada di pihak Quraisy yang memerangi kaum Muslimin.
Namanya berkaitan dengan Perang Badar, pertempuran yang berakhir dengan kekalahan Quraisy dan penawanan sejumlah tokohnya.
Peristiwa itu menjadi latar penting bagi kisah perubahan sikap Umair terhadap Nabi Muhammad.
Kekalahan Quraisy dalam Perang Badar menimbulkan kemarahan dan duka di kalangan tokoh Makkah.
Dalam kisah yang dicatat Ibn Hisyam dari tradisi sirah Ibn Ishaq, Umair digambarkan sebagai orang yang memiliki alasan pribadi untuk memusuhi kaum Muslimin karena putranya, Wahb bin Umair, menjadi tawanan setelah pertempuran tersebut.
Riwayat sirah itu juga menghubungkan Umair dengan Safwan bin Umayyah, tokoh Quraisy yang kehilangan kerabat dalam Perang Badar.
Keduanya disebut membicarakan kekalahan Quraisy dan kemungkinan membalas kematian orang-orang mereka.
Baca juga: Bolehkah Menangisi Orang yang Sudah Meninggal? Ini Penjelasan Islam
Kisah percakapan tersebut berasal dari literatur sirah, bukan hadis dalam kitab Sahih al-Bukhari atau Sahih Muslim.
Karena itu, rincian percakapannya perlu dipahami sebagai bagian dari riwayat sejarah, bukan diperlakukan sebagai sabda Nabi atau peristiwa yang otomatis memiliki derajat hadis sahih.
Dalam riwayat sirah tersebut, Umair kemudian berangkat ke Madinah dengan membawa pedang. Safwan disebut menanggung utang Umair dan menjamin keluarganya sebagai bagian dari kesepakatan yang berkaitan dengan rencana membunuh Nabi Muhammad.
Setibanya di Madinah, kedatangan Umair menimbulkan kewaspadaan di kalangan kaum Muslimin.
Umar bin Khattab mengenalinya sebagai salah seorang tokoh Quraisy yang memusuhi Islam. Umair kemudian dibawa menghadap Nabi Muhammad.
Baca juga: Memaknai Sumpah Pemuda, Kuasai Teknologi Tanpa Meninggalkan Adab
Bagian ini menjadi titik penting dalam kisah keislamannya. Riwayat sirah menggambarkan bahwa Nabi mengetahui pembicaraan yang sebelumnya dilakukan Umair bersama Safwan.
Umair kemudian menyadari bahwa rencana yang ia rahasiakan telah diketahui Nabi dan akhirnya menyatakan keislamannya.
Setelah memeluk Islam, Umair tidak lagi berada di pihak yang memusuhi kaum Muslimin. Kisah sirah menyebutkan bahwa ia kembali ke Makkah dan mengajak orang-orang menerima Islam.
Namun, rincian mengenai jumlah orang yang masuk Islam melalui ajakannya tidak bisa dipastikan tepat jumlahnya.
Perubahan Umair memperlihatkan pergeseran sikap dari permusuhan menuju penerimaan terhadap ajaran Nabi Muhammad.
Baca juga: GP Ansor Apresiasi Polri Ungkap 10,5 Ton Narkoba, Desak Sindikat Asing Dibongkar
Umair bin Wahb dikenang sebagai tokoh Quraisy yang kemudian menjadi sahabat Nabi setelah sebelumnya berada di pihak penentang Islam.
Kisahnya menunjukkan bahwa sikap seseorang dapat berubah seiring pengalaman dan perjumpaan dengan pandangan yang sebelumnya ia tolak.
Dalam penulisan sejarah sahabat, kisah perubahan Umair juga mengingatkan pentingnya memeriksa asal riwayat.
Karya Ibn Sa'd dan Ibn Hajar membantu menelusuri identitasnya, sedangkan literatur sirah memberikan konteks tentang perjalanan menuju keislamannya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.